Pedakian Gunung Lawu

by - October 23, 2019




Akhirnyaaaa setelah sekian lama saya tidak bercengkrama dengan udara gunung, saya memutuskan untuk back to nature hihi. Rindu sekali rasanya melihat pepohonan dan langit penuh bintang. Teman saya secara tiba-tiba mengajak saya untuk melakukan pendakian ke Gunung Lawu. Ah, dulu saya pernah melakukan pendakian tetapi sayangnya tidak sampai puncak. Hanya sampai pos 2 saja karena hipotermia. Kali ini pun saya merasa tertantang, apakah saya sanggup menyelesaikannya?

Berbeda dengan pengalaman sebelumnya, kali ini kami berenam naik bus dari Surabaya pada Jumat (18/10) kemarin. Kami bertemu di Terminal bungurasih jam 10 malam. Selang beberapa menit saya tiba, teman-teman saya tiba dan kami langsung menuju bus. Kami naik bus ekonomi (28ribu) arah ke Solo, turun di Terminal Maospati, Magetan. Bus kami berangkat pukul 11 malam.

Seturunnya saya dari bus saya sudah mulai deg-degan hehe. Entah akan ada apa di depan saya hanya bisa berdoa saja. Kami tiba di Terminal Maospati jam 3 pagi disambut dengan udara dingin. Teman-teman memutuskan untuk duduk-duduk sambil minum kopi di warung depan terminal. Menyesuaikan diri dengan hawa dingin. Dari terminal kami lanjut dengan mobil carteran (250ribu) menuju pos Cemoro Kandang.



Sesampainya di basecamp Cemoro Kandang udara semakin dingin. Jam sudah menunjukkan pukul 4.30 pagi. Sambil meluruskan kaki, beberapa dari kami ada yang berbelanja keperluan di warung terdekat dan ada pula yang sholat. Pukul 7 pagi kami mendaftar dan memulai pendakian. Bismillah. Saya hanya bisa mengucap sholawat selama perjalanan. Sebenarnya saya cukup parno karena saya memakai jaket warna hijau pupus. Di papan depan basecamp ditulisakna beberpa peraturan dan pantangan selama berada di Gunung Lawu. Salah satunya adalah tidak boleh menggunakan benda berwarna hijau pupus. Beh, waktu baca saya langsung deg-degan. Ah, tapi tak apalah. Banyak berdoa saja.

Setelah berdoa pun kami memulai mendaki. Dari pengalaman yang sudah-sudah, saya cukup belajar untuk menyimpan tenaga di awal. Teringat dulu waktu pertama kali mendaki ke Gunung Penanggungan, di awal jalan saya sudah terburu-buru dan ngos-ngosan duluan haha. Malu-maluin. Sempet juga di ingetin temen, pelan-pelan aja nanti capek ini masih permulaaan. Eh, beneran capek ngos-ngosan haha.



Kami berenam pun jalan santai sambil berbincang dan bergurau singkat. Baru berjalan beberapa meter nafas saya sudah memburu hehe. Maklum aja nggak pernah olahraga sih. Rencananya Jogging tiap hari, eh malah Cuma dua hari sekali. Ya wajar ngos-ngosan. Untungnya mereka semua pada sabar banget nungguin saya hehe (jangan ditiru ya, usahain persiapan dulu sebulan/dua bulan sebelumnya). Dari basecamp ke pos 1 jalanannya masih enak. Kayak tracking biasa Cuma emang rada panjang. Kurang lebih 1.5 jam kita sampe di pos 1. Sekitar jam 8.30.



Di pos 1 kami istirahat sebentar. Lagi-lagi mereka pada ngelawak haha. Partner perjalanan saya kali ini seru deh pokoknya. Penuh tawa receh tapi sangat menghibur dan bikin rileks. Jadi bikin perjalanan nggak berasa kalo lagi mendaki. Dan mereka bener-bener paham banget kalo saya sama temen saya nggak kuat nafasnya hehe.  Setengah jam kemudian kami lanjut lagi.



Perjalanan dari pos 1 ke pos 2 lebih pendek dari sebelumnya. Medannya udah mulai rada ada selingan bebatuan pasir. Kurang lebih 1,5 jam kita sampe di pos 2. Sekitar jam 10. Mendaki kali ini bener-bener sepi. Entah karena melewati pos Cemoro Kandang yang katanya lebih panjang atau memang tidak banyak yang sedang mendaki. yang berpapasan dengan kami pun dapat dihitung. Di pos 2 kami istirahat cukup lama. Sempat tertidur pula dengan angin yang sepoi-sepoi haha. Enak sih emang. Setelah sholat dhuhur jam 12 kami berangkat lagi.

Menuju pos 3 jalanan tidak lagi melewati tengah hutan. Melainkan pinggir tebing! Wih pemandangannya bagus bangeeeet deh pokoknya. Salah satu kelebihan lewat jalur ini memang ada di pemandangannya yang wow. Cukup adil lah dengan jarak yang lebih panjang haha.



Di perjalanan, kami metik buah marbery yang kecut manis. Seger aja gitu makan marbery di siang bolong haha. Tapi saya nggak begitu banyak makan marbery karena belum makan siang. Daripada mag mendadak.

Sepanjang jalan menuju pos 3 saya Cuma bisa terkagum-kagum sama pemandangan yang disuguhkan. Ah, inilah yang saya rindukan dari mendaki. jauh-jauh dari laptop, liat yang hijau-hijau live hihi. Alhamdulillah masih bisa diberi tenaga dan waktu buat nyambangi gunung ini.

Jam 3 sore sesampainya di pos 3, saya langsung tidur. Sudah nggak kuat karena keringetan dan capek. Belum lagi udara yang tadiya panas mulai dingin karena masuk sore hari. Jaga-jaga biar nggak hipotermia lagi saya langsung minum yang anget-anget sebelum tidur dan gosokin minyak kayu putih ke kaki dan tangan. Bangun-bangun makanan sudah siap haha terbaik memang teman-teman saya ini. Alhamdulillah bisa mendaki bareng orang yang peduli sesama tanpa rasis gender.

Kami makan mie dan minum-minuman hangat. Setelah kenyang, giliran teman-teman saya yang tidur sejenak. Kasihan. Mungkin mereka juga capek tadi nungguin saya berhenti-berhenti. Ternyata emang bener sih, makin banyak dan lama berhenti itu makin capek. Karena badan kita yang udah ‘panas’ kudu mulai pemanasan lagi kalo kelamaan istirahat.



Bangun-bangun, kita beberes dan mulai perjalanan lagi. Tepat setelah adzan maghrib kita berangkat. Sebelumnya, temen saya ngasih pilihan mau ngecamp di pos 3 ini atau lanjut di pos 4 aja. Kalo ngecamp di pos 3 berarti besok bakalan lebih lama karena kita lintas jalur pulangnya (alias nggak lewat cemoro kandang). akhirnya saya pun milih untuk tetep lanjut karena masih kuat. Saya mah jujur aja di awal daripada ngerepotin yakan hehe. Saya kuat lanjut tapi bakalan banyak berhenti karena nafas saya pendek-pendek dan nggak kuat dingin.

Selama perjalanan, karena sudah malam dan udara makin dingin, kami nggak banyak bicara. Takut salah bicara dan mengganggu. Udara yang semakin dingin ditambah angin yang mulai kecang membuat saya berdoa lebih panjang dalam hati. Kami pun berjalan semakin rapat untuk saling menjaga. Hanya senter yang membantu perjalanan kami.

Dari pos 3 menuju pos 4 kami berjalan di tepi tebing. Hingga beberapa meter sebelum pos 4, medan berubah menjadi bebatuan. Pohon-pohon sudah tak terlihat. Hanya batu saja. Kalo kalian pernah ke Gunung Penanggungan, nah sama kayak ke Puncak Pawitra. Batu-batuan ditambah angin kencang. Kami pun saling bergandengan tangan. Secara saya yang enteng ini takut banget miber hehe.



Waktu liat rangka galvalum senangnya saya bukan main. Alhamdulillah sampe juga di pos 4. Sekitar jam 8 malam kami tiba di pos 4. Pos 4 ini ternyata beruba tenda bersama yang dibuat oleh pemilik warung. Tendanya terbuat dari terpal sedangkan warungnya dari galvalum.

Awalnya teman saya mengetuk-ngetuk pintu masuk nggak ada jawaban dan sempet mikir kalo ini tenda nggak ada orangnya. Kami sempet berencana lanjut ke pos 5 dan ngecamp disana aja. Tapi, alhamdulillah ternyata ada orang. Didalam tenda sudah ada beberapa orang yang tidur. Pantas aja sepi.

Kami pun masuk dan langsung pesan teh hangat. Sambil main uno dan ngemil kita menghangatkan diri. Angin mulai kerasa lebih kencang lagi. Terpalnya sampe bunyi berisik kayak mau terbang. Saya sempat ngeri tapi kayaknya itu udah biasa. Setelah main uno kami memilih untuk tidur.

Baru beberapa menit memejamkan mata, kami dibangunkan oleh pemilik warung untuk pindah kedalam warung yang rangka galvalum. Alias rumah si pemilik warung. Cuaca semakin buruk. Angin semakin kencang dan terpal semakin lama semakin tak dapat menahan terpaan angin.

Angin yang semakin kecang menimbulkan bunyi berisik saat menerpa galvalum. Berisik yang menegrikan bagi saya. ini kali pertama saya merasakan badai di gunung. Seram. Saya sempat berpikir, apa gara-gara saya pakai jaket berwarna hijau ya? hehe kalo lagi takut mah apa aja bakalan di sambung-sambungin yakan.

Jam menunjukkan pukul 9 malam. Sampe kapan ini badainya ya? tanya saya dalam hati. Saya melihat sekeliling. Didalam ruangan berukuran 4x4m ini orang-orang nampak santai sekali. Memaksakan diri untuk tidur seakan sudah terbiasa dengan keadaan begini. Pemilik warung dan beberapa temannya mondar-mandir masuk keluar untuk memperkuat galvalum ini agar tidak terbawa angin.

Udah tidur aja, kata teman saya. Ah, mana bisa saya tidur begini. Tapi, lama-lama saya pun mengantuk dan tertidur. Meski tidak nyenyak dan terbangun karena suara angin yang kencang, saya tetap memaksakan diri untuk membunuh waktu dengan tidur. Hingga saya terbangun jam 5 pagi dan keadaan tetap sama. Angin tetap kencang.

Hingga pukul 8 pagi pun angin masih saja kencang. Perut saya yang hanya terisi jajanan dari kemarin pun mulai memberontak. Beberapa teman keluar menerjang angin untuk mengambil logistik. Alhamdulillah masih ada jajanan dan minum. Memasuki jam 10 malam, kami memutuskan untuk memasak mie lagi. Padahal kami bawa nasi, tapi rasanya ini bukan waktu yang tepat. Kami pun memasak mie dan minuman hangat.

Dalam kondisi seperti ini, kami saling berbagi makananan dan minuman. Ada sekitar 7 rombongan dari berbagai daerah. Ada yang dari Tasik, Tanggerang, Solo, Bojonegoro, dll. Inilah yang saya sukai dari mendaki. orang-orangnya ramah-ramah padahal mereka belum kenal. Saya banyak belajar dari kegiatan ini. Untuk berbuat baik tak harus mengenal terlebih dahulu. Sekedar menyapa dan menyemangati saja itu sudah menjadi salah satu kebaikan tersendiri.

Setelah kenyang, kami memutuskan untuk turun. Menerobos angin dengan doa dan hat-hati. Waktu saya keluar, rasanya saya hampir saja terbang untung teman saya sigap memegangi saya. setelah berkemas dan berdoa, kami berpamitan dengan pemilik warung yang baik hati.



Kami turun tak lagi berenam, melainkan bertujuh. Perjalanan kembali kami melewati beberapa jalan pintas yang dipilih oleh teman baru kami yang dari Bojonegoro. Meski lebih mudah, nampaknya ia lebih lincah dari kami semua haha apalagi saya.

Perjalanan pulang selalu terasa lebih cepat. Kami pun tak banyak berhenti. Hanya sesekali untuk mengambil nafas dan minum. Kami berhenti sejenak di pos 3 untuk berfoto. Karena belum ada dokumentasi foto bersama hehe. Setelah itu kami lanjut perjalanan kembali.

Kami tiba di pos bayangan pukul 4 sore. Karena lapar belum makan nasi dari kemarin, kami pun memasaka semua perbekalanan. Meringankan bebas tas. Chicken nugget, telur, dan nasi. Cukup sederhana yang penting kenyang. Karena air kami mulai menipis, nasi yang kami masak pun masih agak keras hehe tapi tak apa yang penting perut terisi.



Setelah itu kami melanjutkan perjalanan pukul 5 sore. Dari pos bayangan ke pos 2 hanya sebentar. Kami tiba di pos 2 pukul 5.30 sore. Kami pun memutuskan untuk berhenti sholat. Setelahnya kami melanjutkan perjalanan kembali.

Ditengah perjalanan, teman saya keseleo. Memang sih kami jalan terlalu cepat. Belum lagi karena teman saya menggunakan sandal temannya karena sandalnya hilang saat berlindung dari badai. Kami pun berjalna lebih pelan dan merapat karena sudah mulai gelap.

Tak terasa, kami pun akhirnya tiba di pos masuk Cemoro Kandangjam 8 malam. Ah, senangnya saya tiba dengan selamat di pos masuk. Kaki saya yang tadinya tak terasa apa-apa kini mulai terasa lelah dan bergetar haha maklum ya nggak pernah olahraga sih.

Kami bersih-bersih diri sebentar. Untuk ke Terminal Maospati kami dberi tumpangan oleh teman baru kami. Alhamdulillah. Di terminal kami singgah sebentar di warung untuk makan dan minum. Sesai janji saya pada diri sendiri, saya langsung pesan es jeruk dan es teh haha karena selama perjalnana turun saya memang sudah membayangkan es jeruk. Segar sekali!

Setelah kenyang kami pun naik bus dan kembali ke Surabaya.

Perjalanan kali ini sangat menyenangkan bagi saya. Meski baru kenal, rasanya tidak canggung. Selama perjalanan kami diisi oleh tawa. Mungkin itu yang membuat saya lebih rileks dan kuat hingga sampai pos 4. Saya terharu mereka begitu baik dan sabar menunggu saya banyak berhenti untuk mengambil nafas. Serta langsung turun tanpa melihat sabana padahal sudah jauh-jauh kemari karena saya senin harus bekerja. Karena mendaki itu soal kebersamaan. Semoga dilain kesempatan bisa mendaki lagi sampai puncak! Aamiin!


You May Also Like

5 comments

  1. Suatu saat kali yah bisa ngedaki gunung lawu hehe
    Visit gan : aisurunihongo.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. Suatu saat kali yah bisa ngedaki gunung lawu hehe
    Visit gan : aisurunihongo.blogspot.com

    ReplyDelete
  3. Semangat, pendakian berikutnya sampai puncak. Hehe

    ReplyDelete