Minimalis

by - January 09, 2021

 



Minimalis, satu kata berjuta makna. Kalau banyak orang beranggapan ini adalah sebuah tren gaya hidup, saya rasa mereka salah besar. Minimalis bukan hanya sekadar tren. Melainkan sebuah prinsip hidup sesuai fungsinya. Yang sering bikin orang salah paham adalah minimalis artinya pelit. Yaampun,padahal mah nggak begitu atuh πŸ‘€ 

Saya pertama kali memahami prinsip ini secara general saat membaca buku The Life Changing Magic of Tyding Up yang ditulis oleh Marie Kondo. Setelah membaca buku itu saya lantas langsung membongkar lemari pakaian saya. Saya mengeluarkan semua isinya dan mampu memnyisihkan 15 kantong plastik besar (kantong plastik yang biasa digunakan untuk sampah) 😱 


Saya nggak nyangka kalau saya ternyata memiliki banyak sekali pakaian yang sebenarnya nggak pernah saya sentuh sekalipun. Bahkan saya masih menyimpan pakaian saya saat masih smp karena memang sebenarnya masih cukup digunakan (yang nyatanya saya nggak pernah pakai juga sih meski muat). Sejak saat itu saya jadi ingin menyingkirkan semua barang yang menurut saya nggak ada fungsinya dan nggak membawa kebahagian untuk saya. Yang seringnya sih malah menjadi beban πŸ₯΄ 


Dalam proses tersebut, saya nggak hanya membersihkan ruangan, tetapi saya juga turut serta belajar untuk mengikhlaskan. Setelah pakaian, saya menyortir, pernak-pernik, dan banyak barang lainnya. Sejak melakukan decluttering, saya jadi menyukai keleluasaan. Lihat barang yang menumpuk itu rasanya bikin saya pusing seketika. Termasuk mengeluarkan meja dari kamar. Karena saya sebenarnya lebih suka beraktivitas di lantai. Entah bekerja dengan laptop, membaca buku, atau menulis. Kalau bosan saya pakai meja lipat πŸ˜‰ 


Baca juga: Review Film Soul (2020), Apa Makna Hidup Sebenarnya?


Selain meja kerja, saya juga mengeluarkan beberapa storage. Ada pula yang saya masukkan lemari agar lebih ringkes. Hasilnya? Saya lega bukan main bisa mendengarkan lagu sambil nari-nari πŸ’ƒπŸΌ. Pemahaman ini juga turut membantu saya saat akan membeli barang. Kalau biasanya saya sangat impulsif berbelanja, semenjak decluttering saya jadi berpikir berkali-kali, “Aku butuh nggak sih barang ini?” bahkan, seringkali dengan ekstrimnya saya bakalan nanya ke diri saya seperti ini, “Emangnya aku bakalan mati kalau nggak punya ini?”. Biasanya setelah bertanya seperti itu saya seketika bisa memutuskan. 


**

Saya jadi teringat cerita seorang teman. Panggil saja Peter. Jadi Peter ini baru saja pindah rumah. Kebetulan rumahnya nggak memungkinkan untuk dia parkir mobil. Mau nggak mau, Peter pun memarkirkan mobilnya di salah satu toko dekat rumahnya yang cukup aman. Dengan begitu Peter harus membayar biaya bulanan parkir. Dalam kegiatannya sehari-hari, Peter dan keluarga lebih sering menggunakan sepeda motor. Bahkan pernah suatu hari Peter nggak menengok mobilnya selama satu minggu. Mobilnya jelas kotor banget dan sempat bermasalah (turun mesin) 😱 


Sampai akhirnya Peter memutuskan untuk menjual mobilnya. Di saat itulah seoran teman lain bertanya, kemana mobilnya? Saat itulah Peter menceritakannya dengan sangat bersemangat. Katanya, ia merasa terbebas. Nggak perlu lagi membayar biaya bulanan, nggak perlu capek-capek manasin mobil setiap hari, nggak perlu bayar pajak kendaraan, dan perintilan perawatan lainnya. Hingga seorang teman lainnya bertanya, “Trus kalo mau kemana-mana gimana?” yang dijawab Peter dengan sangat enteng. “Gampang lah, kan ada Grab. Enak kan, tinggal duduk santai. Kalau macet bisa tidur lagi haha. Kalau jarak jauh ya tinggal carter aja. Lagian jarang banget aku keluar kota. Hidup zaman sekarang mah semua serba ada kok,” jelasnya dengan riang gembira yang membuat mata dan pikiran saya lebih terbuka lagi πŸ‘€  


Tanpa sadar, meski jika ditanya apakah ia menganut hidup minimalis, Peter nggak akan menjawabnya dengan anggukan. Tetapi, secara kasat mata hal yang dilakukan Peter termasuk dalam prinsip hidup minimalis. Saya hanya nggak habis pikir saja, dengan mereka yang mempertahankan ‘kebendaan’ karena gengsi semata. Karena sebenarnya saat Peter bercerita demikian ada salah seorang teman yang beranggapan, Peter nggak lagi punya mobil itu artinya Peter lagi nggak baik-baik aja secara ekonomi. What? Gimana bisa seseorang menilai orang lain semudah itu hanya dari kepemilikan benda? Semoga orang seperti ini bisa segera terbukakan pintu hati dan pikirannya. Aamiin 🀲🏽 


**



Kemarin, saya lagi bosan sekali. Ingin lihat film, rencananya sih mau yang komedi aja karena lagi pengen ketawa-tawa. Ternyata saya malah nyasar lihat film dokumenter The Minimalist. Dari situ saya kembali memahami. Minimalis ini bukan hanya aspek barang. Tetapi juga berlaku untuk lingkungan pertemanan. Memiliki teman yang sedikit dan berkualitas jauh lebih menyenangkan (bagi saya) daripada banyak teman tapi hanya sekadar basa-basi. Meski lebih baik juga kalau banyak teman dan hubungan berkualitas sih hehe (dasar manusia nggak pernah puas) πŸ˜† 


Apalagi setelah menjalani tahun 2020 lalu yang sangat menantang. Saya yang notabenenya nggak suka bersosialisasi melalui monitor jadi mau nggak mau terbiasa (masih berusaha membiasakan diri sih). Buat saya nggak akan ada yang bisa menggantikan kualitas sebuah pertemuan. Betul nggak sih?πŸ˜‰ 


Kalau ngomongin soal hubungan (entah pertemanan atau dengan kekasih) saya jadi teringat masa lalu (ceileh). Dulu sewaktu saya kuliah saya punya teman spesial (malu banget ngetik paca* 🀣). Bisa di bilang kita 11 12. Bener-bener deh saya kayak menjalin hubungan dengan diri sendiri dalam wujud laki-laki. Sama-sama suka baca, nulis, dan fotografi. Parahnya sih sama-sama cuek bin nggak peka.  


Long story short, setelah tutup buku dan saya semakin memahami banyak hal, saya sadar saya nggak memanfaatkan waktu kebersamaan kami dengan baik. Dan itu membuat saya menyesal. Kalau punya kesempatan saya bakal omongin semuanya rasa nano-nano di hati dan kepala. Apalagi belakangan saya sering baca tulisan teman-teman blogger mengenai hubungan mereka dengan pasangan masing-masing. Untungnya sih mereka nulis jadi saya sekalian belajar. Karena kalau nggak, saya yang nggak peka gini mau belajar gimana ya? 🀣 Thans to you all~


Kalau ditanya apakah saya seorang penagnut hidup minimalis? Sebenernya ya nggak juga sih, masih belum lebih tepatnya. Saya masih belajar dengan semua proses itu. Dan saya rasa nggak ada patokan khusus juga untuk dapat dikatakan penganut minimalis. Asal kita bisa belajar untuk lebih menghargai setiap hal kecil dalam hidup, sepertinya itu sudah cukup πŸ˜†


Sekian curhatan nano-nano di akhir pekan yang sangat random ini. Ada yang mengalami hal serupa? Happy weekend fellas~ 🌻



You May Also Like

4 comments

  1. Hidup minimalis memang bagus, tapi terlalu minimalis juga kurang bagus hehe

    ReplyDelete
  2. Saya pun belum lama ini mulai belajar minimalis, mba Dea πŸ˜‚ Dulunya saya hobi belanja soalnya hahaha, apalagi perintilan rumah yang lucuk dan imut. Wew, susah untuk ditolak πŸ€ͺ

    Tapi semua berubah secara bertahap saat saya ketemu pasangan, karena dia tipe yang nggak punya banyak benda, beda banget sama saya. Secara nggak langsung, kebiasaan dia masuk ke saya, dan pelan-pelan saya mulai bisa control diri saya dan belajar dari banyak info minimalis di luaran sana. Terus, semenjak saya menonton The House Detox setiap minggu, saya jadi tambah semangat organize rumah saya, yang ternyata membantu organize pikiran saya pula.

    After effect dari being minimalis ini ternyata bagus ke mental state saya, sebab saya jadi seperti nggak ada beban especially pada kebendaan πŸ˜† Begitu kurang lebih cerita saya hehe. Semoga kita bisa hidup minimalis sesuatu standar masing-masing dari kita, yaaaa 😍

    ReplyDelete
  3. Nggak menganut gaya hidup minimalis juga nggak apa-apa kok mbak, as long as you happy with your life & contribute to others, positively.

    Minimalism/gaya hidup minimalis hanya alat untuk mencapai itu.

    If it works for you, then go for it. Kalau nggak, ya nggak dianut juga ga papa toh ya 😊

    ReplyDelete
  4. Bukunya Marie Kondo adalah salah satu turning pointku juga, Kak Dee hahahaha. Sehabis membaca buku itu, aku langsung merapihkan lemari bajuku dan juga barang-barangku sampai tahap paling terakhir yaitu barang memorable akhirnya bisa aku sortir di tahun lalu. Benar banget, efek setelah menyingkirkan segitu banyak benda yang nggak terpakai selama ini begitu luar biasa membuat bahagia 😍. Sampai membuatku sekarang lebih suka melihat kondisi rumah yang kosong melompong daripada terlalu banyak perintilan 🀣

    Aku juga belum bisa dibilang 100% minimalis, tapi aku mendapat banyak manfaat baik dari pembelajaran mengenai minimalism ini. Dan aku bahagia karena bisa mengenal gaya hidup ini. Aku jadi nggak menumpuk barang-barang tak terpakai lagi, jadi lebih banyak ruang kosong yang enak untuk dilihat 😍

    ReplyDelete