A. Menipu Tuhan

by - February 22, 2018

sumber : google


Setelah berbagai macam cara aku berusaha untuk merayu Tuhan, nyatanya Ia tak kunjung luluh. Aku bertanya-tanya, apa yang salah? Apakah ada yang tak sesuai kehendak-Nya? Apakah aku nampak kurang bersungguh-sungguh merayu-Nya? Ah, lantas apalagi yang harus kulakukan? Aku lelah! Tidakkah Kau ingat akan apa yang aku lakukan pada mereka?

Saat itu, tepat saat aku keluar dari mini market seusai membeli roti dan susu untuk sarapan, aku melihat seorang wanita paruh baya  disudut pelataran mini market. Bajunya nampak lusuh. Entah sudah berapa lama ia tak menggantinya. Kulitnya hitam legam pertanda ia bersahabat dengan terik matahari. Ia tak menggunakan alas kaki hingga hitam yang nampak pada jemari kukunya. Aku hanya berjarak beberapa langkah dari wanita paruh baya itu. Aku terdiam sesaat memperhatikannya. Kupandang belanjaan yang kutenteng. Apakah aku benar-benar membutuhkannya? Dengan cepat aku melangkahkan kaki mendekati wanita itu dan memberikannya kepada sang nenek sambil berdoa dalam hati. Tak lupa kuselipkan beberapa lembar uang. Ia tersenyum penuh haru memandangku. Aku pun berlalu.  

Kuinjak pedal rem dan menggeser persneling pada gigi netral. Kuraih ponsel yang tadi kuletakkan di kursi penumpang sebelahku. Aku membuka platform media sosial. Instagram. Wih, dimana nih kayaknya tempatnya enak deh. Seorang teman mengupload foto ia sedang makan siang di sebuh kafe kekinian di salah satu sudut kota. Disaat yang sama, seorang bocah laki-laki berusia sekitar 8 tahunan mengetuk jendelaku. Padanganku teralihkan padanya. Kuperhatikan wajahnya memelas. Tangannya menengadah mengharap belas kasih. Belum makan 3 hari mbak. Kasihan. Ucapnya entah sesuai dengan keadaannya atau hanya membual. Sekilas kulirik lagi foto makanan pada ponselku. Aku menarik beberapa lembar uang dari dompet. Kubuka jendelaku dan kuberikan padanya sambil berdoa dalam hati.

Aku melambaikan tangan pada temanku yang memasuki mobilnya dan berlalu. Aku mendengus mengingat harus berjalan kaki cukup jauh menuju tempat aku memarkir mobil. Seandainya saja mall sore ini tak sepadat ini, aku pasti mendapatkan tempat parkir didalam gedung. Ah, tak apalah hitung-hitung jalan-jalan sore. Kataku menghibur diri sendiri. Baru beberapa meter keluar gedung mall, aku mendapati seorang kakek yang berjualan mainan anak-anak. Aku memperlambat langkahku sambil memperhatikan kakek itu. Hari gini, mana ada anak kecil yang mau mainan kayak gitu. Yang ada mah mainan tablet. Kakek itu berusaha menawarkan dagangannya kepada seorang bocah laki-laki. Jangankan menoleh, kehadiran sang kakek pun mungkin bocah itu tak tahu. Bocah itu sedang asyik menatap layar ponsel yang ia genggam. Entah milikya atau milik orang tuanya. Aku mempercepat langkahku mendekati kakek itu. tersenyum dan mengatakan sesuatu pada sang kakek. Tak lupa aku berdoa didalam hati. Kakek itu sungguh senang bukan main.  

Saat sedang terjebak mancet sepert ini, seringkali aku berandai-andai dengan imajinasiku. Seandainya saja kota ini nggak macet. Nggak berpolusi. Banyak pohonnya. Orang-orang pada jalan kaki kemana-mana. Dan masih banyak lagi seandainya yang lain. Aku memperhatikan jalan raya yang sedang kulintasi ini. Jalan arteri yang sangat amat padat di setiap waktunya., terutama malam ini. Mungkin hanya senggang di tengah malam. Terdiri dari 4 lajur termasuk 1 lajur sepeda. Mataku terhenti kepada seorang gadis remaja didepanku. Dia terlihat kebingungan menatap sepeda motornya. Aku memutuskan untuk turun dan bertanya padanya. Ia kehabisan bensin. Seketika aku ingat pernah menonton video di youtube bagaimana cara mengambil bensin dari tangki mobil. Kulakukan hal yang sama dibantu seorang tukang parkir. Kupindahkan dalam botol dan menuangkannya pada tangki motor gadis itu. sekali lagi ia mencoba menyalakn motornya. Berhasil. Ia nampak lega bukan main dan berterima kasih kepadaku. Kuberikan beberapa uang takut ia kembali kehabisan bensin karna perjalanannya cukup jauh. aku mengucap doa dalam hati dan kembali masuk kedalam mobil.

Oh, jadi begitu? Kamu berusaha untuk menipu Tuhan? Kamu pikir, Tuhan tak tahu jika disetiap perbuatanmu itu kau lakukan dengan terpaksa? Berlagak ikhlas padahal mengharap kembali.

Seketika aku tersentak mendengar kata-kata yang menggema dalam kepalaku.

You May Also Like

0 comments