Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam dan aku masih berkutat di depan laptop.
Pandanganku nanar menatap layar Canva yang entah sudah berapa jam terbuka. Bukannya mendekati desain yang aku inginkan, aku justru semakin bingung harus mengubah bagian yang mana lagi.
Mataku mulai terasa sepet dan lelah. Sesekali aku menguceknya lalu kembali menatap layar.
Ini kalau desainnya jelek, terus nggak ada yang daftar event-nya gimana?
Padahal, event ini bukan acara main-main yang dibuat dadakan. Berminggu-minggu bahkan dua bulan sebelumnya kami memikirkan konsepnya, mencari venue, membuat konsep, sampai membayangkan seperti apa rasanya melihat peserta benar-benar datang dan menikmati acara yang kami buat.
Aku memang sering bilang kalau bikin event itu seru banget. Ada kepuasan tersendiri saat sesuatu yang awalnya hanya berupa ide dan kumpulan referensi di Pinterest jadi kenyataan.
Tapi, kalau ada yang bilang bikin event itu cuma "main-main", mungkin mereka belum tahu keriwehan persiapannya yang dar der dor.
Ada desain yang harus direvisi berkali-kali, menerjang teriknya matahari Surabaya untuk survey venue, cari sponsor, bikin roundown, video yang harus diedit berjam-jam, menyiapkan perintilan seperti booklet, stiker, dan banyak lainnya.
Belum lagi kalau misalnya kami bikin event walking tour sekaligus journaling. Nambah lagi tugas untuk memastikan rute yang menarik dan nyaman.
Seru? Iya. Tapi ternyata, di balik keseruan itu ada mata yang turut bekerja keras.
Dari Ide ke Desain
Meski membuat konsep juga nggak mudah, yang paling PR buatku adalah bagian membuat desain.
Karena kami mengandalkan media sosial, tentu kekuatan visual sangat berpengaruh menarik peserta.
Membuat poster yang bisa menggambarkan konsep acara yang kami bayangkan nyatanya nggak mudah. Sering banget aku scrolling Instagram dan Pinterest berjam-jam untuk mencari referensi konsep dan desain.
Meski sudah ada referensinya, terkadang mengaplikasikannya pun nggak mudah. Harus mencari kombinasi font yang cocok, perpaduan warna yang matching, sampai mengisi space yang kosong supaya desain nggak terasa sepi. Dan inilah yang sering menjadi kendalaku. Desainku terasa sepi, mungkin seperti hidupku haha.
Saking dikejar deadline, tanpa sadar mata nggak istirahat berjam-jam karena terlalu lama menatap layar ponsel dan laptop bergantian. Mataku mulai terasa sepet.
Mungkin karena seharusnya setiap 20 menit aku mengalihkan pandangannya sejauh 20 kaki (6 meter) selama 20 detik untuk menjaga kesehatan mata.
"Tapi ini harus cepet-cepet posting biar bisa diiklanin,” kata otak mengingat deadline menolak keluhan mata. Sabar, ya, mata. Kita bakalan istirahat setelah event selesai kok.
Waktu lagi stuck, kadang aku menonton Youtube atau film dengan dalih refreshing sebentar. Pikiran mungkin beristirahat sejenak, tapi sayangnya hal ini nggak turut serta mengistirahatkan mata.
Kalau dipkir-pikir, mata kita istirahat kalau lagi tidur aja. Kebanyakan manusia modern menghabiskan waktunya 7,5 jam per hari di depan layar, menurut Data Kementerian Komunikasi dan Digital. Padahal screen time yang disarankan untuk orang dewasa adalah 4 jam.
Belum lagi beberapa orang yang bahkan bisa belasan jam di depan layar karena tuntutan pekerjaan. Aku nggak bisa membayangkan bagaimana kondisi kesehatan matanya. Karena nggak semua penyakit mata menunjukkan gejala.
Setelah berjam-jam menatap layar, ternyata perjuangan mata belum selesai. Besoknya, mata kembali diajak bekerja ketika aku harus survey beberapa venue di Surabaya.
Tidak hanya cuaca yang panas, polusi di Surabaya berada di kategori sedang (yang kadang bisa naik sewaktu-waktu). Bisa dibayangkan gimana rasanya harus survey venue ke beberapa lokasi berjauhan jam 11 siang?
Dan lagi, mata mulai terasa perih. Sabar, ya, mata. Sebentar lagi.
Hari yang Dinanti Tiba, Mataku Malah Meronta
Meski sudah mengadakan event beberapa kali, sampai saat ini aku masih merasa deg-degan sekaligus excited menjelang hari-H. Berulang kali aku dan temanku memastikan semuanya sudah beres. Dari perlengkapan, rundown, sampai hal-hal kecil lainnya.
Peserta mulai berdatangan. Kegiatan berjalan sesuai rundown. Peserta berbincang, tertawa, journaling, dan sibuk dengan karya masing-masing. Melihat semuanya berjalan sesuai rencana, ada perasaan lega dan bahagia. Aku senang sekali merekam momen-momen itu. Termasuk membuat video sponsor.
Semua revisi desain, survey venue, chat sponsor, sampai drama persiapan akhirnya terasa worth it.
Sambil mendokumentasikan acara, aku mengunggah beberapa video ke media sosial kami. Hal ini juga menjadi salah satu kewajiban kami pada sponsor. Supaya mereka tahu bagaimana jalannya acara real time. Dan di saat aku sibuk dengan ponselku mengunggah konten, mataku terasa panas dan lelah.
“Aduh, jangan sekarang!” batinku berusaha mengendalikan mood.
Nggak pantas rasanya sebagai fasilitator tampil dengan wajah badmood dan mata merah. Karena aku sangat sadar kalau mood kami berdua sangat menentukan suasana acara.
Mungkin karena aku menyepelekan gejala mata SePeLe (sepet, perih, dan lelah) yang diberitahukan mataku sejak beberapa hari lalu. Aku pun memaksakan diri bertahan karena event sudah hampir berakhir.
Event Selesai, Mata Masih Bertugas
Setelah event usai, masih ada foto dan video yang harus aku pilih untuk diedit untuk kebutuhan publikasi dan menyelesaikan tanggung jawab pada sponsor yang telah mendukung event kami.
Lagi-lagi, mataku harus menatap layar ponsel. Meski sedikit agak nggak nyaman, aku lebih memilih mengedit di ponsel melalui aplikasi CapCut karena nggak perlu repot memindahkan file. Dan di sinilah aku semakin sadar kalau pola ini sebenarnya berulang.
Saat mataku mulai terasa sepet atau lelah, aku nggak bisa selalu berharap rasa nggak nyaman itu bakalan hilang sendiri. Apalagi setelah event masih ada pekerjaan yang mengharuskan aku menatap layar lagi.
Selain memberi jeda pada mata, aku mulai mencari cara lain yang bisa membantu meredakan gejalanya. Tanpa banyak berpikir, aku membeli Insto Dry Eyes New Packaging di minimarket dekat rumah karena sudah merasa cocok sebelumnya.
Syukurlah setelahnya mataku mulai membaik dan aku bisa melanjutkan pekerjaanku tanpa harus ke dokter.
Pengalaman ini membuat aku sadar kalau rasa nggak nyaman pada mata bisa jadi sinyal yang perlu diperhatikan. Bukan sesuatu yang harus terus-menerus ditahan demi menyelesaikan pekerjaan.
Karena ternyata membuat event yang menyenangkan juga membutuhkan mata yang sehat dan ramah.
Seru-Seruan Boleh, Mata Kelelahan Jangan
Event yang terlihat “main-main” dari luar nyatanya punya cerita panjang di belakangnya.
Ada ide yang dipikirkan berulang kali, desain yang dibuat sampai malam, survey venue di bawah matahari, hari-h yang harus ceria, sampai video recap yang harus dikerjakan setelah acara selesai. Dan di setiap proses itu, mata ikut bekerja keras.
Dari pengalaman ini aku belajar kalau produktif juga bisa tetap menjaga kesehatan mata kok. #MataSePeLeJanganSepelein dengan mengistirahatkan mata, menjaga kebiasaan menatap layar, dan menggunakan tetes mata #InstoDryEyes sesuai gejala ketika mata mulai terasa nggak nyaman.
Karena buatku perjuangan membuat event bukan hanya tentang gimana acaranya terlihat keren atau seru. Tapi juga gimana aku bisa sampai di hari-h untuk menikmati suasananya dengan #BebasMataKering.








.png)




Post a Comment