Hectic Day

by - July 14, 2021

Sejak hari senin kemarin di rumah saya semuanya pada panik dan riweh. Terlebih di hari ini, sejak subuh saya sudah menggenggam ponsel untuk siap melakukan panggilan. 


Terbangun dengan kondisi tubuh nggak siap itu memang benar-benar nggak mengenakan. Saya terbangun karena ibu memanggil saya untuk meminta bantuan. Saya yang nggak terbiasa langsung berdiri jadi pusing. Baru sebentar saya tinggal ke kamar mandi, ibu sudah nggak ada. 


Ternyata, ibu ingin meminta bantuan saya untuk pergi mencari dokter. Iya. ada tragedi di hari Senin kemarin. Nenek saya yang sudah sepuh jatuh di depan kamar mandi. Saya dan ibu jelas shock dan merasa bersalah kenapa bisa sampai kecolongan. 


Senin 


Nenek terjatuh dengan posisi yang cukup fatal. Terlebih dengan kondisi nenek yang sudah rentan. Kami menemukan nenek dengan kondisi bibir berdarah, sedikit sobek, dan pundak kanan yang susah untuk digerakkan. Dengan kondisi susah bergerak, kami berusaha membopong nenek ke kamar. 


Setelah beberapa lama, nenek mengeluh kesakitan di beberapa bagian tubuh. Kami pun mulai panik dan menghubungi beberapa rumah sakit. Sayangnya, kebanyakan rumah sakit di tengah pandemi ini hanya menerima pasien covid. Hingga saya mencari layanan home service di website. 


Saya menemukan salah satu website yang menyediakan home service alias dokter datang ke rumah. Saya pun segera mendaftarkan nenek. Ada sedikit rasa lega dan berharap ini adalah solusi dari kepanikan kami. Dokter dijadwalkan datang pukul 9 malam. Sedikit merasa aneh, tapi kami berusaha positive thinking, ah mungkin dokternya sekalian pulang kerja. 


Kami menunggu dengan harap-harap cemas. Hingga pukul 11 malam, dokter tak kunjung datang. Sayangnya nggak ada kontak yang bisa dihubungi. Nomor yang tadi saya kirim chat whatsapp, kini hanya centang 1. Maklum, no WA Business. 


Selasa 


Hingga keesokan harinya, kami memutuskan untuk kembali mencari rumah sakit yang dapat menangani kondisi nenek. Akhirnya, kami dapat di RKZ langsung ke poli tulang. Tante saya sudah mengantri sedari pagi. IGD penuh dan menolak karena hanya menerima pasien covid. Kendala kedua adalah bagaimana bisa membawa nenek ke sana. Sedangkan nenek untuk bangun saja susah. Kami butuh ambulance. 


Saya menelepon beberapa puskesmas dan rumah sakit yang menyediakan ambulance. Sayangnya nggak ada ambulance yang tersedia. Hingga beberapa jam kemudian salah seorang kerabat memiliki kenalan sekolah yang memiliki ambulance. Syukurlah, ambulance pun kami dapatkan. 


Di rumah sakit, sayangnya nenek nggak mendapatkan penanganan yang seharusnya. Sebenarnya dokter sudah mengomel karena nenek saya nggak kunjung datang. Tante sudah mengantri sejak jam 9 pagi. Sedangkan jam prakteknya sebentar lagi sudah habis, jam 11. Pukul 10.30 kami baru mendapatkan ambulance. Proses evakuasi nenek dari kamar ke bed pun cukup memakan waktu. Karena bergerak sedikit saja nenek sudah merintih kesakitan. Hingga akhirnya nenek bisa masuk ke ambulance, dan ambulance segera beragkat. 


Sepulangnya dari rumah sakit, ibu bercerita kalau nenek nggak mendapatkan penanganan apa pun. Saya nggak bisa menemani karena harus bekerja. Bibir yang sobek berdarah nggak tersenutuh karena IGD menolak. Dokter dari poli pun nggak melakukan tindakan apa pun. Katanya, di rawat dirumah saja nggak apa-apa. Untuk pundaknya, dilakukan ronsen dan nenek diberi obat. Anehnya, setelah mengetahui kondisi adanya tulang yang patah, bahu nenek nggak di balut dengan kain atau diberi penanganan supaya tulangnya nggak geser semakin parah. 


Mendengar penjelasan tersebut jujur saya kecewa dan sedih. Bagaimana mungkin dokter tersebut berlaku seperti itu? 


Malam harinya bibir nenek semakin parah. Darah terus mengalir dan membuat nenek menjadi susah untuk makan dan minum. Mulutnya penuh darah. Nggak bisa dihindari, darah pun ikut tertelan. 


Rabu


Hingga pagi tadi, sejak saya bangun, saya sudah kembali menelepon beberapa rumah sakit yang menerima pasien non covid. Kami semua khawatir hingga ibu dan tante benar-benar nggak bisa tidur dengan nyenyak. 


Sayangnya, semua rumah sakit yang saya hubungi nggak bisa memberikan jawaban yang pasti. Ada yang nggak bisa menerima pasien selain covid dan sebagian lagi mereka bisa menerima tapi harus dilakukan screening awal. 


Setelah beberapa lama, tante saya mendapatkan jawaban baik dari RSAL. lalu, kami pun kembali menghubungi ambulance yang kemarin kami gunakan. Sayangnya, ambulance tersebut sedang digunakan orang lain. Kami pun segera mencari alternatif. 


Saya menghubungi beberapa nomor ambulance yang saya dapatkan dari teman. Sayangnya, ada yang sedang beroperasi, ke bengkel, atau telepon yang nggak diangkat. Hingga akhirnya saya menghubungi YDFF dan ternyata ada!


Saya cukup lega telah mendapatkan ambulance dan menunggu mereka berangkat. Sayangnya, sebelum berangkat tiba-tiba orangtua driver ambulance tersebut meninggal. Hingga mereka harus mencari pengganti. 


Satu jam kemudian mereka mengabari telah mendapatkan driver dan segera menuju rumah. Saya mulai tenang menanti mereka. Setibanya mereka di rumah, kami mengevakuasi nenek dan segera berangkat ke rumah sakit. 


**


Jujur di tengah keadaan seperti ini saya cukup lelah, sedih, kecewa, dan marah. Tapi, saya nggak tahu mau melampiaskannya ke siapa. Nggak mungkin kan saya meracau menyalahkan pemerintah karena pandemi yang nggak kunjung usai? 


Saya kecewa dengan dokter yang menangani nenek saya di RKZ. kenapa nggak melakukan tindakan pada bahu nenek yang patah? Apa karena jam prakteknya sudah habis? Ah, tapi mungkin dokter tersebut juga sibuk di tempat lain. Kami semua panik, makanya tante berangkat dahulu mengantri baru setelah mendapatkan antrian kami mencari ambulance. Sayangnya mencari ambulance di situasi ini nggak mudah. Nenek nggak bisa dibawa dengan mobil biasa. Karena butuh permukaan yang rata. 


Saya heran dengan IGD yang nggak melakukan tindakan apa pun untuk menghentikan pendarahan di bibir nenek saya. Padahal, saat saya mencari rumah sakit dan menjelaskan kondisi nenek, perawat tersebut juga bertanya-tanya heran, lho kok di sana nggak ditangani dulu mbak? Harusnya kalau ada pendarahan seperti itu ditangani terlebih dulu meski nggak menerima pasien non covid. Pertanyaan yang sama diajukan oleh teman saya yang sedang menempuh profesi dokter. 


Ah, entahlah. 


Semoga teman-teman baik-baik saja. Karena untuk sakit di situasi seperti ini sungguh sulit.

 


You May Also Like

13 comments

  1. Sekarang emang seperti itu.
    Akibat covid, penyakit lainnya seakan diabaikan begitu saja.
    Entah emang karena sudah SOP nya atau bagaimana.
    Tapi setidaknya harusnya tetap diberikan pelayanan sebaik mungkin.
    Semoga neneknya kembali sehat seperti sedia kala ya.
    Amin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you doanya mas. Mas Hans juga sehat2 ya

      Delete
  2. Mba Deaa, I'm so sorry to hear what you are going through ): semoga nenek lekas pulih dan bisa kembali ke rumah yaa. Aku sendiri kurang paham gimana protokol RS semasa pandemi ini. Kebetulan keluargaku kemarin ini sempat repot juga mencari RS serta ambulans karena Omku positif covid. Susahnya karena positif, nggak bisa naik taksi online juga. Untunglah sekarang udah mendapatkan penanganan di RS. Mba Dea dan keluarga semoga sehat-sehat yaa (:

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you Mbak Jane 💕 semoga Mbak Jane dan keluarga juga sehat2 yaa

      Delete
  3. Semoga nenek Mba Dea bisa segera sembuh ya Mba, aku baca ini merinding sekaligus sedih banget. Apalagi untuk Nenek Mba yang udah sepuh dan sakitnya termasuk parah yaitu jatuh, aku bener2 merinding pas baca...
    Emang situasi sekarang lagi susah banget ya Mba, buat yang sakitnya covid atau bukan, semuanya serba kasihan gak bisa dapet penanganan yang maksimal karena RS udah mulai kolaps. Sodara aku yang covid aja gak dapet RS padahal parah dan akhirnya engga terselamatkan, sekarang bener-bener harus bisa jaga diri sendiri banget.
    Semoga ini semua segera selesai dan keluarga Mba Dea sehat selalu ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you doanya Mbak Tikaa 💕 sehat2 juga buat Mbak Tikaaa

      Delete
  4. Membaca cerita mbak, jujur, aku ikutan merinding. Ga kebayang kondisi nenek mbak Dea yang jatuh di depan kamar mandi, kemudian mau dibawa ke rumah sakit, tapi kondisi begiu terus..
    Semoga lekas sembuh neneknya yaa mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you Mas Do. Mas Dodo juga sehat2 yaaa

      Delete
  5. Kak Dea, sorry for hear that 😭
    Semoga nenek Kakak bisa cepat sembuh ya 🙏🏻 gimana keadaan nenek sekarang? Apa udah lebih baik?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin thank you Liaa 💕 alhamdulillaah sudah ditangani rumah sakit. Lia dan keluarga juga sehat2 yaa

      Delete
  6. turut bersedih mendengar kabar ini mbak dea :(
    kondisi neneknya gimana mbak dea?
    Semoga nenek dan keluarga mbak dea baik-baik saja :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillaah udh mendingan mas di rawat di RS. Thank you doanya. Semoga Mas Rivai juga sehat2 yaa

      Delete
  7. Mba Dea doaku yang terbaik untuk Nenek Mba.. semoga beliau selalu diberi kesehatan. Aminn

    Jujur, aku pun sama seperti Mba Jane. Agak sedikit bingung dengan SOP Kebanyakan RS selama pandemi ini karena prosesnya jadi lebih panjang dan lama. Nggak kebayang sama pasien yg mesti segera mendapat pertolongan.

    Sehat2 selalu buat Mba Dea dan keluarga..

    ReplyDelete