Review Film: A Separation (2011)

by - October 30, 2020


Judul : A Separation

Genre : Drama

Release         : 2011

Actor : Leila Hatami, Payman Maadi

Director         : Asghar Farhadi

Duration      : 120 minutes


Semua orang selalu berharap pernikahan membawa mereka dalam kebahagiaan. Tetapi, yang namanya hidup memang tidak menjanjikan akan selalu baik-baik saja. Seperti yang diamali oleh pasangan suami istri berkebangsaan Iran, Nader (Payman Maadi) dan Simin (Leila Hatami). Mereka memutuskan untuk bercerai karena merasa tak lagi bisa sejalan. Simin ingin ke luar negeri agar Termeh, anak perempuannya, bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Sedangkan sang suami, tidak bisa meninggalkan ayahnya yang mengidap penyakit alzheimer sendirian. Tetapi, pengadilan tentu tidak semudah itu mengijinkan perceraian dan meminta mereka untuk berdiskusi mencari solusi terbaik. 


Karena ditolak pengadilan, Simin pun memutuskan untuk tinggal di rumah orangtuanya sementara. Ia berkata kepada anaknya, ini tak akan lama. Tapi, Termeh tentu saja tidak semudah itu percaya. Meski ia masih berumur 14 tahun, ia mengerti situasi dalam keluarganya. 


Termeh tinggal dengan ayah dan kakeknya. Semenjak ibunya pergi, karena ayahnya harus bekerja dan Termeh sendiri harus sekolah, tak ada yang menjaga kakeknya. Ayahnya mempekerjakan seorang asisten rumah tangga untuk mengurus rumah dan juga mengurus kakeknya selama ayahnya dan Termeh tidak di ruamah. 


Razieh, asisten rumah tangga Termeh, merupakan seorang muslim yang taat. Awalnya ia berpikir kalau ini adalah pekerjaan yang cukup mudah. Hanya membersihkan rumah, kan? Tetapi, Razieh menjadi ragu saat ia harus mengantarkan kakek Termeh ke kamar mandi untuk berganti pakaian karena ia mengompol. Razieh yang kebingungan akhirnya bertanya kepada salah seorang ulama yang ia percaya. Ia menjelaskan kondisinya di rumah tidak ada seorang pun dan kondisi kakek yang tak berdaya mengurus dirinya sendiri. 


“Kalau ia sudah lanjut usia dan tak mampu mengurus dirinya sendiri, kau bisa membantunya berganti pakaian. Itu tidak akan berdosa. Ia mengidap penyakit alzheimer bukan?”


Razieh pun akhirnya membantu kakek untuk berganti pakaian meski risih dan takut berdosa. Apalagi kalau sampai suaminya tahu ia akan dimarahi habis-habisan. Bahkan, untuk datang bekerja kemari saja ia tak meminta ijin suaminya karena takut dilarang. Razieh hanya ingin membantu ekonomi keluarga karena kondisi mereka saat ini sedang sulit. Suaminya baru saja dipecat dan belum juga mendapatkan pekerjaan. 


Setelah kejadian itu, Razieh memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan itu. Ia merekomendasikan suaminya kepada Nader. Dengan syarat, Nader tak boleh mengatakan pada suaminya kalau ia pernah bekerja dengan Nader sebagai asisten rumah tangga. Sayangnya, saat hari yang dijanjikan suami Razieh tak bisa hadir dan Raziehlah yang menggantikan suaminya. Ia pun bekerja seperti biasa. 


Saat Razieh sedang membereskan rumah, ia meminta anaknya untuk membuang sampah. Tetapi, sampah itu malah berceceran di tangga dan membuatnya lebih berantakan. Saat Razieh membersihkan tangga, anaknya mengatakan kalau kakek itu tidak ada di kamarnya. Razieh mencari kakek di seluruh sudut rumah. Ia panik karena tak menemukannya. Ia pun mencarinya di luar dan melihat kakek sedang tertatih berjalan membeli koran. 


Termeh dan ayahnya sampai di rumah. Termeh terkejut karena melihat kakeknya pingsan di lantai dengan tangan terikat di dipan kasur. Ayahnya panik dan marah karena tak menemukan Razieh dan anaknya di rumah, padahal ini masih waktu bekerja. Untungnya, sang kakek masih bisa terselamatkan. Meskipun begitu Nader marah bukan main. Saat Razieh datang dan mengatakan ia keluar sebentar untuk urusan mendadak, ia langsung marah dan mengusir Razieh dari rumahnya. Kemarahannya semakin jadi saat ia tahu uangnya yang ia simpan di laci hilang. 


Kondisi Nader yang dalam keadaan marah membuatnya tak bisa menahan diri hingga ia mendorong Razieh dan terjatuh di latai tangga. Meski berkali-kali Razieh mengatakan kalau ia tidak mencuri, Nader tetap tak mempercayainya. 


Setelah kejadian itu, Simin menelpon anaknya dan meminta suaminya untuk datang menemuinya. Simin bertanya kepada Nader kejadian yang sebenarnya, karena Razieh merupakan adik dari kenalannya. Nader terkejut saat Simin berkata Razieh masuk rumah sakit dan bertanya padanya, 


“Apakah kau tahu kalau Razieh sedang hamil?”


Film ini menceritakan isu keluarga yang sering terjadi. Keegoisan masing-masing. Istrinya pengen banget ‘memiliki hidup yang lebih baik’ dengan merantau. Sedangkan suaminya nggak bisa meninggalkan ayahnya. Ia ingin berbakti hingga akhir hayatnya. Nah, kalau sudah begini yang jadi korban jelas anaknya. Meskipun nggak ingin memilih, ia tetap harus memilih. 


Hilangnya peran ibu di rumah, membuat masalah datang satu per satu. Nggak ada yang merawat ayah Nader dan nggak ada yang beresin rumah karena Nader harus kerja. Mau nggak mau harus cari asisten rumah tangga. Dan saya yakin cari asisten rumah tangga yang cocok dan amanah itu juga nggak gampang. Setelahnya, eh muncullah konflik Razieh keguguran yang bikin suaminya sedih. Lantas berubah marah saat ia tahu yang bikin Razieh keguguran adalah Nader. Konflik pun merembet ke ranah hukum. Nader membela diri, meski ia mendorong Razieh ia yakin bukan itu yang membuat Razieh keguguran. Terlebih Nader mengaku kalau ia bahkan nggak tahu kalau Razieh hamil. 


Sampai akhirnya Razieh ketakutan menerima uang damai dari Nader, ia mengaku kalau ia keguguran saat menyebrang jalan mencari ayah Nader. Yap. saat Razieh meninggalkan rumah dan mengikat ayah Nader di ranjang agar nggak kemana-mana, Razieh ke dokter kandungan. 


Dari film ini saya jadi semakin yakin, saat akan menikah semuanya harus di komunikasikan. Menurut saya, seharusnya mereka merencanakan kehidupan mereka sebelum menikah. Yaa, meski bisa aja sih di tengah perjalanan mereka berubah pikiran. 


Kalau di agama saya, islam, perceraian itu hal yang paling dibenci sama Allah. Tapi, terkadang itu satu-satunya jalan keluar yang baik bagi keduanya. Setelah sebelumnya keduanya usaha mencari solusi lain tentunya. Saya nggak bisa komen banyak soal pernikahan sebagai pasangan karena saya belum menikah. Tapi, saya bisa sedikit berkomentar peran anak yang jadi korban karena saya merasakannya juga. 





Bagi saya, anak bakalan jadi korban. Meski terkadang, bakalan ada kelegaan hatinya karena ia nggak bakalan lagi tertekan melihat orangtuanya beradu argumen. Tapi, saat mengalaminya, itu bakalan jadi titik balik sang anak. Entah berubah menjadi semakin dewasa atau malah tenggelam dalam keadaan depresi. Kehilangan sosok salah satu orangtua juga bikin ia kebingungan. Anggep aja misalnya ia tinggal dengan ibunya, ia bakalan lupa peran ayah. Karena yang ia lihat adalah ibu yang merangkap jadi ayah. Pribadi anak pun perlahan bisa berubah.


Over all, film ini cukup bagus. Sangat rekomen untuk ditonton. Buat yang mengalami hal yang sama, semoga makin kuat dan ingat kalau kalian nggak sendirian. Buat yang merasakan keharmonisan keluarga sampai sekarang, film ini bisa jadi bahan pembelajaran untuk lebih memahami orang lain dengan kondisi tersebut. Karena kita nggak pernah ingin mengalami hal itu. 


Sekiyaaannnn~ 


P.S: kira-kira next review film apa ya? Sudah nonton Midsommar?



You May Also Like

0 comments