Lewat Film, NKCTHI Wakili Seluruh Perasaan Anak Indonesia

by - January 24, 2020

source : instagram 


Awan. Perempuan pintar yang mampu menjadi lulusan terbaik di kampusnya. Begitu giat dan keras menggapai cita-citanya bekerja di sebuah firma arsitektur di bawah pimpinan Pak Anton, Arsitek idolanya. Memiliki keluarga yang harmonis dan tidak pernah kekurangan. Ya, itulah kehidupan Awan.

Kakak laki-lakinya Angkasa, sangat sayang padanya. Hingga merelakan 24 jam harinya untuk selalu mengawasi Awan. Memastikan ia selalu baik-baik saja. Angkasa memiliki kekasih cantik yang sudah menemaninya selama 4 tahun. Bekerja di bidang yang sama membuat mereka semakin yakin akan langkah kedepan.

Aurora, kakak perempuan Awan. Adik Angkasa. Seorang designer comtemporer yang berbakat. Ia sudah memperlihatkan bakatnya semenjak kecil. Menjadi atlet renang dan juga seniman. Sifatnya yang pediam membuat Aurora nampak lebih elegant.

Keluarga Awan, nampak tanpa celah sedikitpun. Cerminan keluarga bahagia yang saling menjaga dan menyanyangi satu sama lain. Ayahnya yang seorang bankir selalu memastikan kebutuhan keluarganya terpenuhi. Ibunya seorang ibu rumah tangga yang hangat. Siapa yang tak mengidamkan keluarga bahagia ini?

Sayangnya, bukan itu yang dirasakan Awan. Ia justru merasa jenuh di manjakan dan mulai memberontak. Lelah dianggap anak kecil yang bahkan tak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Ia menyalahkan ayahnya yang memanjakannya dan juga over protektif.

Nyatanya, keluarga itu tidak bahagia. Ada sebuah rahasia yang disembunyikan sendari Awan lahir. Hanya Angkasa yang tahu dan itu membuatnya tertekan. Hingga akhirnya ia meledak pada suatu malam.


Well, film ini emang bagus banget sih menurutku. Entah kenapa setiap bagian kayak menemukan posisi di hati setiap anak Indonesia (ceileh). Atau bahkan mungkin emang seluruh anak di dunia. Filmm keluarga garapan sutradara Angga Dwimas Sasongko ini sebenernya udah lama. Sebulan lama nggak sih? Hehe.

Pertama kali saya liat film ini pas bulan Desember 2019. Gala premiernya. Trus karena emang bagus, saya nonton lagi dong pas pemutaran perdananya tanggal 2 Januari 2020. Naaah, terus kebetulan tanggal 23 Januari 2020 kemarin ada versi Director’s cut nya, yaudin nonton deh.

Awalnya saya kira versi director’s cut ini kayak behind the scene gitu. Eh ternyata sama aja sih Cuma ada beberapa scene yang awalnya dipotong, ditunjukin gitu. Sampe hapal ceritanya hehe.

Film ini diangkat dari buku dengan judul yang sama. Penulisnya Marchella FP. Iya, doi penulis sekaligus ilustratornya. Ini buku kedua dari Mbak Cello. Buku pertamanya kalian pasti tau banget. Yup. Generasi90-an.

Waktu tau bukunya bakalan di filmin, nggak kebayang bakalan jadi cerita kayak gimana. Karena yaa kalian tau sendiri bukunya itu merupakan kumpulan quotes dan ilustrasi. Jadi bingung dan penasaran. Mungkin karena Mas Angga ini sukses dengan film Keluarga Cemara, makanya ceritanya dibuat cerita keluarga juga gitu kali ya?

Sinematografinya keren sih emang. Berasa deket banget gitu. Dulu saya sempet mikir kalo style kamera goyang itu mungkin ada beberapa properti yang nggak dipunya sutradara. Ternyata justru itu dong yang bikin film keliatan real hehe. Maap saya mah newbie.
Dan yang bikin baper lebih adalah lagunyaaa doongg yaampun pas banget. Suka banget waktu scene lagu Untuk Hati yang Terluka (Isyana Saraswati), Fine Today (Ardhito Pramono), dan Secukupnya (Hindia).



Saya rasa tim marketing film ini bagus banget dan nggak mau kehilangan moment plus kreatif. Waktu penjualan buku ini laris manis, langsung deh diangkat ke layar lebar. Awalnya, mereka mancing antusias penonton di youtube lewat web series. Meski ceritanya beda sih. Tapi intinya ada quote dan yang jadi Awan sama, Rachel Amanda.

Mereka juga jual merchandise ala-ala bukunya. Ada kertas lipat pesawat, tote bag, buku tulis, dll. Design poster pun mereka buat banyak versi diambil dari scene film. Dibumbuhi beberapa quotes yang ‘ngenak’ di hati. Fotografernya juga oke pula. Hmm, tim yang sangat kreatif. Saluuutttt!!

Di film ini diceritakan konflik batin dari setiap peran keluarga. Mulai dari bapak yang over protektif karena pengen banget anak-anaknya bahagia, ibu yang diem aja karena memihak bapak, anak pertama yang memikul tanggung jawab sebagai pelindung adik-adiknya, anak tengah yang merasa di singkirkan, dan anak terakhir yang menjadi prioritas keluarga tapi enggan dikekang.

Pikiran saya jadi terbuka waktu liat film ini. Mugnkin lebih tepatnya mikir sih. Apa semua anak sulung, tengah, dan bungsu seperti itu ya? soalnya kalo dilihat-lihat dari orang yang saya kenal seperti itu. Dan saya juga ngerasain itu sih hehe.

Ah, entahlah, yang jelas film ini wajib banget ditonton. Kalo bisa nontonnya satu keluarga sekalian. Biar bisa ngode ke bapak ibu. Mungkin ada beberapa hal yang ingin kalian sampaikan ke mereka tapi nggak sanggup?

"Apapun yang dibuat dengan hati, akan sampai ke hati yang lain"

You May Also Like

0 comments