Enggan Bertanya Sesat Pikiran

by - July 15, 2018



Beberapa hari lalu, aku bertemu dengan teman-teman lama. Seneng aja rasanya bisa kumpul dan cerita-cerita. Bisa tahu gimana keadaan mereka sekarang. Bisa saling berbagi atau membantu siapa tahu sedang membutuhkan sesuatu. Dan, yang paling aku suka adalah sebuah cerita yang dapat memotivasi aku untuk melakukan sesuatu. Terlebih jika itu dapat mengembangkan diri. Saling berbagi pikiran mengenai suatu hal.

Malam itu pilihan kami jatuh pada lokasi yang kebetulan tak jauh dari rumahku. Syukurlah. Aku jadi nggak perlu membuang waktu dijalan. Sesampainya disana aku bertemu dengan beberapa teman lama. Wajah yang sama seperti terakhir kali reuni kecil diadakan. Haha. Maklum, semakin lama memang semakin sulit untuk berkumpul. Akhirnya yang bertemu ya manusia itu-itu saja.

Kami berbincang ringan menanyakan kabar dan kegiatan masing-masing. Sewajarnya obrolan sih. Lantas datanglah seorang teman yang lain dan obrolan pun makin berlanjut seru. Hingga kami rasa sudah waktunya untuk pulang. Aku selalu membenci bagian ini, malam yang terlalu cepat untuk berlalu hingga membuat obrolan seru kami terputus hhh. Baiklah toh besok aku juga harus bekerja. Aku selalu mengalah dengan keadaan perihal ini. Haha, memang aku bisa apa? Menghentikan waktu? aku harap aku bisa melakukannya untuk beberapa moment.

Kami beranjak menuju meja kasir untuk membayar pesanan masing-masing. Saat itulah aku baru tersadarkan, seorang teman, sebut saja si Z, memperhatikan aku dari ujung kepala hingga kaki. aku sebenarnya sadar diperhatikan. Tetapi aku pura-pura tak tahu. Karena aku sedang lelah untuk menjelaskan hehe. Mungkin Z berpikir aku telah menjadi manusia yang berbeda dengan yang ia lihat saat terkakhir kali kami bertemu. Kalo sebelumnya aku bertemu dengannya menggenakan celana jeans, bersepatu, kaos, dan (tentunya) jilbab kali ini aku tampil dengan menggunakan rok, flatshoes dan berkaos kaki, kaos dan jilbab. Rok dan kaoskaki di malam hari. mungkin itu poin yang ia perhatikaan.

Well, aku punya alasan untuk itu. karena dekat dengan rumah dan lokasinya juga santai, aku pun menggunakan pakaian seadanya. Alias sedang malas untuk memilah-milah pakaian. Flatshoesnya juga aku asal pake apa yang tadi siang aku pake untuk keluar. Soal kaos kaki? hmm, golongan darahku ini O jadi nyamuk demen banget sama aku. Hal yang paling bikin bete. Soalnya sering banget kalo lagi keluar Cuma aku diantara temen-temenku yang digigitin nyamuk. Makanya, begitu aku tau lokasi yang dipilih buat kumpul itu tempat outdoor aku antisipasi pake kaoskaki. Menghindari hal yang tak diinginkan. Nah gitu. Jadi jangan mikir yang gimana-gimana kalo aku ber-outfit kayak gitu. Tiap orang pasti punya alasan untuk melakukan sesuatu. Termasuk dalam hal berpakaian hehe. Btw, kamu juga nggak nanya sih makanya coba kamu nanya mungkin aku juga nggak akan males jelasin
.
Aku jadi inget waktu ESQ pas jaman kuliah. Poin yang masih aku inget adalah kalo kita kudu zero mind sama orang. Terutama sama orang yang baru kita kenal. Kenapa? Karena apa yang kita lihat belom tentu adanya begitu. Misal nih, ada orang yang jutek abis deh wajahnya akhirnya kita pun selalu beranggapan kalo doi jutek sebelum mengenalnya. Padahal bisa jadi kalo dia tuh aslinya baik, ramah. Emang susah sih. Aku juga masih belajar kok hehe. Terutama kalo emang tipikal orangnya hati-hati. Kadang lebih curigaan lagi. Wajar sih. Mungkin aja dia pernah tersakiti. Bentuk perlindungan diri.

Tapi, sebelum menilai orang lain, emang mendingan nanya dulu, kenal dulu hehe. Kalo ada sesuatu yang dipikirin emang mending diutarain. Dariapada salah paham yakan? Ntar berabe deh hehe. Kitanya mikir apa, dianya nyatanya gimana.

You May Also Like

0 comments