Let's Get Lost: Civil Social Care (Bromo-2)

by - July 23, 2015

Naaahhh keesokan harinya kami rombongan dari Surabaya pamit pulang karena acara sudah selesai. Seperti sebelumnya, aku sama temenku yang mabok naik bus pulang naik kereta pisah dari rombongan yang naik bus. Setelah rombongan yang lain pulang kita berdua diantarkan panitia menuju stasiun jember. Selama diatas motor aku takjub juga liat pemandangan sekeliling. Aku baru sadar ternyata Jember kota kelahiran Anang Hermansyah ini bagus juga. Masih asri. Soalnya kan kemaren sampenya disini pas malem jadi nggak begitu merhatiin. Sepanjang perjalanan pemandangannya masih hijau. Nggak kayak Surabaya yang kanan kirinya sudah menjadi gedung menjulang. Alhasil mataku jelalatan liat sekeliling dan nggak lupa menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk persiapan balik ke kota yang berpolusi (ugh). Sesampainya kita di stasiun, kita nyetak tiket. Karena kelaperan dan belom waktunya masuk kereta, kita cari makanan disekitar stasiun. Ternyata sama juga kayak Surabaya, pada belom banyak warung yang buka. Huft. Tapi, untungnya ada 1 yang buka dan kita pun bergegas menuju kesana. Alhamdulillah waktunya makaaannn.

Setelah perut kenyang hati senang, kita mutusin buat nunggu didalem stasiun. Beberapa lama kemudian, kereta kita pun datang. Probolinggo! Yep! Kita emang mutusin buat nggak langsung pulang Surabaya aahhaha. Anggep aja penebusan karena nggak bisa ikut temen-temen kampus ke papuma hehe *pembelaan. Kita masuk kereta dengan hati riaang juga galau. Karena sejujurnya dari lubuk hati terdalama...... kita nggak punya tujuan.... guys.... Nyasar-nyasar deh hahaha. Tak apalah, hidupkan hanya sekali (YOLO). Semua rasa gelisah itupun lenyap seketika saat pemandangan diluar menawarkan dan menjanjikan keasrian. Hmmm, tinggal menunggu waktu saja semua tumbuhan ini akan dicabut sampai akarnya dan berganti didirikan gedung diatas tanah itu. Hhh karena manusia toh nggak pernah puas (?) okay back to story.

Sambil mikir-mikir mau ngapain dan kemana kita sampai di probolinggo eehhh udah sampai aja. Ini pertama kalinya aku aku ke probolinggo. Naik kereta. Berdua aja. Kita sampai sekitar jam 11an siang waktu probolinggo. Begitu keluar stasiun ternyata sepi ya kotanya. Untungnya didepan stasiun kita langsung disambut oleh alun-alun. Jadi perut yang udah sendaritadi keroncong bisa terisi segera. Di depan alun-alun kita sempet liat 2-3 bule berdiri didepan tourism information (TI). Mungkin mereka mau ke Bromo. Well, karena setauku cuma itu aja yang terkenal dan deket sekitaran sini hehe.

Setelah makan dan sholat, akhirnya kita pun mutusin buat nanya-nanya ke tourism information tadi. Dan ternyata ada lumayan banyak wisata di Probolinggo ini. Kayak misalnya
    1) Pantai Bentar. (Disini kata mas-mas TI kita bisa liat hiu tutul. Wew, kebetulan banget aku belom pernah liat.)

source : mbah gugel 


    2) Gunung Bromo. (Terakhir kali aku kesini pas aku SD huhu lama banget kan ya.)

bagus banget ya! source : mbah gugel 

    3) Air Terjun Madakaripura
source : mabh gugel
    4) Arung Jeram Sungai Pekalen


source : mbah gugel 

    5) Candi Jabung

source : mbah gugel 

    6) Gunung Argopuro. Mendaki. Yap disini kita bisa mendaki. Tapi, untuk sekarang mungkin ini tidak bisa dilakukan dengan cara mendadak. Jadi, next.

source : mbah gugel 

    7) Pulau Gili Ketapang dst.

source : mbah gugel 
                                       


Semua itu nampak menggiurkan. Tapi kita terkendala 1 masalah. Tranportasi. Buat sampai ke tempat-tempat tersebut kalau naik bemo (angkot) bisa oper operan berkali-kali. Dan bisa jadi gak ada bemo ke tempat itu kita harus jalan kaki yang lumayan jauh. And finally, kita pun mutusin buat ke Bromo aja. Soalnya itu yang transportnya jelas ada. Kata masnya angkot terakhir yang kearah bromo jam 3 sore. Aku ngelirik jam tangan, Jam 2. Alhasil kita pun buru-buru cari angkot didepan stasiun. Kita turun diterminal bus dan jalan kaki sebentar cari elf-elf yang nunggu penumpang buat diangkut ke Bromo. Rata-rata elf ini nunggu sampai 15 penumpang baru akhirnya berangkat dengan biaya perorang 30-45 ribu.

Dan kita pun join sama sebuah elf yang sudah mengantri 2 bule (laki-laki dan perempuan) dari jerman yang udah nunggu 2-3 jam dan 2 mahasiswi Bandung yang udah nunggu sekitar sejaman. Wow ini bule kasian banget. Apalagi pas liat mereka bercucur keringat dan muka merah merah kayak kepiting. Disinilah kemudian terjadi permainan birokrasi. Jadi, karena 2 pemudi Bandung ini pengen banget berangkat, tapi si abang sopir nggak mau berangkat sebelum uang setorannya penuh, mereka berdua berusaha membujuk kami (aku dan parterku) buat kerjasama 'bernegosiasi' dengan bule itu. Sebenernya aku nggak setuju sih. Karena yaa itu nggak adil aja buat si bule. Walaupun semisal mereka kaya dan mata uang mereka lebih besar, tetep aja nggak adil. Karena aku disuruh ngomong sama si bule, dan aku nggak ngerti gimana cara 'bernegosiasi' yang baik, alhasil si bule nggak terima. Berargumenlah si bule dengan si pak supir. Aku sempet liat ekspresi si bule perempuan kecewa berat sama 'negosiasi' kita. Dia curhat ke kita 'tadi saya nggak dikasih harga segitu. orang yang mengantarkan saya begitu baik' dengan muka sedih.



Aku pun seketika tersadar, Ternyata beginilah negeriku. Hhh ini bisa jadi image yang buruk dimata bule itu. Dan yang lainnya. Apalagi kalau mereka cerita ke kerabat mereka. Puft.
Akhirnya kita pun nunggu lagi. Sampai akhirnya datanglah 4 bule dan akhirnya sepakatlah harga dengan si supir. Harga sama rata. Alhamdulillah berangkat juga. Here we go!!!

Bersambung~

You May Also Like

0 comments