Lima Belas Menit

by - November 15, 2018




Pagi ini suasananya mendung. Membuatku untuk enggan segera beranjak beraktivitas. Sekelebat pemikiran tiba-tiba muncul.

“kalo aku nggak kayak gini, kira-kira orang lain akan memperlakukan aku sama nggak ya?”

Sebenernya, kalo boleh jujur. Sering banget kalimat diatas terlintas. Kadang aku mikir, mungkin ada sesuatu yang membuat orang lain untuk bertahan disekeliling kita. Entah itu yang nampak (fisik) atau nggak (inner beauty).

Sepuluh menit. Gimana kalo aku? Kira-kira apa ya yang bikin orang lain ada di sekelilingku? Kalo misalnya aku nggak jilbaban apa orang-orang itu bakalan tetep ada di sampingku? Kalo aku pendek, apa mereka masih mau temenan sama aku? Kalo aku suka marah-marah, apa orang-orang ini bakalan tetep bertahan di sekelilingku?

Tujuh menit. Aku harap sih apa yang orang-orang sekelilingku pilih untuk bertahan disekelilingku bukan karna sesuatu yang nampak. Kadang aku ngerasa nggak adil. Aku nggak terima kalo ada orang yang pilih-pilih komunikasi karena fisik belaka. Itu memuakkan. Harusnya, kamu memilih untuk mau berkomunikasi dengan seseorang, karena kemampuan komunikasinya termasuk isi percakapan itu.

Empat menit. Karena seringkali hal itu menyulitkan. Membuat aku menimbang-nimbang. Apa dia benar-benar ingin berada disekelilingku? Atau hanya ingin mendapatkan sesuatu? Apakah wajar aku berpikir seperti? aku hanya ingin mendapatkan keikhlasan dari orang-orang disekelilingku. itu saja. 

Baiklah. Waktuku sudah habis. Dan aku harus segera beranjak untuk bersiap. 

You May Also Like

0 comments