Dear, Nathan

by - March 25, 2017

Cuaca Surabaaya kali ini adem anyem. Tumben-tumbenan nggak panas gitu. Alhamdulillah yaaa. Btw baru hari ini aku ngerasa bisa santai gitu dirumah. Seriusan deh. Kayak nggak kerasa kalo hari sabtu gitu biasanya. Soalnya ada aja yang harus dikerjain #lebay. Oh iya, berhubung ini malem Minggu dan aku juga nggak ada niatan buat keluar (bukan karna efek jomblo kok haha), jadi aku mau review novel yang baru aku baca aja.




Yep. Kali ini aku mau mereview novel "Dear, Nathan" karya Erisca Febriani. Novel ini bergenre fiction romance. Tapi, nggak melulu cinta-cintaan kok. Justru dia lebih ke niali persahabatan dan kekeluargaan. Ada 520 halaman yang terbagi menjadi 31 chapter. Novel ini termasuk novel baru, baru tahun lalu hehe. Dan ternyata, udah 3 kali cetakan lho. Cetakan pertama bulan Maret 2016. Pas banget kan setahun lalu. 

Semuanya berawal dari kepindahan Salma dari Bandung ke Jakarta. Dulu di Bandung, mayoritas teman salma adalah anak baik-baik alias pada alim semua. Beda 180 derajat dengan kenyataan yang dihadapinya di sekolah barunya ini. Di Jakarta, cewek yang teramat lugu ini bersekolah di SMA Garuda, salah satu SMA favorit di Jakarta. SMA Garuda ini bisa dibilang sekolah yang merubah kehidupan Salma, karena mayoritas siswanya adalah anak-anak yang sukanya cari ribut. Tawuran khas anak putih abu-abu. 

Pada suatu ketika, Salma datang terlambat ke sekolah. Dan itu hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Salma pun sangat ketakutan sekaligus bingung apa yang akan dia lakukan. Di situlah ia bertemu pertama kalinya dengan Nathan. Cowok yang paling petikilan di sekolah. Dari pertemuan itulah semuanya bermula, Kehidupan Salma yang adem anyem pun mulai berubah perlahan. 

Nathan sendiri tak mengira akan jatuh cinta pada Salma, Murid baru yang ternyata belum pernah pacaran. Nathan yang walaupun petikilan di sekolah tapi bisa luluh juga sama keluguan Salma. Nathan emang sosok badboy, tapi dia bukan playboy. Banyak cewek yang tergila-gila sama Nathan. Mulai dari kelas sepuluh-dua belas. Tapi, sayangnya Salma yang polos tak kunjung sadar hingga membuat Nathan mulai merasa jemu untuk mengejar. Dia berpikir terlalu memaksakan Salma. Hingga akhirnya Nathan memutuskan untuk menjaga jarak dengan Salma. 

“Dan seandainya pemilik hati kamu adalah saya, ke mana pun kamu pergi, hati itu pasti akan balik kepemilik sejati dan Tuhan punya seribu satu cara untuk mendekatkan kita lagi. Tapi kalau bukan milik saya? Tuhan juga punya banyak cara untuk nemuin kamu dengan yang lain." - Nathan 


Ternyata dibalik tingkah petikilan Nathan, banyak tersembunyi rahasia besar. Nathan memiliki masalah keluarga yang rumit. Pertikaian dengan Ayahnya, Ibunya yang desprate karena anaknya (kembaran Nathan, Daniel) meninggal, dan sahabatnya yang pergi. 

Aku suka banget sama novel ini daaaannn kagum sama Erisca yang bisa bikin aku jatuh cinta sama sosok Nathan. Aku sampe bayangin ada sosok Nathan di dunia nyata ehehe. Ceritanya dikemas renyah jadi bikin nagih baca tiap halamannya. Awalnya aku kira tokoh utamanya adalah Salma, tapi ternyata malah Nathan yang jadi sumber cerita. Nathan yang masih kelas sepuluh ini orang yang berprimsip dan sangat menghargai perempuan. Walaupun dia nakal, tap menurutku itu masih batasan wajar anak putih abu-abu. Justru bakalan garing banget kalo anak SMA kalem-kalem aja. 

Sebenernya dari cerita ini aku bisa ambil banyak hikmah. Kayak, kita nggak boleh asal menilai orang. Walaupun dia anak nakal sekalipun, kita kudu paham sebab dia bertingkah seperti itu, Karena aku rasa banyak faktor penyebabnya. Dan kita nggak bisa langsung mem-blok orang tersebut tanpa mengenal terlebih dahulu. Kalo dicerita ini kayak tokoh Nathan yang kelihatannya urakan tapi berprinsip dan apa adanya. Walaupun kaya juga nggak sombong. Ganteng juga nggak playboy. Nggak kayak Aldo si ketua osis yang kelihatannya cowok idealnya cewek-cewek sma (pinter, ramah, bijaksana, dll) tapi ternyata bisa melakukan hal nggak senonoh di ruang osis.  

Di novel ini ada karakter Dinda, senior Nathan anak kelas duabelas, yang tergila-gila sama dia. Dinda sampe bela-belain berkorban banyak supaya Nathan suka sama dia. Tapi hasilnya nihil. Dinda sangat amat desprate waktu tau Nathan jadian sama Salma. Ada kata-kata yang aku suka banget pas mereka ngomong di bar. Kondisinya sih si Dinda mabuk berat nggak mau pulang karena patah hati. 

“Kalo ada cowok yang jatuh cinta sama penampilan. Itu bukan cinta, itu nafsu. Lo tau anak remaja seumuran kita gini lagi masa-masanya darah muda, hormonnya lagi tinggi dan meledak-ledak. Dan lo cewek. Hargai diri lo sebagai cewek, lo perawatan, beli parfum, berusaha diet, semuanya buat gue? Kalau gitu lo salah.” Nathan berkata dengan nada ironis. “Cewek itu takdirnya dikejar, bukan mengejar. Lo sempurnain diri lo sebaik-baiknya. Perawatan sebagai tanda kalau lo sangat menghargai diri lo sendiri sebagai seorang cewek, bukan karena gue.”

Kata-kata ini bener banget. Pada dasarnya perempuan itu emang kudu bisa menghargai dirinya sendiri. Bukannya dia merawat diri untuk orang lain. Justru kita bisa melihat orang lain bisa menghargai sesamanya dari caranya menghargai dirinya sendiri. Karena kalo sama dirinya sendiri aja cuek, gimana mau peduli sama yang lain. Iya nggak sih?

Aku salut banget sama karakter Nathan. Yang walaupun anak nakal tapi dia nggak pilih-pilih. Bahkan bisa dibilang humble juga. Dia aja bisa temenan dan ramah sama penjual ketoprak (dia nggak malu lho makan dipinggir jalan padahal dia juga kaya). Yang kayak gini ini pantes dijadiin contoh (menurutku sih). Karena nggak banyak orang yang mau down to earth. Terlalu mengkotak-kotakkan kasta gitu. 

Di cerita ini kita juga bisa belajar bagaimana cara menghargai apa yang kita miliki. Nathan nyatanya hanya tinggal seorang diri dirumah ditemani oleh pembantunya. Kembarannya meninggal waktu mengikutinya tawuran dan itu membuat ibunya jadi nggak waras. Dengan kondisi seeperti ini, ayahnya memilih mengasingkan ibunya ke paviliun dengan seorang perawat saja. Dan ayahnya memutuskan untuk menikah lagi dan tinggal dirumah yang berbeda dengan Nathan. Tapi, pada akhirnya Nathan dan ayahnya sadar bahwa mereka hanya memiliki satu sama lain. Saling memaafkan merupakan kunci keharmonisan hingga mereka berdua daapat berkumpul kembali.

Overall novel ini recommended banget yaaa. Alurnya sih aku suka, yang bikin kurang pas itu tata bahasanya. Ada beberapa yang nggak cocok sih menurutku. Kayak cara ngobrol Nathan sama Salma 'saya-kamu' aneh aja gitu. Kenapa nggak 'aku-kamu' kan lebih cocok. Trus ada juga beberapa yang nggak nyambung kayak kebalik-balik bahasanya. Sayang aja, padahal ceritanya udah bagus dan karakternya juga kuat.

Baiklaaah sekian dulu. Karena sekarang lagi hujan dan aku mau menikmati suasana hujan eheehe.
Bye!

You May Also Like

0 comments