Review film: Memories of Murder (2003)

by - October 17, 2020



Title : Memories of Murder

Genre : Thriller/Crime

Release : 2003

Actor : Kang Ho-song, Kim Sang-kyung

Director : Bong Joon-ho

Duration : 132 minutes


Park Doo-man, seorang detektif di sebuah desa terpencil yang dikejutkan dengan ditemukannya mayat wanita di tengah ladang. Mayat itu ditemukan dalam keadaan tidak memakai pakaian dan tangan terikat di belakang sedangkan mulutnya dibungkam oleh kaus kaki. Dengan sekilas pandangan, polisi berasumsi bahwa ini adalah kasus pemerkosaan dan pembunuhan. 


Selang beberapa hari kemudian, ditemukan mayat wanita dengan kondisi yang sama persis. Hanya berjarak beberapa meter dari kejadian pertama. Sejak saat itu, desa tersebut menjadi berbahaya bagi para wanita untuk berkeliaran seorang diri di tengah malam. Penyelidikan yang di ketuai oleh tim Park Doo-man sayangnya menemui jalan buntu. Kurangnya petunjuk membuat Park Doo-man memanipulasi barang bukti agar nama baiknya tidak tercemar. Hal ini pun membuatnya sembarangan menuduh dan memaksa orang tersebut untuk mengakui hal yang tidak dilakukannya. 


Kesulitan tersebut pada akhirnya membuat detektif senior dari Seoul datang untuk membantu, detektif Seo Tae-yoo. Berbeda dengan detektif Park, detektif Seo bekerja dengan tenang dan teliti. Ia memeriksa setiap kemungkinan yang ada untuk menemukan pelaku yang sebenarnya.  Tentunya hal ini membuat detektif Park terganggu karena ketua pada akhirnya lebih mempercayai detektif Seo. Hingga pada akhirnya kasus diambil alih oleh detektif Seo. 


Saat petunjuk demi petunjuk mulai mengarah pada sebuah benang merah, detektif Seo bersama timnya mulai berusaha untuk menjebak pelaku. Kedua pembunuhan itu memiliki pola. Sama-sama terjadi saat hujan turun dan saat sebuah lagu sedih diputar di radio. Kedua korban juga mengenakan baju berwarna merah. Pada jalanan yang diduga menjadi titik pelaku menculik korbannya, detektif Seo bersembunyi. Sayangnya, penantian detektif Seo dan timnya tak membuahkan apapun. Tidak ada pembunuhan yang terjadi saat itu. Ia bersama timnya malah mendengarkan cerita mengenai toilet sekolahan yang angker.


Dari cerita toilet sekolahan angker tersebut, detektif Seo menemukan beberapa petunjuk lagi hingga mengarah pada seseorang yang tak pernah diduga sebelumnya


Sejujurnya ini film Bong Joon-ho yang kedua yang saya tonton setelah Parasite. Dengan tokoh utama yang sama, film ini seru banget. Plotnya bikin penasaran dan saya jadi ikutan excited menebak-nebak siapa sekiranya pelaku yang sebenernya. POV kameranya juga bikin saya berpikir kalau pelakunya itu tim detektif itu sendiri. Karena dari body language-nya keliatan banget kalo dia benci banget perempuan. Eh, ternyata saya salah dong. 


Bisa di bilang ini film dengan ending gantung yang bikin penasaraaannnn asli. Di endingnya saya jadi bingung padahal udah di test urine tapi pelaku tersebut nggak terbukti. Kan saya jadinya menerka-nerka ini teknologinya yang kurang canggih atau begimaneee. Penasaran asli kok bisaaa. Yang suka ending gantung mungkin bakalan cocok karena nggak ada penjelasan kenapa pelaku melakukan pembunuhan yang brutal tersebut. 


Seperti film Parasite, di film ini juga ditampilkan secara nyata kesadisan adegan kayak waktu saksi yang gangguan mental ditabrak kereta api. Itu bener-bener ditampilakn dan bikin saya ngilu bangeet. Beberapa luka di mayat juga ditampilkan dengan sangat gamblang. Buat yang gampang terganggu dengan hal-hal sadis dan darah mungkin bakalan mual dan risih. Bukan cuma penyajian visual, ceritanya juga serem. Setiap mayat perempuan memiliki luka yang berbeda sesuai dengan barang yang dibawa. Misalnya aja anak sekolahan yang bawa alat tulis dan alat makan, semua benda itu di masukkan ke (maaf) alat kelaminnya. Saya nggak kuat banget sih liatnya. 


Over all, film ini bagusss bangeeet. Ceritanya unik, menarik, dan bikin kepo. Saya cuma nggak habis pikir aja sama perilaku dan pemikiran psikopat si pelaku. Semoga aja nggak ada manusia seperti itu di dunia ini. Wajib nonton, mindblowing bangeett!!



You May Also Like

0 comments