Diskusi Senja

by - June 17, 2017

Bermula dari ajakan seorang teman untuk bertemu, buka puasa bersama. Baiklah aku mengiyakan. Sekaligus aku mencoba mengajak beberapa teman yang sekiranya bisa hadir. Minggu-minggu ini memang kita disibukkan dengan banyak hal yang berbeda. Sehingga sulit untuk kita bertatap muka. Untungnya di era globalisasi yang serba canggih ini, teknologi sangat membantu. dalam hal ini teknologi, media sosial, bernilai positif. Tetapi tetap saja tidak dapat menggantikaan hasrat lega sebuah pertemua. Video call sekalipun.

Aku melirik jam berulang kali tak sabaran. Waktu berjalan begitu lama. Angka 4 adalah angka favoritku di bulan ramadhan ini. Dua jam lagi. Baiklaaahhh. Aku berusaha mengerjakan pekerjaanku dengan relax agar waktu berjalan cepat. Kulirik jam di komputer, pukul 4. Aku tersenyum dan bergegas merapikan meja. ‘mbak, mas, balik dulu ya’.

Aku membuka maps, bener nggak sih ini jalannya. Zoom in zoom out. Menelisik jalan yang harus dilewati. Mengamati nama jalan dan beberapa patokan. Kunyalakn mesin motor kembali. Oh disini tempatnya. Selang beberapa detik temanku datang. Mustofa. Kami pun duduk dan menunggu beberapa teman lainnya. Beberapa menit sebelum jam berbuka, salah satu teman kami datang. Bayu. Kami mengobrol basa basi. Menanyakan kabar masing-masing selama tak bertemu. Terutama Mustofa yang sudah lulus duluan (Mei 2017). Semenjak wisudanya aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Karna dia bekerja dan belakangan dia disibukkan merawat ibunya yang sakit. Otomatis dia balik ke Malang. Yap, dia orang Malang. 

Sampai jam berbuka tiba, akhirnya Dewi pun datang. Jefri memberi kabar kalau ia tak dapat datang. Baiklaaahh kami berempat pun mulai makan. Sebenarnya kami bertiga sudah selesai makan dan pesanan Dewi lama sekali datang haha. Kasihan. Setelahnya kami sholat dimasjid terdekat. 

Seusai sholat aku masih ingin berbincang-bincang, maka kami memutuskan untuk mencari tempat untuk mengobrol. MilkMe. 
Disinilah diskusi kami bermula. Entah siapa yang memulai, kami mendiskusikan mengenai agama. Menurut perspektif kami masing-masing. 
Mulai dari pertanyaan umum apa benar islam itu agama yang paling benar, bagaimana sih wujud tuhan kita, hingga pertanyaan bagaimana sih taaruf yang benar?
Ada beberapa pendapat yang masih mengambang. Aku belum puas mendengar beberapa jawaban. Disini aku merasa haus dan sangat kurang. Haus akan jawaban yang dapat dijelaskan dengan gamblang. 

Cieee lagi ngikutin tren #pemudahijrah ya? 
Nggak dong. ini mah bukan ngikutin tren. Ini beneran cari jawaban dari setiap pertanyaan yang asal muncul aja di kepala. 
Sebelumnya aku beberapa kali ikut kajian. Tetapi, entah mengapa rasanya belum ada yang cocok. Tidak sesuai dengan nalarku. Ternyata sangat susah sekali mencari jawaban yang sesuai. 

Tidak terasa jam menunjukkan pukul stgh 10 malam. Akhirnya kami pun beranjak. Aku harap ada #DiskusiSenja berikutnya. 


You May Also Like

0 comments