Travelling Bukan Sekedar Jalan-Jalan

by - December 06, 2017

Kebanyakan dari kita kalo diajak jalan-jalan pasti seneng banget. Tapi tau nggak sih kalo travelling itu bukan sekedar seneng-seneng liat-liat pemandangan alam yang belom pernah kita liat. Atau jalan-jalan ke tempat-tempat yang kekinian biar dianggep gaul. Trus segampang itu menyandang gelar taveller?

Kalo bagiku pribadi, jalan-jalan itu ajang refleksi diiri. Dimana kita keluar dari zona nyaman kita dan ketemu banyak hal baru dan orang baru. Dari orang-orang baru itu kita bisa belajar bagaimana berkominikasi dengan orang yang berbeda dengan lingkungan sosial kita sehari-hari. Belajar dari pengalaman mereka mengenai banyak hal. Belajar bagaimana lebih memaknai hidup. Mengahrgai orang lain yang belum pernah kita kenal sebelumnya. Atau bahkan bisa jadi pada saat yang lalu kita pernah merendahkan hidup seseorang. Dan terlebih selain itu semua yang terpenting adalah belajar mendekatkan diri dengan Sang Pencipta dengan bersyukur atas kehidupan yang kita miliki.

Semakin jauh seseorang melangkahkan kakinya, seharunya orang tersebut semakin kaya akan ilmu kehidupan. Karna dia telah melihat banyak hal yang orang lain belum tentu bisa melihatnya. Karna toh buat apa kamu jalan-jalan jauh-jauh kalo yang kamu dapet Cuma pose foto bejibun dan Cuma sekedar capek? Travelling itu bukan soal pose didepan pemandangan alam yang epic. Bukan juga sekedar dapet barang oleh-oleh khas daerah tersebut. Melainkan membawa adat dan istiadat daerah tersebut dan juga mengaplikasikan kebaikan yang ada didalamnya kepada lingkungan sehari-hari kita.



Beberapa kali aku sering denger temen bilang ,”Orang yang terlalu sensitif itu mainnya kurang jauh”. Lantas orang yang mainnya jauh dianggep orang yang kebal akan guyonan yang sifatnya menghina.  Menurutku moto ini salah banget. Karena bagiku, semakin jauh seseorang berkelana dia akan lebih mengenal banyak sifat manusia yang beragam. Nah, dari pengetahuan yang beragam itu dia akan paham mengkondisikan diri untuk bersikap kepada orang lain. Atau bisa dibilang orang tersebut akan lebih peka atau sensitif. Sedangkan orang-orang yang berpendapat seperti moto diatas, kemungkinan besar dia adalah orang yang ingin diterima dengan keadaan diri sebagaimana adanya. Bisa jadi dia berpikir kalo ‘Ya aku memang seperti ini orangnya’. Padahal yang semestinya adalah seseorang itu berubah untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Bukan sebaliknya, lingkungan yang harus berubah mengikuti kebiasaan tingkah lakunya.

Yaaaa ini sih menurutku aja. Tiap orang toh tetep punya pandangan yang beda-beda J

You May Also Like

1 comments

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete