Hectic Day (2)

by - July 22, 2021

Setelah itu…

Sesampainya di RSAL, saturasi oksigen nenek ternyata rendah. Setelahnya akan dilakukan pemeriksaan swab untuk memastikan apakah nenek terinfeksi Covid atau nggak. 


Tes swab ini membutuhkan waktu 3 jam. Dalam waktu tersebut nenek akan dimasukkan IGD Covid sembari menunggu hasilnya. Ibu dan tante tentu nggak tega membiarkan nenek berada di antara orang yang sudah terinfeksi. Sedangkan nenek sendiri belum tentu terinfeksi. Akhirnya, ibu dan tante pun menolak untuk menjalani tes swab dan kembali mencari rumah sakit lainnya.


Setelah berkeliling ke beberapa rumah sakit dan mendapat jawaban yang sama, akhirnya ibu kembali membawa pulang nenek. Mereka pergi dari jam 7 pagi dan kembali sekitar jam 3 sore. Melihat nenek merintih nggak ada hentinya saat dipindahkan dari bed ambulance ke ranjang di kamar membuat saya nggak tega. 


Ibu dan tante pun lelah dan sudah nggak tega juga menggotong-gotong nenek. Saya lebih terkejut lagi saat ibu bercerita ambulance mereka sempat mengalami kecelakaan. Beruntung nggak parah. Saat melewati lampu merah ada pengendara sepeda motor yang melintas. Sepeda motor pun menabrak ambulance hingga sepeda motor itu masuk ke bawah mobil ambulance. Beruntung nggak ada korban jiwa. Mendengar itu saya cuma melongo.


Di rumah, kami semua tetap berusaha menghubungi tenaga medis (perawat atau dokter) yang bisa menangani nenek di rumah. Nihil. Mereka semua nggak bisa karena membutuhkan hasil PCR. Wajar sih. Di tengah kondisi seperti ini tentu semua orang berjaga-jaga. 


Saya dan saudara saya pun segera memesankan tes PCR home service. Dapat. Nenek dijadwalkan PCR hari Kamis jam 2 siang. 


Kamis


Jam 8 pagi saya dihubungi pihak laboratorium dan menanyakan ketersediaan nenek dites pagi ini. Tentu saya langsung setuju. Pikir saya, lebih cepat lebih baik. Mereka pun datang untuk melakukan tes pada nenek. Jujur, saya cukup deg-degan. 


Gimana nggak, saya, tante, dan ibu bergantian merawat nenek yang otomatis bersentuhan dengan darah nenek yang mengalir terus menerus di bibir beliau. Otomatis kalau nenek positif, kami bertiga pun pasti positif. Kepala saya sudah berputar menyiapkan segala skenario.


Gimana kalau hasil tes nenek positif? Kami semua berarti harus menjalani tes swab juga. Kalau kami positif juga, berarti kami harus isolasi mandiri. Kalau sampai ada yang bergejala gimana? Saya dan adik berarti harus ijin kerja. Dan banyak banget pertanyaan yang muncul di kepala. 


Jumat


Sorenya hasil PCR keluar. Jujur saya deg-degan bangeeettt. Buka email hasil tes PCR berasa buka email masuk perguruan tinggi. Begitu saya buka saya langsung lega banget. Hasilnya negatif!!


Saya langsung telepon ambulance yang kemarin dan segera nenek dibawa ke RSAL kembali. Harapannya dengan membawa hasil PCR negatif nenek akan langsung bisa ditangani dengan prosedur non covid. 


Sesampainya di sana, nenek kembali harus menjalani prosedur IGD. Cek saturasi dan mau nggak mau harus di swab karena saturasi nenek rendah. Nenek pun menjalani tes swab. Kami semua kaget karena hasil swab nenek positif. Nenek pun langsung dipindah ke IGD covid.


Saya nggak tahu gimana penjelasan medisnya. Ada banyak banget kemungkinan dari 2 hasil tes yang berbeda. 


  • Saya telepon pihak laboratorium dan menanyakan hal tersebut. Mereka menjelaskan bahwa seharusnya hasil PCR yang memakan waktu 8 jam lebih akurat daripada swab Antigen yang hanya memakan waktu 3 jam. 

  • Saya tanya teman saya yang perawat, ia menjelaskan kalau pada hari kamis saat dilakukan PCR bisa jadi virus belum terdeteksi. Alias masih masa inkbasi. Makanya hasil PCR -.

  • Bisa jadi juga nenek terinfeksi saat di rumah sakit setelah dilakukan PCR

  • Bisa jadi kesalahan SDM saat melakukan PCR atau swab di rumah sakit

  • Dan bisa jadi bisa jadi lainnya


Saya berusaha positive thinking dengan semua kemungkinan yang ada. Berusaha memaklumi. Buat kami yang penting nenek segera ditangani. 


Sabtu


Siang harinya nenek sudah dapat kamar isolasi. Alhamdulillah. Kali ini benar-benar nggak boleh ditemui. Berbeda dengan di IGD yang boleh ditemui meski hanya 1 orang.

Malam harinya saya dan ibu mengurus ke bagian administrasi karena terjadi kesalahan data. Ini pertama kalinya saya datang ke IGD. Kemarin-kemarin yang mengantar nenek adalah tante dan ibu karena saya masih harus bekerja. 


Waktu itu kami datang pukul 19.00. Kami duduk di depan IGD. Sejak pertama kali duduk saya sudah melihat banyak orang datang dengan berbagai kondisi. Ada yang menggunakan bed, kursi roda, ada juga yang terlihat sehat. 


Pukul 21.00 mata saya sudah mulai mengantuk. Ibu sudah tertidur di samping saya. Di tengah kondisi mengantuk, tiba-tiba ada 2 orang wanita keluar ruang IGD sambil menangis cukup kencang. Keduanya berkata “Innalillahi…”. Saya yang mendengar itu langsung otomatis sadar dan tertegun. 


Nggak lama kemudian, ada seorang wanita keluar ruangan IGD juga sambil menangis. Kali ini nggak kencang seperti 2 wanita sebelumnya. Ia duduk bersama keluarganya di samping saya yang telah menunggu sedari tadi. Mereka menundukkan kepala. Seorang pria terlihat begitu lesu. Wanita di sebelahnya memeluk wanita yang tadi menangis pelan. 


Dua kabar duka sekaligus.


Saya shock. Mata saya berkaca. Kejadian ini pertama kalinya buat saya. Mendengarkan berita kematian secara langsung. Suasana terasa mencekam sesaat. Yang terdengar hanya suara 2 wanita tadi yang sibuk menelepon kerabat sambil menangis. Beberapa orang lain saya lihat ikut menelepon kerabat mereka dan memohon doa untuk keluarga yang berada di IGD. ada yang menangis. 


Minggu


Sejak nenek masuk rumah sakit, tante dan ibu bergantian datang untuk menanyakan perkembangan kesehatan nenek. Pagi itu alhamdulillah keadaan nenek sudah membaik. Saturasi oksigen sudah kembali normal. HB juga sudah naik karena pendarahan di bibir sudah ditangani. Bibir nenek sudah dijahit. 


Hingga hari Rabu tanggal 21 kemarin keadaan nenek sudah semakin baik. Nenek juga telah melakukan swab dan hasilnya negatif. Alhamdulillah kami lega sekali.


***


Dari kejadian ini saya banyak memikirkan beberapa hal. Dari yang logis sampai yang julid. Nggak munafik, saya sempat berpikir yang aneh-aneh saat tahu hasil swab di rumah sakit positif padahal PCR negatif. Memang sih banyak faktor yang mempengaruhi. Buat saya, beberapa kejadian terasa janggal. Nggak masuk akal. Awalnya saya nggak terima. Tapi, mau gimana lagi? Ah, tapi ya sudahlah. Toh, yang penting sekarang nenek sudah baikan. 


Kejadian di IGD membuat saya semakin takut untuk keluar rumah. Berita duka yang dengan cepat datang seolah benar-benar menandakan bahwa kematian itu begitu dekat. Nggak kenal waktu. Nggak kenal usia. Memang kematian nggak bisa dihindari. Tapi, jujur saya belum siap karena belum punya bekal yang cukup. 


Horror? Iya memang beginilah keadaannya sekarang. Bukannya menakuti, tapi hanya sekadar mengingatkan diri sendiri. 


Seminggu kemarin memang banyak banget stressor yang datang. Kata ibu, badai pasti berlalu. 


Semoga teman-teman sehat selalu~

You May Also Like

3 comments

  1. alhamdulilah nenek sudah membaik ya mbak
    pergi ke rumah sakit disaat pandemi sekarng ini memang terkesan "horor", penjagaan yang ketat, kadang pasien hanya boleh ditunggu 1 orang saja.
    terus kalau melihat keluarga lain yang sedih, otomatis ikut sedih
    aku merasakan waktu almarhum bapak aku dirumah sakit, aku kayak ga berani melihat ke segala arah dengan banyak pasien, udah pasti tambah sedih

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah kondisi neneh membaik ya kak. Sebagai orang awam kadang aku pun suka suudzon sama hasil tes begitu. Tapi mau gimana lagi, tenaga medis mungkin lebih paham itu. Jadi kadang suka memastikan sama teman lain yang nakes biar lebih yakin.

    ReplyDelete
  3. Salam kenal mb. Saya menemukan blog ini di salah satu group FB tentang Blogging.

    Bulan Juli memang sedang meningkat ya mb, saya sekeluarga mengalami terpapar covid di bulan Juli lalu.

    Semoga kisah kita semua ini menjadi momen penting untuk perubahan diri ke arah yg lebih baik.

    ReplyDelete