Berbuka dengan Cerita Nostalgia

by - June 18, 2017

Belakangan aku memiliki misi kecil. Menjalin silahturahmi kembali dengan beberapa teman lama. Karna menurutku, sangat mudah untuk mendapatkan teman baru, bagian tersulitnya adalah mempertahankan hubungan pertemanan itu. Terlepas dari berbagai macam perbedaan. Ketidak cocokan sifat satu sama lain misalnya. Semakin beragam teman kita, justru itu akan menjadi lebih menarik. Perbedaan usia akan membuat kita lebih dewasa. Belajar banyak pada yang lebih tua. Perbedaan budaya akan membuat kita lebih berwawasan bahwa didunia ini tidak hanya ada 1 macam suku/ras. Perbedaan latar belakang sosial akan membuat kita lebih menghargai sesama dan tentunya lebih bersyukur mengenai apa yang kita miliki. Sekecil dan sesimple apa pun itu.

Hari jumat kemarin, aku kedatangan teman lama. Teman semasa putih abu-abu di Balikpapan. Sebenarnya dia kuliah tidak jauh dari Surabaya sih, hanya saja baru kali ini ada kesempatan untuk bertemu. Dia kuliah di Malang. Dia ke Surabaya karna akan pulang ke Balikpapan. Transit. Karna flight malam, jadinya sore hari kami janjian untuk bertemu. Sebenanrnya aku sangat lelah dan ingin menolak, tapi aku berpikir kapan lagi bisa bertemu? Belum tentu ada kesempatan yang sama.

Judulnya sih buka puasa bersama. Sebenarnya kami berlima, tetapi yang bisa hanya 4 orang saja. Itu pun sebenarnya kami tidak bertemu secara langsung berempat.

Jadi, kami janjian bertemu di salah satu mall Surabaya sore hari, jam 5. Karena aku baru keluar kantor jam 4 lebih dan bawaanku sangat ribet, aku memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Entah mengapa sepanjang perjalanan pulang jalanan sangat amat padat. Macet parah. Mungkin karena hari Jumat dan sudah mendekati libur lebaran. Perjalanan pulang yang biasanya hanya kutempuh 30 menit, saat itu menjadi 1 jam. Melelahkan sekali. Untungnya aku tidak berpuasa saat itu hehe. Sesampainya dirumah aku bersiap siap untuk pergi lagi. Aku sedikit tergesa-gesa karna teman-teman sudah menungguku. Baiklaaah aku meluncuuurr!!

Jauh dari perkiraaan awal, aku kira jalanan setelah maghrib akan lenggang. Ternyaata tetap saja sepadat tadi. Harusnya 15 menit aku sudah sampai, kali ini memakan waktu 30 menit. Aku tiba di tempat janjian jam 7 malam, setelah nyasar ke lantai paling atas padahal tempat makannya ada di lantai dasar (melelahkan huh? Yaaa secara aku juga bukan anak mall hehe jadi maklum nggak hafal) dan saat aku tiba ternyata mereka sudah berpindah tempat lagi huhu. Akhirnya kami bertemu!

Hanya bertiga? Salah satu temanku sudah pulang duluan karna ada acara. Hmm, maafkan aku. Dan saat aku tiba pun salah satu temanku juga pamit undur diri karena ternyata temannya datang kerumahnya. ‘Jadi aku dateng buat nganterin kamu pulang, De?’ begitu ceplosku. Ah, memang salahku sih harusnya aku tadi tidak pulang terlebih dahulu. Akhirnya tinggal kami berdua. Aku dan temanku yang dari Malang. Dia tidak sendirian ke Balikpapan. Dia bersama temannya, tetapi temannya masih berbelanja jadi aku menemaninya hingga temannya itu selesai berbelanja.

Kami ngobrol di food court. Mulai dari menanyakan kegiatan masing-masing hingga beberapa celetuk masa lalu. Lucu rasanya saat mengingat beberapa kejadian semasa putih abu-abu. Ah, masa-masa polos itu. Masa dimana aku baru mengenal dunia luar (karena dari lahir aku tinggal di Surabaaya dan baru kali itu aku menetap di luar pulau).

Hingga temanku menyeletuk, “Iya eh Mer, kemarin yang aku putus sama mantanku yang di Malang itu rasanya tergalau sudah. Aku sampai googling gimana caranya move on” spontan aku tertawa terbahak. Baru kali ini aku mendengar pengakuan seorang teman mengenai cara dia mengatasi kegalauan dengan mencari tau di google. Haha. Aku paham betul bagaimana rasanya, karna aku juga pernah mengalaminya. Hey, aku pernah muda dan merasakan dilanda kegalauan perihal 'perasaan'. 

Pointnya adalah menyibukkan diri, begitu yang dia dapat dari mbah google. Aku setuju sekali karna itu memang ampuh. Dia menyibukkan diri dengan berbisnis kecil-kecilan, berbisnis online. Berjualan jilbab dan mukenah. Laki-laki jualan barang perempuan? Noprob kok. Dengan berjualan online otomatis dia sibuk membalas chat-chat customer yang tertarik untuk membeli. Dan perlahan-lahan dia akan terbiasa dengan kesibukan barunya dan melupakan sakit hatinya. Foalaa, dan itu berhasil untuknya. Setelah ia merasa tak galau lagi, ditinggallah bisnis online itu. 

Aku sedikit menyanyangkan mengapa ia tinggalkan kegiatan itu. Toh itu kegiatan positif. Lumayan juga kan menambah uang sakumu tanpa meminta orang tua. 

Lalu kami kembali bercerita mengenai perubahan beberapa teman. Ada yang semakin baik ada juga yang tetap begitu-begitu saja. Perubahan itu jelaslah perlu, kearah yang lebih baik tentunya. Disini aku berkaca, bagaimana dengan aku? Perubahan apa yang sudah aku lakukan? dan kearah yang lebih baikkan perubahan itu? 


You May Also Like

1 comments

  1. setuju dengan cara move on nya...
    untuk tata bahasanya sih udah bagus.. pemilihan katanya juga oke..
    over all menarik lah...
    tingkatkan lagi potensimu..
    wkwkwkwkwkwkwwkwkwkwkwkwkwkwkwk

    ReplyDelete