Dua Garis Biru (2019)

by - August 02, 2019






Bima dan Dara, sepasang remaja yang menjalin hubungan di masa sma. Seperti pasangan lainnya, mereka sering menghabiskan waktu bersama. Suatu ketika sepulang sekolah, seperti biasa Bima mengantarkan Dara pulang ke rumahnya. Mampir sebentar, bercanda, bermain-main. Dara mendadani Bima dengan alat rias yang ia punya di kamarnya. Bercanda selayaknya pasangan lainnya sambil tertawa. Sayangnya, mereka terbawa suasana dan melakukan hal yang tidak seharusnya.

Kepanikan terjadi saat Dara merasa ada yang aneh dengan dirinya. Ia terlambat mengalami siklus bulanan. Setelah di cek, ternyata Dara positif hamil. Dara marah dan menyesal. Terbayang akan bagaimana ia harus menjalani hidupnya setalah ini. Bagaimana sekolahnya? Bagaimana dengan orang tuanya? Ia merupakan murid berprestasi di sekolah. Begitupula Bima. Ia menyesal dan takut. Bingung harus melakukan apa. Bima menghindari Dara hingga membuat Dara semakin marah. Kecewa.

Hingga Bima menyarankan Dara untuk menggugurkan kandungannya. Dara setuju. Sepulang sekolah mereka pergi ke tempat aborsi yang didapatkan Bima dari temannya. Sesampainya disana, Dara ragu dengan hal yang akan ia lakukan. Apakah ini benar? Apakah ini boleh? Ia termenung didepan tempat aborsi. Ia pun memutuskan akan melahirkan bayinya. Bima setuju meski dengan sedikit keraguan.

Mereka pergi ke sekolah seolah tidak terjadi apa-apa. Bima mengawasi kegiatan Dara lebih hati-hati. Saat perut Dara sudah semakin besar, Bima membelikan pakaian yang lebih longgar dan sesuai untuk Dara. Suatu ketika saat jam olahraga, kepala Dara terbentur bola basket dan secara tidak sadar Dara mengkhawatirkan bayinya.

“Bim, bayinya gimana?” lontar Dara panik pada Bima di depan teman-temannya di lapangan.

Seisi sekolah akhirnya tahu dan kepala sekolah memanggil kedua orang tua mereka. Seperti orang tua pada umumnya, mereka semua kecewa dan marah besar. Terutama ibu Dara. Akhirnya Dara pun diusir dari rumah.

Jujur sejujur-jujurnya, awalnya itu aku nggak tertarik sama sekali sama film ini. Mungkin karena latarnya cerita anak sma. Dan kebanyakan rata-rata film lokal yang mengangkat cerita sma itu yaa... menye-menye percintaan. Hehe. Maap, emang kurang doyan aja gitu kalo liat film beginian. Tapi, karena pada suatu ketika aku iseng-iseng scroll twitter banyak banget kontra soal film ini aku jadi penasaran.

Film ini mengangkat isu sosial yang sedang marak di Indonesia. Hamil di luar nikah. Banyak yang bilang film ini mengajari anak muda untuk melakukan sex bebas. Tapi, menurutku justru film ini melakukan hal sebaliknya. Mengedukasi anak-anak muda dan orang tua untuk mengetahui akibat-akibat yang ditimbulkan dari kejadian itu.

Pendidikan sex di Indonesia sendiri memang masih dianggap hal yang tabu. Padahal udah banyak kasus semacam ini. Pemerkosaan dan pelecehan bahkan sudah tidak lagi memandang usia. Dari usia anak tk pun ada korbannya. Dengan adanya film ini, menurutku sindiran juga sih buat para orang tua supaya sadar dan dapat mengedukasi anaknya mengenai hal ini. Karena di sekolah juga nggak semua hal bisa didapatkan. Maka dari itu perlu dampingan orang tua agar anak tidak melewati batas. Terlebih lagi kalau orang tua yang memberikan arahan tentunya sang anak bisa lebih leluasa bertanya tanpa malu.

sumber : Katadata

Sama halnya dengan para remaja. Mereka juga harus paham mengenai tubuh mereka. Kehamilan di usia sekolah memang sangat rentan beresiko. Dari rahim yang diangkat hingga kematian. Menurut artikel yang ditulis Tirto.id, berdasarkan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), secara umum, tingginya peluang anak meninggal terjadi pada anak yang dilahirkan oleh ibu yang berumur terlalu muda (kurang dari 18 tahun) atau terlalu tua (lebih dari 34 tahun), dilahirkan dalam jarak kelahiran yang pendek, atau dilahirkan oleh ibu dengan urutan kelahiran yang tinggi. Hal ini disebabkan karena diusia kurang dari 18 tahun secara biologis tubuh belum siap memberikan asupan dan memikul beban lain. Risiko kelahiran berhubungan erat dengan buruknya kesehatan reproduksi dan kurangnya kesadaran anak perempuan terhadap dampak persalinan dini. Tak heran bila tingginya risiko kematian bayi disebabkan karena komplikasi saat persalinan dan tubuh yang belum sepenuhnya matang untuk melahirkan. 

Kurangnya informasi membuat para remaja yang salah jalan dan panik mengambil tindakan-tindakan yang membahayakan diri mereka sendiri. Ada yang melakuakn aborsi dan bunuh diri. Padahal, aborsi pun dapat menimbulkan resiko penyakit yang lain. Seperti yang dilansir Hellosehat berikut:

sumber : Rappler 

1. Perdarahan vagina berat

Perdarahan hebat sebagai efek aborsi serius umumnya disertai dengan demam tinggi dan gumpalan jaringan janin dari rahim. Perdarahan berat dilaporkan terjadi pada 1 dari 1000 kejadian aborsi. Perdarahan vagina yang sangat hebat bisa berujung pada kematian, terutama jika aborsi dilakukan secara ilegal dengan metode yang seadanya.
2. Infeksi

Infeksi terjadi karena leher rahim akan melebar selama proses aborsi yang diinduksi obat aborsi (baik resep dokter maupun yang didapat dari pasar gelap). Ini kemudian menyebabkan bakteri dari luar masuk dengan mudah ke dalam tubuh, memicu timbulnya infeksi parah di rahim, saluran tuba, dan panggul.
3. Sepsis

Dalam kebanyakan kasus, infeksi tetap berada di satu area tertentu (rahim, misalnya). Namun, dalam kasus yang lebih parah, infeksi bakteri masuk ke aliran darah Anda dan berjalan ke seluruh tubuh. Ini yang disebut sebagai sepsis. Dan ketika infeksi terlanjur menyerang tubuh Anda semakin parah sehingga menyebabkan tekanan darah menurun sangat rendah, ini disebut sebagai syok sepsis. Syok sepsis setelah aborsi termasuk kondisi gawat darurat.
Ada dua faktor utama yang dapat berperan penting terhadap peningkatan risiko Anda terhadap sepsis dan pada akhirnya, syok sepsis setelah aborsi: aborsi yang tidak sempurna (potongan jaringan sisa kehamilan masih terperangkap dalam tubuh setelah aborsi) dan infeksi bakteri pada rahim selama aborsi (baik lewat pembedahan maupun dengan cara mandiri).
4. Kerusakan rahim

Kerusakan rahim termasuk kerusakan leher rahim, perlubangan (perforasi) rahim, dan luka robek pada rahim (laserasi). Namun sebagian besar kerusakan ini bisa tidak terdiagnosis dan tidak terobati kecuali dokter melakukan visualisasi laparoskopi.
Risiko perforasi rahim meningkat pada wanita yang sebelumnya telah melahirkan dan bagi mereka yang menerima anestesi umum pada saat aborsi. Risiko kerusakan serviks akan lebih besar pada remaja yang melakukan aborsi sendiri pada trimester kedua, dan ketika praktisi aborsi gagal memasukkan laminaria untuk dilatasi serviks.
5. Infeksi peradangan panggul

Infeksi peradangan panggul (PID) adalah penyakit yang dapat menyebabkan peningkatan risiko kehamilan ektopik dan mengurangi kesuburan perempuan di masa depan. Kondisi ini berpotensi mengancam nyawa. Risiko PID meningkat pada kasus aborsi spontan karena adanya peluang untuk jaringan kehamilan terperangkap dalam rahim serta risiko perdarahan hebat. Keduanya merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri; Selain itu, pada wanita yang sudah mengalami anemia sedang hingga berat sedari awal, kehilangan darah lebih lanjut akan meningkatkan kemungkinan infeksi. Pada aborsi yang diinduksi (baik legal maupun ilegal), instrumen dan manipulasi eksternal juga meningkatkan kemungkinan infeksi.
6. Endometritis

Endometritis adalah kondisi peradangan pada lapisan rahim, dan biasanya karena infeksi. Endometritis adalah risiko efek aborsi yang mungkin terjadi pada semua, namun lebih terutama untuk remaja. Remaja perempuan dilaporkan 2,5 kali lebih mungkin untuk mengalami endometritis setelah aborsi dibandingkan wanita usia 20-29.
7. Kanker

Perempuan yang pernah sekali menjalankan aborsi menghadapi risiko 2,3 kali lebih tinggi terkena kanker serviks daripada perempuan yang tidak pernah aborsi. Perempuan yang pernah dua kali atau lebih menjalani aborsi memiliki peningkatan risiko hingga 4,92.
8. Kematian

Perdarahan hebat, infeksi parah, emboli paru, anestesi yang gagal, dan kehamilan ektopik yang tidak terdiagnosis merupakan beberapa contoh penyebab utama dari kematian ibu yang terkait aborsi dalam seminggu setelahnya.
Studi tahun 1997 di Finlandia melaporkan bahwa perempuan yang aborsi berisiko empat kali lipat lebih mungkin untuk meninggal akibat kondisi kesehatan di tahun berikutnya daripada wanita yang melanjutkan kehamilan mereka sampai cukup umur. Penelitian ini juga menemukan bahwa perempuan yang melakukan aborsi mengalami peningkatan risiko kematian yang lebih besar dari bunuh diri dan sebagai korban pembunuhan (oleh anggota keluarga maupun pasangan), daripada perempuan yang melanjutkan hamil hingga 9 bulan.
Nah, seperti itulah kemungkinan resiko yang ditimbulkan dari kehamilan di usia muda. Selain aspek biologis, tingkat emosional pada kehamilan di usia muda juga masih belum matang. Hal ini akan menyebabkan banyak permasalahan saat mengasuh anak yang dilahirkan. Belum lagi pendidikan calon ibu yang belum tercukupi. Hingga membuat pendidikan sang anak pun turut serta terbatas dari sang ibu.
Jadi, menruutku film ini perlu ditonton anak muda jaman now dan jangan lupa juga ya ajak orang tua kalian J

You May Also Like

5 comments