Buber Panti Werdha Hargo Dedali

by - June 13, 2017

Foto bareng ibu-ibu Panti Werdha Hargo Dedali 

Bulan Ramadhan biasanya identik dengan banyak hal-hal baik. Para manusia yang notabenenya beragama islam berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan, buka puasa bersama misalnya. Tetapi, hal ini tidak hanya dilakukan mayoritas kaum muslim, kaum nasrani dan agama lain pun melakukan hal yang sama/kebaikan yang sama untuk menghargai adat agama islam. Buka puasa bersama biasanya dilakukan dengan orang-orang yang kurang mampu secara ekonomi atau bisa juga yang membutuhkan kebersamaan kita. Anggap saja hal ini menyambung silahturahmi antar manusia yang sebelumnya tidak saling kenal. Dan yang lebih dari itu adalah, kita bisa belajar banyak hal dari mereka. Salah satunya, turut peduli pada keadaan sekitar, menumbuhkan rasa simpati dan empati. Seperti tujuan puasa pada dasarnya, yaitu ikut merasakan apa yang mereka rasakan, menahan rasa lapar saat tak mampu membeli makanan.

Seperti tahun lalu, kali ini aku dan teman-teman mengadakan buka puasa bersama (buber). Kalau tahun lalu kami mengadakannya di Panti Asuhan yang penghuni pantinya adalah anak-anak kecil yang berusia 4-15 tahun, kali ini kami mengadakan buber dengan ibu-ibu penghuni Panti Werdha Hargo Dedali. Di panti ini, penghuninya semuanya adalah ibu-ibu. Usia mereka berkisar antara 61-120 tahun. 
     
Panti Werdha Hargo Dedali ini berlokasi tepat di belakang Perpustakaan Daerah Jawa Timur (Perpusda Surabaya) dan berdekatan dengan pintu masuk Kampus Stiesia Surabaya. Waktu pertama kali aku survey kesana dengan temanku, Bayu, kesan pertama yang aku rasakan adalah tempatnya sungguh tenang. Tidak bising suara kendaraan bermotor dan juga tidak padat rumah-rumah. Bangunan panti berupa rumah yang lapang dengan ventilasi udara yang sangat memadai. Ruang resepsionis sangat lapang. Ruangan ini juga digunakan untuk tempatnya acara (seperti pada foto diatas). Panti ini dihuni sekitar 51 ibu-ibu lansia dan 20 pengurus remaja. Satu kamar dihuni oleh 3 ibu-ibu dengan ranjang terpisah. Lokasi kamar melingkar mengelilingi taman kecil yang berada tepat di belakang ruang utama (ruang acara). Disekeliling taman ada jalan setapak, dan jalan setapak itu dikelilingi pegangan untuk membantu ibu-ibu berjalan (sebagian dari mereka tidak mampu berjalan sendiri tanpa pegangan).

Sejujurnya, ini pertama kali kunjunganku (dan beberapa teman) ke panti werdha. Jadi kami sedikit canggung membawakan acara. Ternyata ibu-ibu ini suka sekali bernyanyi dan ada diantara mereka yang dapat menyanyikan lagu dalam bahasa asing, seperti mandarin. Untungnya ada teman yang membawa gitar jadi kita bisa bernyanyi bersama. Aku melihat ada seorang ibu-ibu yang menangis saat seorang teman mempersembahkan lagu yang berjudul Berita kepada Kawan yang dinyanyikan oleh penyanyi legendaris Indonesia, Ebiet. Hehe jelas ajalah ya si ibu nangis orang liriknya aja sedih begitu. Mungkin mereka ingat perjuangan mereka dahulu, ingat keluarga mereka.

Saat acara bercerita, kami meminta salah seorang ibu untuk menceritakan kisah mereka dahulu. Ada seorang ibu yang ingin sekali bercerita, tapi sayangnya mic yang disediakan tidak dapat menjangkau ibu tersebut. Ibu ini, kakinya sakit jadi sulit untuk berjalan ke depan tempat mic. Akhirnya digantikan oleh ibu-ibu yang lain. Mereka berasal dari berbagai macam background yang berbeda-beda. Ada yang dulunya seorang guru, bidan, bahkan pejuang kemerdekaan.

Seusai acara ditutup dengan kata terima kasih, ibu-ibu kembali ke kamarnya masing-masing. Aku memperhatikan mereka satu per satu berdiri. Beberapa ada yang susah untuk berdiri, dan untungnya ibu yang disebelah mereka mau membantu. Terlihat sekali mereka saling tolong menolong. Mungkin ini yang membuat mereka betah tinggal disini. Kemudian pandanganku berhenti kepada 3 orang ibu-ibu yang berusia 70 tahun. Aku menghampirinya dan bertanya. Ternyata beliau tidak dapat berdiri karena kakinya memang tidak dapat berjalan dengan baik. Beliau adalah ibu yang tadi ingin bercerita. Akhirnya aku dan seorang teman, Mas Rici, mengantarnya sampai ke kemar. Beliau berjalan perlahan dengan menyeret kaki. Miris sekali.

Beliau bercerita, kalau dulunya ia adalah seorang pejuang kemerdekaan. Ia turut andil menyaksikan secara langsung bagaimana proses perebutan kemerdekaan Indonesia. Aku sedikit penasaran mengapa beliau ada disini. Setelah bertanya, ternyata anaknya merasa kesulitan merawat ibunya. Kedua anaknya berkerja. Yang pertama di Sidoarjo dan yang satunya lagi di Malang. Keduanya sudah berkeluarga. Aku pun bertanya sekali lagi dengan sedikit hati-hati, apakah mereka masih sering mengunjungi beliau? Sang ibu menjawab, hanya anaknya yang di Sidoarjo yang secara rutin mengunjunginya. Yang di Malang sudah hampir tidak pernah datang. Hmm, sedih. 





         Disini aku belajar untuk lebih menghargai orangtua. Seorang ibu khususnya. Aku sedikit sedih melihat mereka, walaupun mereka mengatakan kalau mereka senang tinggal di panti karena banyak temannya (yang seumuran dan senasib). Ada diantara mereka yang tidak ingin merepotkan anaknya, maka dari itu dengan inisiatif sendiri mereka memutuskan untuk tinggal di panti. Ada juga yang karena tidak punya keluarga akhirnya dibawa tetangga untuk tinggal di panti. Dan, yang paling miris adalah ada anaknya yang memang dengan sengaja menitipkan ibunya untuk tinggal dipanti dengan alasan sibuk, mungkin.

Bagaimana bisa kamu menitipkan ibumu di tampat asing? Jauh dari jangkauanmu dalam waktu lama. Tanpa tahu kabarnya setiap hari. Beliau makan apa? Sedang apa?  Dengan range kunjungan seminggu sekali. Sebulan sekali. Beberapa bulan sekali. Atau bahkan kamu bisa lupa untuk mengunjunginya dengan alasan sibuk. Memangnya dulu saat kamu masih kecil ibumu pernah lupa untuk sekedar menemanimu? 
           
          











You May Also Like

0 comments