Pernah memperhatikan posisi bahu atau pinggul seseorang yang tampak tidak sejajar? Atau melihat seseorang berdiri dengan tulang belakang yang terlihat melengkung ke samping?
Kondisi seperti ini bisa menjadi tanda skoliosis. Sayangnya, masih banyak orang yang menganggap kelainan ini sebagai masalah postur biasa, padahal kalau tidak ditangani sejak dini, skoliosis dapat memengaruhi kualitas hidup hingga mengganggu fungsi paru-paru pada kasus yang berat.
Mengenal Skoliosis, Kelainan Tulang Belakang yang Melengkung ke Samping
Skoliosis adalah kelainan pada tulang belakang yang menyebabkan tulang belakang melengkung ke arah samping membentuk huruf "C" atau "S". Berbeda dengan postur tubuh yang membungkuk, skoliosis merupakan perubahan struktur tulang belakang yang dapat berkembang seiring waktu.
Kelengkungan tulang belakang pada skoliosis diukur menggunakan metode Cobb Angle melalui pemeriksaan rontgen. Biasanya seseorang disebut mengalami skoliosis apabila sudut kelengkungannya mencapai lebih dari 10 derajat.
Kondisi ini dapat terjadi pada siapa saja, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Namun, kasus paling sering ditemukan pada masa pertumbuhan, terutama usia 10 hingga 18 tahun.
Penyebab Skoliosis
Hingga kini, sebagian besar kasus skoliosis tidak diketahui penyebab pastinya. Jenis ini dikenal sebagai skoliosis idiopatik dan merupakan jenis yang paling umum.
Selain itu, skoliosis juga dapat disebabkan oleh kelainan bawaan sejak lahir (skoliosis kongenital), gangguan saraf dan otot, cedera atau trauma pada tulang belakang, dan infeksi atau tumor pada tulang belakang. Selain itu, perubahan degeneratif akibat penuaan yang menyebabkan tulang belakang kehilangan stabilitas juga dapat menjadi penyebab skoliosis.
Meskipun kebiasaan membawa tas berat atau duduk membungkuk sering dikaitkan dengan skoliosis, kebiasaan tersebut umumnya tidak menjadi penyebab utama. Namun, postur tubuh yang buruk tetap dapat memperparah keluhan nyeri punggung.
Gejala Skoliosis yang Perlu Diwaspadai
Pada tahap awal, skoliosis sering kali tidak menimbulkan rasa sakit sehingga banyak kasus baru diketahui saat kelengkungan sudah semakin parah.
Berikut ini beberapa tanda yang dapat dikenali:
- Bahu kanan dan kiri tidak sejajar
- Salah satu tulang belikat tampak lebih menonjol
- Pinggang terlihat tidak simetris
- Pinggul memiliki ketinggian yang berbeda
- Tubuh tampak condong ke satu sisi saat berdiri
- Pakaian terlihat tidak pas atau menggantung tidak rata
- Nyeri punggung, terutama pada orang dewasa
Pada kondisi yang lebih parah, skoliosis dapat menyebabkan sesak napas karena ruang paru-paru menjadi lebih sempit akibat perubahan bentuk tulang belakang.
Faktor Risiko Skoliosis
Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami skoliosis. Salah satunya adalah riwayat keluarga, karena kondisi ini dapat diturunkan secara genetik, terutama pada kasus skoliosis idiopatik.
Selain itu, masa pertumbuhan yang cepat pada anak dan remaja juga menjadi periode yang perlu diwaspadai karena kelengkungan tulang belakang dapat berkembang lebih cepat.
Risiko skoliosis juga lebih tinggi pada individu yang memiliki kelainan bawaan pada tulang belakang, gangguan neuromuskular seperti cerebral palsy atau muscular dystrophy, serta orang lanjut usia yang mengalami perubahan degeneratif pada tulang belakang akibat proses penuaan.
Memahami faktor-faktor risiko ini penting agar skoliosis dapat dikenali dan ditangani sedini mungkin.
Bagaimana Skoliosis Didiagnosis?
Diagnosis skoliosis dilakukan melalui kombinasi pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Untuk mendiagnosis, dokter akan mengevaluasi bentuk bahu, pinggul, dan posisi tubuh. Lalu dokter juga akan memeriksa tingkat kelengkungan tulang belakang, fleksibilitas tubuh, dan riwayat kesehatan pasien.
Apabila dicurigai terdapat skoliosis, pemeriksaan rontgen dilakukan untuk mengukur derajat kelengkungan tulang belakang. Pada kondisi tertentu, dokter juga dapat menyarankan CT Scan atau MRI untuk melihat kondisi tulang belakang secara lebih detail.
Jenis Penanganan Skoliosis
Penanganan skoliosis bergantung pada usia pasien, tingkat keparahan kelengkungan, serta risiko perkembangan penyakit.
1. Observasi Berkala
Untuk skoliosis ringan, dokter biasanya hanya melakukan pemantauan rutin setiap beberapa bulan untuk memastikan kelengkungan tidak bertambah parah.
2. Fisioterapi
Latihan fisik dan fisioterapi dapat membantu meningkatkan kekuatan otot, memperbaiki keseimbangan tubuh, serta mengurangi keluhan nyeri.
3. Penggunaan Brace
Pada anak dan remaja yang masih dalam masa pertumbuhan, penggunaan brace dapat membantu mencegah kelengkungan semakin memburuk. Brace biasanya direkomendasikan untuk kelengkungan dengan derajat tertentu sesuai hasil evaluasi dokter.
4. Operasi
Jika kelengkungan sudah cukup berat atau mengganggu fungsi tubuh, tindakan operasi dapat menjadi pilihan. Prosedur operasi bertujuan meluruskan tulang belakang sekaligus menjaga stabilitasnya menggunakan implan khusus.
Apakah Skoliosis Bisa Dicegah?
Karena sebagian besar kasus skoliosis tidak diketahui secara pasti penyebabnya, kondisi ini memang tidak selalu dapat dicegah. Namun, deteksi dini memiliki peran penting agar penanganan dapat dilakukan sebelum kelengkungan semakin parah.
- Melakukan pemeriksaan postur tubuh secara berkala pada anak dan remaja
- Segera memeriksakan diri apabila terdapat bahu atau pinggul yang tidak simetris
- Menjaga kesehatan tulang dengan pola makan bergizi
- Rutin berolahraga untuk memperkuat otot punggung dan inti tubuh
Mengikuti kontrol sesuai anjuran dokter jika telah didiagnosis skoliosis
Percayakan Penanganan Skoliosis kepada Dokter Ortopedi Berpengalaman
Penanganan skoliosis memerlukan evaluasi menyeluruh oleh dokter ortopedi supaya penyebab, tingkat keparahan, dan pilihan terapinya dapat ditentukan secara tepat.
Jika Anda mengalami gejala yang mengarah pada skoliosis atau memiliki anggota keluarga dengan kondisi serupa, segera lakukan pemeriksaan. RS EMC memiliki layanan ortopedi yang didukung oleh dokter spesialis berpengalaman serta fasilitas diagnostik dan penanganan yang komprehensif.
Dengan pemeriksaan yang tepat sejak dini, peluang untuk mengendalikan perkembangan skoliosis menjadi lebih baik.












Post a Comment