Fiksi - Pulang (Part 2-End)

November 15, 2021

 


Baca Part 1


Saya pulang dengan hati berbunga dan menoleh pada ibu yang tampak berseri-seri juga. Kalau ini adalah sebuah buku, mungkin banyak pembaca yang akan mengasihani kami dan terbagi dalam dua kubu. Ada yang akan memihak hubungan ibu dengan Om Dino dan ada pula yang akan memihak hubungan saya dengan Damar. Haha seperti sebuah ironi yang nggak akan pernah diharapkan hadir dalam kehidupan nyata.


Saya dan Damar memutuskan untuk merahasiakan hubungan kami. Mencari momen yang tepat untuk memberi tahu orangtua kami. Sekali lagi, maafkan saya, Bu. Saya sudah cukup lelah mengabaikan perasaan saya demi kebahagiaan ibu selama ini. Tolong ijinkan saya kali ini untuk merasakan bahagia. 


Akhir pekan berikutnya saya pergi menonton dengan Damar. Tentu saya nggak mengatakan pada ibu dengan siapa saya menonton. Hingga dewasa, ini pertama kalinya saya berbohong kepada ibu. Rasanya ada perasaan bersalah yang menyelimuti hati. Ah, sudahlah. Mungkin lama kelamaan saya akan terbiasa. 

“Aku suka banget sama karakter Black Widow di film Avengers kemarin. Eh, kamu udah nonton Avengers kan, Mar?” tanya saya pada Damar saat kami memasuki studio.

“Udah dong! Aku nggak bakalan ngelewatin setiap film yang dibuat Marvel. Kan kamu tahu sendiri pajangan di rumahku penuh banget sama miniatur karakter Marvel haha,” jawab Damar bersemangat. Memperhatikan Damar menjelaskan hal yang disukainya selalu membuat saya gemas. Gimana nggak, wajahnya sudah seperti bocah laki-laki yang mendapatkan mainan baru. 


Sepanjang menonton film, Damar nggak melepaskan genggaman tangannya sedetik pun. Semua yang saya alami malam ini nggak pernah terlintas dalam benak saya sebelumnya. Tentu saya senang bukan main seolah menjadi orang paling bahagia. Rasa bersalah pada ibu yang tadi menyelimuti, seolah sirna begitu saja. Ini pertama kalinya saya merasa bahagia dengan keputusan yang saya buat.


Sayangnya, kami harus melepaskan genggaman tangan kami karena khawatir akan ada seseorang yang melihat. Nggak enak juga ya kalau sembunyi-sembunyi seperti ini. Saya dan Damar bahkan menyembunyikan hubungan kami dari sahabat masing-masing. 

“Mau makan apa kita, Nyonya?”

“Haha, apaan sih, Mar. Geli banget deh”

“Yaudah. Mau makan apa kita, Sayang?” katanya dengan senyum paling tampan yang  membuat saya kikuk. Ya Tuhan, ciptaanmu di hadapanku ini sungguh indah. Engkau pasti sedang berada pada mood paling bagus saat menciptakannya. 

“Maarrrrr, sumpah ya geli banget!!!” kami pun tertawa. Ah, meski nggak bergandengan tangan pun setiap orang yang melihat gelagat kami berdua pasti tahu kalau kami adalah sepasang kekasih yang sedang kasmaran. 

Damar dan saya menghabiskan waktu hingga malam tiba. Kami melakukan semua hal yang kami suka. Seolah sepasang kekasih yang sekian lama nggak bertemu. Saya harap, setiap hari saya bisa merasa seperti ini. Jatuh cinta kepadanya setiap hari. Dicintai olehnya setiap hari. 


***


“Kok tumben sampai malem banget, Sya, keluar sama Ria?” tanya ibu yang sedang menonton tv sewaktu saya tiba di rumah. 


“Tadi habis nonton, Ria minta ditemenin beli beberapa barang, Bu. Rasya tidur ya, Bu, ngantuk banget udahan” Saya pun segera beranjak menaiki tangga menuju kamar sebelum ibu bertanya lebih jauh lagi. Saya juga nggak mau berbohong pada ibu lebih banyak lagi.  


“Sya”


“Ya?” 


“Besok temenin Ibu ke rumah Bu Ann ya. Ibu mau ngobrolin acara besok”


“Memang siapa yang mau nikah, Bu?” jantung saya berdegup sangat kencang menanti jawaban ibu. Bu Ann adalah salah seorang teman ibu yang memiliki usaha wedding organizer. Dalam hati saya berharap ibu memiliki jawaban lain dengan yang saya pikirkan.


“Kemarin Om Dino melamar ibu, Sya. Dan ibu langsung jawab iya,” ibu begitu sumringah menghampiri akan memeluk saya.  Sayangnya, berita itu bukanlah berita bahagia untuk saya. Saya pun refleks menepis tangan ibu. Ya Tuhan, bukan ini jawaban yang aku inginkan. Baru saja Engkau memberiku bahagia. Mengapa begitu cepat Engkau ambil kebahagiaan itu? 


“Sya?” 


“Kenapa Ibu nggak tanya dulu ke Rasya? Memang Ibu yang akan menikah. Tapi Rasya juga punya hak setuju atau nggak dengan pernikahan itu. Kenapa sih Ibu selalu egois? Semuanya selalu tentang Ibu. Kenapa Ibu yang harus selalu bahagia? Memangnya Rasya nggak boleh ngerasa bahagia? Rasya capek selalu ngalah sama Ibu. Kuliah, kerjaan, semuanya! Harusnya ibu juga nggak cerai sama ayah! Seandainya keluarga kita utuh, Rasya pasti baik-baik aja sama Damar. Rasya suka sama Damar, Bu. Dan Rasya nggak akan pernah setuju dengan pernikahan ini!” Saya nggak bisa lagi menyembunyikan air mata yang selama ini terpendam. Semua perkataan itu meluncur begitu saja tanpa terkendali. Terlihat jelas ibu shock dengan semua perkataan yang saya lontarkan. Saya langsung keluar rumah dan menyalakan mobil.


***

“Ya Tuhan, apa yang sebenarnya ingin Engkau tunjukkan padaku?” Tanpa sadar saya telah berhenti di depan rumah Ayah. “Astaga ngapain aku di sini?” Saya pun langsung menyalakan mesin mobil dan pergi tanpa tujuan.


“Seandainya ayah dan ibu nggak bercerai, aku dan Damar pasti baik-baik aja,” saya nggak mau berdusta pada diri sendiri. Terkadang saya menginginkan keluarga yang baik-baik saja. Memiliki ayah dan ibu dalam satu rumah. Merasakan kasih sayang seorang ayah. Berdiskusi mengenai banyak hal dengan ayah. Mendengarkan petuah-petuahnya mengenai kehidupan yang nggak selalu baik baik saja. Air mata saya mengalir semakin deras memikirkan itu semua.


Saya memutuskan untuk tinggal di hotel malam ini. Sial, kenapa aku harus berhenti di hotel Pullman ini sih? Mana mahal banget pula sewa per malamnya. Ada rasa sedikit menyesal setelah melakukan pembayaran.


Baru saja saya memasuki kamar, ponsel saya berdering. Damar. Ibu pasti langsung memberitahu Damar. Saya ingin menjawab panggilan itu dan berkeluh kesah padanya, tapi saya bahkan nggak punya tenaga untuk berbicara. Saya pun meletakkan ponsel di meja dan berbaring di ranjang hingga perlahan tertidur. 


***


Saya terbangun pukul 4 pagi dengan mata yang masih terasa sangat panas akibat menangis semalam. Saya berjalan mengambil air minum dengan lunglai dan terduduk di depan jendela. Memandangi lampu kota Jakarta yang tampak begitu cantik. 


Tiba-tiba terlintas di kepala saya memori di masa lalu. Betapa ibu sudah berjuang bertahan membuat keluarga ini utuh. Memastikan saya mendapatkan kehidupan yang layak setiap harinya tanpa kekurangan. Termasuk bertahan menikah dengan ayah meski ibu tahu ayah telah berkhianat. Apa aku udah kelewatan ya kemarin?


Suara ponsel membuyarkan lamunan saya. Damar.


“Halo?” Jawab saya dengan beberapa kali menghela nafas. 


“Sya, kamu di mana?” Terdengar suara panik Damar di seberang telepon. “Aku telepon susah banget dari semalem nggak diangkat. Kamu di mana?” Damar terdengar mulai nggak sabar menanti jawaban saya. 


“Aku lagi di hotel, Mar. Besok a….”


“Sya, ibu kecelakaan,” potong Damar yang membuat tenggorokan saya tercekat. 


Saya langsung pergi menuju rumah sakit yang diberi tahu Damar. Rasa sesal menyelimuti hati. Saya mengutuk diri tanpa henti selama perjalanan. Menyesal dengan semua perbuatan kekanak-kanakan saya. 


Kaki saya terpaku begitu tiba di depan ruang operasi. Tangis saya pecah. Damar dan Om DIno menghampiri dan berusaha menenangkan saya. 


“Mar, ini semua salahku!” Saya berteriak histeris. Berusaha mengalihkan rasa sakit di dada. “Harusnya aku nggak nyakitin ibu. Harusnya aku..” saya tak lagi dapat berkata-kata. Hanya pekik memilukan yang keluar dari mulut saya. Damar memeluk saya berusaha menenangkan. 


Satu jam setelahnya pintu ruang operasi terbuka. Saya yang nggak bisa tenang langsung menghampiri dokter. Berharap jawaban baik yang terdengar. Saya memburu dokter dengan nggak sabar. Menuntutnya memberikan ekspresi yang melegakan hati. 


Sayangnya, kedua dokter tersebut hanya mampu menghela nafas panjang dan menundukkan kepala. Dunia saya hancur seketika. Saya bahkan nggak bisa menangis. Saya hanya duduk terdiam di bangku dengan pandangan kosong. Damar memeluk saya lebih erat dari sebelumnya. Seolah khawatir tubuh saya pecah berkeping-keping. Tapi dia salah. Bukan tubuh saya yang menjadi serpihan kecil. Melainkan hati saya. 


Damar membantu saya berdiri untuk melihat ibu. Pintu ruang operasi terbuka.


***


“Ibuuuu!” Saya terbangun dengan nafas memburu. Ternyata itu semua hanya mimpi. Tubuh saya bercucur keringat. Saya melihat ponsel. Pukul 4 pagi. Saya langsung menghubungi ibu sambil bergegas keluar. Saya harus pulang. 


Ibu tak kunjung menjawab panggilan saya yang membuat saya semakin khawatir. Saya memacu mobil dengan kecepatan penuh. Panggilan ketiga ibu menjawab telepon saya. 


“Bu, Rasya minta maaf…” kata saya menangis begitu mendengar suara ibu. Begitu lega karena semuanya hanya mimpi. Mimpi yang terasa begitu nyata yang membuat saya ketakutan luar biasa. “Bu, Rasya perjalanan pulang. Bisa nggak kita sekarang aja ke rumah Tante Ann?” kata saya ngaco yang membuat ibu tertawa. Ya, saya kini telah mengikhlaskan ibu dengan Om Damar. Saya hanya ingin melihat ibu bahagia.  


Mata saya terasa silau melihat lampu kendaraan di seberang. “Bu, Rasya laper banget. Tolong bikinin Indomie goreng pakai telur ya,” kata saya yang baru menyadari perut terasa perih. “Halo, bu?” sambungan telepon terputus begitu saja. Mungkin baterai ponsel ibu habis. Setidaknya saya sudah bisa pulang dengan tenang.


***


Rintik suara hujan membangunkan saya. Saya lupa bagaimana sampai di rumah. Perut saya begitu perih. Apa semalam aku nggak jadi makan ya begitu sampai di rumah? Hm, kayaknya aku langsung tidur deh soalnya ngantuk berat.


Saya menuruni tangga menuju meja makan. “Buuu, udah masak belum?” berharap ada makanan yang bisa segera mengisi perut saya. Di tengah langkah saya menuruni anak tangga, saya mendengar suara tangisan begitu kencang. Buru-buru saya menuju sumber suara tersebut. 


Saya terkejut begitu sampai di ruang tamu. Sesosok tubuh dengan diselimuti selembar kain putih terbuju kaku di lantai. Dikelilingi oleh banyak orang berpakaian serba hitam. Ibu terlihat menangis di sampingnya. 


Dengan perasaan was-was saya mendekati sosok tersebut, yang ternyata adalah tubuh saya.


Baca lainnya di GWP

You Might Also Like

3 comments

  1. Langsung ingin bikin tulisan fiksi

    ReplyDelete
  2. hiks, endingnya nggak kuduga..
    surprise juga ini jalan ceritanya
    plotnya oke juga

    ReplyDelete