B. Gelang Biru Dongker

by - February 23, 2018


Pagi itu aku sudah duduk manis didalam kereta. Kulirik jam tanganku. Pukul 7 lebih 20 menit. Perjalanan kali ini tidak akan lama. Aku duduk menyandarkan punggungku lebih nyaman sambil melihat keluar jendela. Entah sudah perjalanan keberapa kali ini. Aku yakin petugas loket stasiun pastilah sudah hafal dengan wajahku dan jam kedatanganku. Tujuanku saja yang berbeda-beda. Kuraih telepon genggam yang ada didalam tasku dan menchargenya. Sepasang pemuda pemudi duduk dihadapanku sambil berbincang seru. Aku tebak usia mereka sekitar awal 20an. Aku tersenyum melihatnya. Dulu juga kau begitu, Sha, batinku.

Sejenak aku teringat kejadian lampau. Aku baru memasuki kereta. Pandanganku mencari-cari nomor seat yang dimaksud. Kubaca lagi pesan darinya untuk memastikan seat yang dimaksud. Mana ya? Tanyaku pada diri sendiri sambil terus melangkah. Ah, that’s it. Akhirnya aku menemukannya. Dia menoleh ke arahku sambil tersenyum melirik ke sebalah kirinya. Kubalas dengan tersenyum seakan mengatakan tak apa aku bisa duduk di bangku lain. Setelah mendapatkan tempat duduk, telepon genggamku berdering pertanda pesan masuk.

“Sorry nggak aku jagain tempatnya” katanya.

“Haha, nggak apa-apa masak iya kamu tega mau ngelarang ibu-ibu duduk disebelahmu” balasku. Seperti biasa, aku selalu duduk di dekat jendela. Tiba-tiba dia muncul duduk disebelahku sambil berkata

“Kok nggak bilang kalo sebelahmu kosong?” Tanyanya yang kujawab dengan senyuman.
Ah, waktu itu perjalanan pertama kami naik kereta ke tempat yang lumayan jauh. Aku sangat senang. Menghabiskan waktu dengannya membuatku candu. Kalau bukan karena tugas dari kampus aku rasa dia tak akan mau naik kereta.

            “Disini ada orangnya, Mbak?” Tanya seorang bapak-bapak padaku membuyarkan lamunanku.

            “Oh nggak, Pak. Silahkan” Kataku. Bapak itu langsung duduk dan menata barang bawaannya supaya ia bisa duduk nyaman.

            “Sendiri?” Tanya bapak disebelahku yang ternyata namanya Pak Atmo.

            “Hehe, iya pak. Bapak juga?” Balasku. Sebenarnya aku sedang tidak ingin berbincang dengan siapapun tapi aku rasa tidak sopan menolak ajakan berbicara seseorang. Apalagi dia lebih tua dariku.

Kami pun mengobrol ngalur ngidul. Itu sedikit mebantuku mengalihkan rasa yang sama setiap kali aku naik kereta. Tidak lama bapak itu ijin padaku untuk tidur karena dia tidak tidur semalam karna menjaga anaknya yang sakit. Sepasang pemuda-pemudi didepanku juga melakukan hal yang sama dengan bapak disampingku. Mereka tertidur dengan menggunakan earphone bersama.

Kupandang pepohonan yang ada diluar jendela. Aku teringat, saat itu kami mendapat tugas untuk survey disebuah desa. Tidak berdua. Beramai-ramai. Hanya berangkatnya saja yang kebetulan berdua naik kereta. Sesampainya dilokasi hari sudah petang. Aku, dia, dan Alma memutuskan untuk makan malam diluar basecamp. Selesainya kami makan, kami berjalan kembali ke basecamp. Tapi, ia menahanku untuk tetap bersamanya.

“Nanti dulu kembalinya”. Pintanya menarik lenganku. Alma sudah kembali terlebih dahulu karna lelah perjalanan jauh.

“Eh, lihat bintangnya keliatan jelas!” Aku menengadah terkagum-kagum. Saat itu kami dipinggir jalan, kami pun mencari tempat duduk yang layak untuk memandang langit. Aktivitas favorit kami. Saat melewati toko aksesoris, kami mampir sebentar. Aku tak begitu tertarik, ia yang bersemangat. Tak terasa kami mengobrol cukup lama hingga jam menunjukkan pukul 11 malam. Aku mengenakan gelang berwarna merah marun seperti yang ia kenakan yang ia beli di toko tadi.

Besoknya, kami bangun dan langsung bergegas bersih diri. Kegiatan survey dilakukan pagi ini. Kami berangkat beramai-ramai dengan mahasiswa lain menggunakan bus sewaan. Bus hanya mengantar kami sampai ujung jalan beraspal. Sisa perjalannya kami harus menaiki truck karena medannya yang tidak dapat dilalui bus. Semalam ternyata sempat hujan, hingga membuat jalanan licin. Aku menikmati pemadangan hijau kanan kiriku. Kapan lagi liat beginian, batinku. Kamu ada di truck yang lainnya. Hingga truck berhenti karna tidak bisa melewati medan sisa perjalanan. Kami harus berjalan kaki menaiki bukit dan melewati sungai. Kamu tiba-tiba sudah berjalan disebelahku.

“Nah, ndaki tuh sama kayak gini juga medannya” Kamu bercerita asik pengalamanmu mendaki beberapa hari lalu. Pengalaman pertamamu. Aku mendengarkan dengan seksama. Memperhatikanmu begitu antusias bercerita. Seperti seorang anak kecil yang diajak keliling kebun binantang. Aku tersenyum. Beberapa teman memanggilmu untuk membantu mereka melakukan sesuatu, kamu menoleh dan berpamitan kepadaku.

Aku ingat, saat itu musim hujan dipertengahan bulan Februari. Perlahan hujan mulai turun rintik-rintik. Aku bersama Alma berjalan beriringan. Aku sangat amat menikmati perjalanan seperti ini. Hingga aku tak sadar meninggalkan Alma dibelakangku. Ia nampak kelelahan.

“Nggak papa, Al?” Tanyaku cemas memeprhatikannya yang berusaha bernafas dengan normal.

“Aku nggak kuat, Sha. Susah banget buat nafas” Kata Alma sambil berpegangan pada lenganku. Tangannya bergetar. Seketika aku langsung memberitahu keadaan Alma kepada teman-teman yang lain. Melihat Alma kelelahan karna perjalan jauh semalam, akhirnya kami beristirahat di warung penduduk. Aku menemani Alma yang tidur di gubuk pemilik warung. Sedangkan teman-teman tetap menuju lokasi survey, kami diminta menunggu hingga mereka turun. Tak masalah buatku, asal tak ada korban di kegiatan ini.

Lamat-lamat memperhatikan hujan, aku pun perlahan mengantuk dan tertidur disamping Alma. Tiba-tiba aku merasakan tetesan air dipipiku. Saat aku membuka mata, kulihat gubuk ini bocor disana sini. Diluar hujan sangat deras. Angin bertiup kencang hingga gubuk yang kami tempati bergoyang-goyang. Alma terlihat kesulitan bernafas. Aku panik melihatnya begitu pucat terenggah-enggah. Kucoba membangunkannya sambil menyelimutinya dengan kain yang dapat kutemukan diranjang.

“Sha.... se...sak......” kata Alma terbata-bata. Aku segera mengambil minyak kayu putih dan menggosok-gosokan ke tangan dan kakinya. Aku tahu Alma tidak memiliki penyakit asma. Jadi hanya itu yang bisa kulakukan. Hujan semakin deras. Aku semakin panik.  Aku keluar gubuk untuk menemui pemilik warung. Tak ada orang. Bagaimana ini? Batinku. Tak ada rumah penduduk disekitar sini. Kuraih ponselku, tak ada sinyal. Sial! Kataku. Dalam situasi seperti ini aku hanya bisa berdoa dan berharap ada seseorang yang akan lewat.

Beberapa menit kemudian, kudengar suara berbincang sambil berlarian melewati gubuk kami. Aku segera keluar dan berteriak. Mereka terkejut dan segera membantu kami turun. Aku segera memasangkan jas hujan untuk Alma dan tak lupa kutulis pesan terima kasih dan beberapa lembar uang untuk pemilik gubuk ini. Dalam perjalanan aku menanyakanmu kepada teman-teman. Masih dibelakang, kata mereka. Semoga saja kamu cepat kembali karna aku khawatir dengan cuaca buruk seperti ini. Apalagi mengingat medan yang akan kita lalui untuk kembali juga tidak mudah.

Aku memegang erat lengan Alma saat menyebrangi sungai. Sungguh mengerikan saat melihat sungai meluap dengan arus yang deras. Aku dan Putra memegangi Alma sambil melangkah dengan hati-hati. Sekali saja terpeleset kita bisa hanyut. Saat melangkah aku salah memijakkan kaki pada batu yang berlumut. Seketika badanku goyah dan melepaskan peganganku pada Alma agar ia tak terjatuh. Teman-teman berteriak.

“Dendy, pegangin Alma!” teriakku. Dendy berada ditengah-tengah sungai untuk membatu teman-teman menyebrang. Ia dengan sigap menangkap tubuh Alma. Untung Alma tidak jatuh, kataku. Badanku dingin menyentuh air. Aku seakan berjalan menjauh.

Lamunanku tersentak oleh suara petugas yang memberitahukan kereta telah sampai ditempat tujuanku. Kulihat sepasang pemuda didepanku sudah tak ada. Begitu pula dengan bapak-bapak yang ada disampingku. Sepertinya mereka turun di stasiun sebelumnya. Aku merapikan barang bawaanku dan mengambil ponselku yang tadi dicharge. Aku berdiri melangkah keluar gerbong.

          Aku menyebrangi rel-rel menuju pintu keluar. Kulihat banyak kerumunan mahasiswa dikanan kiriku. Sejenak aku berhenti menatap layar ponselku. Ah, setahun lalu bukannya aku kemari bersamamu? Tapi kini aku seorang diri. Diantar kerumunan orang didepanku, tepat didepan musholla aku melihat sesosok yang sangat amat kukenal. Sosok yang membuatku candu berpergian dengan kereta seorang diri. Kamu. Aku tak bisa merasakan degup jantungku kala itu melihatmu. Tepat dibawah tulisan ‘Stasiun Jember’ Kamu berdiri menghadap aku. Aku termenung. Seketika aku tersenyum melangkahkan kaki perlahan mendekatimu. Kamu sibuk dengan ponselmu. Entah siapa yang kau hubungi. Hingga aku benar-benar dihadapanmu pun kamu tak menyadarinya. Aku perhatikan wajahmu dengan seksama. Masih sama seperti dulu. Rambut itu. Rambut berantakan yang selalu senang kumainkan jika aku kesal denganmu. Ingin aku melakukannya lagi. Bahkan, gelang biru dongker itu masih kau kenakan. Tapi, kenapa raut wajahmu muram. Perlahan aku berdiri kesampingmu dan melihat dengan penasaran siapa yang coba kau hubungi. Itu, fotoku!

You May Also Like

0 comments