Mendaki Penanggungan

by - June 19, 2015

puncak pawitra 

Keberangkatanku ke penanggungan ini memang bisa dibilang sebuah kenekatan. Gimana nggak, olahraga aja jarang eh main berangkat aja. Belom lagi fisik yang lagi nggak bagus akhir-akhir ini. Mama pun awalnya nggak ngijinin aku berangkat. Beliau khawatir aku kenapa-napa (gara gara darah rendahku). Tapi berkat bujuk rayu (read: paksaan) akhirmya aku pun mengantongi ijin ortu hehe mohon tidak ditiru.
Kita berangkat dari Surabaya sekitar jam setengah 9an malam dan sampai di pos pendakian jam 11an. Setelah daftar dan bayar kita berdoa sebelum mulai mendaki. Then here we go!
Awalnya semangat banget jalannya sampe-sampe temenku yang biasa mendaki ngingetin 'santai aja jalannya ntar ditengah jalan udah capek lho' jadi malu sendiri karena terlalu excited hehe. Bener aja belom sampe setengah jalan udah ngos ngosan. Dengan kondisi apa adanya, waktu mendaki pun bolak balik berhenti buat duduk ngatur nafas. Untungnya ada temenku yang sabar banget nemenin aku istirahat. Dari sini kita bisa lihat kesetiaan temen kita. Nah buat kalian yang mau ngetes kesetiaan temen/sahabat/pacar kalian, ajak aja hiking haha.

Awalnya memang pesimis bakalan sampe dipuncak bayangan, apalagi di puncak pawitra. Tapi, berkat dikomporin sama temen-temen, jadinya semangat. Nggak jarang mereka bilang 'bentar lagi sampe' 'sekitar 30 menit lagi' 'itu punggungan udah kelihatan kok'. Hahaha lucu aja kalau diinget-inget. Si mas yang biasa naik gunung bilang 30 menit lagi sampe. Okelah aku yang awalnya duduk jadi semangat jalan lagi. Trus karena nggak sanggup aku pun duduk lagi nenangin detak jantung yang gak karuan. Eh si mas masih aja keukeuh bilang 30 menit lagi. Walaupun aku tau itu cuma sekedar kata manis tapi makasih deh sudah disemangatin. Seenggaknya dalam hal ini berbohong demi menyemangati teman dihalalkan :))

Setelah sekitar 2-3 jam berjalan, sampailah kami di puncak bayangan pukul 2 dini hari. Huwaahhh seneng banget rasanya! Kita disambut oleh hawa dingin gunung. Brrr! Jelas aku kedinginan. Bajuku basah karena keringat, diterpa angin malam pula. Kami pun bergegas mencari tanah kosong untuk mendirikan tenda. Malam ini banyak sekali pendaki. Seakan akan kami tidak berada di puncak gunung, tapi berada di pasar malam karena ramainya. Untung saja kami menemukan tanah kosong. Kami pun bergegas mendirikan tenda dan istirahat. Sekitar jam 5 pagi, melawan hawa yang semakin dingin kami berjalan menuju puncak pawitra mengejar matahari. Sekilas dilihat dari puncak bayangan, puncak pawitra dekat saja. Tapi, begitu berjalan rasanya tidak sampai sampai. Puncak seperti fatamorgana haha. Sempat rasanya putus asa. Padahal sedikit lagi kami tiba di puncak pawitra. Aku pun duduk di batu besar. Menguji nyali melihat kebelakang. Sungguh indah. Dan ini pertama kalinya aku melihat gunung yang biasanya hanya kulihat dari kejauhan saat berkendara, kini berjarak sangat dekat. Lalu aku memandang ke bawah, ke arah tenda kami didirikan. Ternyata aku sudah berjalan sangat jauh. Tenda kami saja sudah tak terlihat.



Ini membuat aku semangat lagi untuk mendaki. Aku pun kembali berjalan keatas hingga melihat bendera merah putih berkibar. Rasanya senang sekali! Aku tiba di puncak! Berada dipuncak gunung penanggungan untuk pertama kalinya! Senang sekali. Padahal awalnya ragu bakalan bisa sampe puncak dengan selamat. Hehe nggak melebih-lebihkan, tapi memang begitu. Soalnya aku punya darah rendah jadi pesemis banget pas berangkat bakalan bisa sampe puncak.

Ternyata begitu ya mendaki gunung. Melelahkan tapi juga menyenangkan. Banyak pelajaran yang bisa aku ambil dari perjalanan mendaki ini. Solidaritas, semangat, dan optimisme. Semuanya seakan tergambar jelas dalam pendakian ini. Yang tak kenal menjadi kenal, yang tak peduli menjadi peduli, begitupula sebaliknya. Kutub positif negatif saling tarik menarik menunjukkan mana yang lebih dominan. Topeng demi topeng terbuka menyamarkan kepalsuan, menujukkan keasliannya.

full team 



You May Also Like

0 comments