Mendapatkan Toga Kehidupan Fase Kedua

by - July 09, 2022


Dulu saya pikir kalau yang namanya hidup pasti bisa lah dijalani. Pasti ada lah jalan keluar setiap permasalahan. Pasti bisa lah kita cari solusi sampai akhirnya mampu menoleh ke belakang dan menjadikan tragedi sebuah candaan. 


Itu, dulu. Tapi, ternyata begitu menjalaninya nggak semudah memikirkannya ya hehe. Menjalani kehidupan dewasa yang nggak semulus impian, sayangnya bikin banyak orang jatuh bangun. Jatuhnya bisa terjun bebas dari tebing, bangunnya merangkak perlahan. Bahkan ada pula yang sekadar bangun dari tengkurap saja susah. Yeah, that’s life


Saya jadi teringat kata-kata Morgan Housel di buku ‘Psychology of Money’. Di sana Housel menulis, 


Menjadi kaya itu satu hal. Menjaga tetap kaya itu lain cerita.


Saat membaca itu, tiba-tiba saya berpikir ini konsep yang sama dengan hidup yang kita jalani. 


Hidup itu satu hal. Bertahan hidup itu lain cerita.


Karena toh pada dasarnya kita semua bisa menjalani hidup. Bangun, bekerja, belajar, beraktivitas, tidur, dan bangun lagi keesokan harinya. Seperti kata orang kebanyakan, ya jalani aja lah. Hidup setiap harinya seolah tanpa benar-benar hidup. Mengingatkan saya dengan buku ‘Jakarta Sebelum Pagi’ karya Ziggy Z.



Sedangkan untuk bertahan hidp, menjadi hal yang cukup sulit dilakukan. Bertahan dengan pekerjaan yang menjemukan. Bertahan mengejar cita-cita yang entah kapan akan tercapai. Bertahan dengan lingkungan yang nggak supportive. Bertahan dengan jurusan kuliah yang nggak sesuai. Bertahan dengan kekasih yang butuh dukungan saat kita juga perlu didukung. Atau, bertahan mendapatkan pekerjaan untuk bertahan hidup. 


Kita semua sebenarnya nggak punya pilihan lain selain menjalani hidup ini sendiri. Karena pilihan yang mungkin saja bisa menjadi pilihan, tapi sangat nggak mungkin untuk diambil, adalah mengakhiri hidup itu sendiri. Kita seolah dipaksa untuk terus bangun dan memutuskan pilihan-pilihan kecil. 


Saat kuliah saya sempat berada pada titik nadir. Saat hidup begitu terasa berat karena keadaan rumah yang memuakkan hingga membukakan mata dan hati. Membuat saya memandang lebih luas dan memberi jarak pada rasa percaya terhadap orang sekitar.


Begitu melewatinya, saya merasa telah lulus ujian kehidupan dengan menjadi manusia baru yang lebih dewasa. Saya merasa hebat karena bisa lulus dalam kondisi tetap waras. Mengingat banyak sekali orang yang bersusah payah keluar dari kondisi ini dan melalui jalan yang berbeda.   


Saya pikir, setelah melewati itu saya menajdi manusia yang lebih tangguh dan dapat melewati segala ujian berikutnya. Sayangnya ternyata nggak semudah itu. Ujian hidup fase kedua kali ini cukup membingungkan. 


Saya berusaha mencari jawaban pada setiap buku bacaan, video, musik, dan banyak pertemuan dengan kisah berbeda. Tapi, saya nggak kunjung mendapatkan jawaban konkrit untuk dapat lulus ujian kehidupan kali ini. Anehnya, saya justru merasa semakin ragu untuk melangkah.


Yang bisa saya lakukan hanyalah menjalaninya. Mencoba bertahan setiap harinya dengan keputusan-keputusan kecil yang saya anggap terbaik. Untuk mendaptkan toga di fase kedua ini saya nggak tahu pasti kapan bisa lulus. Tetapi, saya harap saya bisa kembali melewati ujian ini. 



You May Also Like

1 comments

  1. Relate mbak
    Dulu waktu masih kuliah, ujian skripsi rasanya kayak ujian terberat, beberapa hari sebelum ujian udah ga nafsu makan hahahha. Dag Dig dug mulu
    Bisa lulus alhamdulilah.
    Next, masuk fase cari kerja dan dapat kerja. Ini juga berat, ga mudah juga
    Pas udah kerja bertahun-tahun juga ada ujian, kalau aku sendiri pasti ada aja problem di dunia kerja, yg kres sama atasan bisa jadi, ga sekali aja hahaha. Tapi habis itu ya biasa lagi.
    Mengenal beragam karakter di tempat kerja juga ujian

    ReplyDelete