Senandung Hujan (1)

by - July 16, 2015

        Kepalaku pusing sekali. Aku berjalan terhuyung ke kanan kiri. Hampir saja aku terjatuh jika aku tak sigap memegang meja ini. Kukuatkan tubuhku untuk kembali berjalan. Satu langkah. dua langkah. Aku tak tahan lagi. Aku pun terjatuh. Aku seakan berada di ruangan kosong yang memantulakn suara. Aku mendengar namaku dipanggil. Tapi aku tak dapat melihat siapa itu. Pandanganku mulai buram. Semakin buram. Hingga gelap.
              
        Kakakku, Kak Arsta, segera menghampiriku yang sudah tergeletak didepan kamar. Wajahnya cemas tak karuan melihatku yang sudah pucat pasi. Kak Tyo  menggendongku menuju mobilnya digarasi. Mereka berdua tampak seperti orang kesetanan menuju garasi. Kak Arsta melewati papa yang dengan serius memperhatikan laptopnya.
              
        “Pa, Rasya jatuh!” katanya dengan panik pada papa. Papa yang tadi wajahnya begitu serius pada laptop kini berdiri dan berlari menuruni tangga mengikuti kak dimas. Wajahnya tak jauh berbeda dengan kak dimas. Semua orang panik. Apakah semua orang mencemaskanku? Aku sedikit tak percaya melihat diriku begitu dicemaskan.  Aku mengikuti mereka.


                                               ***
      
        Jalanan kota ini begitu padat. Pagi ataupun malam kau akan selalu menemukan keramaian dalam kota ini. Ya, karena begitulah kota besar. Kota tempat dimana aku dilahirkan hingga kini aku menginjak usia 20tahun. Ternyata sudah selama itu aku berada di kota ini. Malam ini seharusnya jadi malam yang indah. Betapa tidak, lihatlah kau bisa mengamati  bintang yang begitu bersinar di bawah sini. Dengan ditemani cahaya lampu gedung bertingkat yang berlomba lomba menampakkan keindahannya dimalam hari. Angin bertiup tidak begitu kencang. Aku sangat menikmati malam ini. Kuhirup oksigen dengan sangat serakah. Kupejamkan mata sambil meresapi apa arti semua ini.
           
        Papa berlari mengambil kereta kasur rumah sakit. Berteriak begitu kasar kepada para perawat didalam untuk segera memeriksaku. Kak Arsta, Kak Tyo, papa, beberapa perawat, dan seorang dokter segera mendorongku menuju ruang UGD. Tubuhku yang pucat pasi  terbaring lemah diatas kasur putih itu. Aku mengikuti mereka, menikmati pemandangan itu.
              
         Seorang suster bertubuh mungil melarang Kak Arsta, Kak Tyo, dan papa untuk mengikuti mereka masuk ke dalam ruangan. Seperti di dalam sinetron saja, kataku sambil tertawa kecil. Suster itu menyuruh mereka untuk menunggu diluar. Mereka tampak cemas. Aku mendekati papa yang duduk dengan lunglai tepat didepan pintu ruangan bertuliskan UGD. Tubuhnya begitu kurus. Baru kali ini aku berada sedekat ini dengan beliau. Beliau duduk. Aku pun ikut duduk disebelahnya. Kuamati wajahnya yang begitu tampak tua. Keriput memenuhi wajahnya. Mestinya tak muncul sebanyak ini, mungkin akibat mengkonsumsi rokok dan kopi selama bertahun tahun. Matanya begitu lelah. Ada sebuah kantong besar tepat dibawah matanya. Kusentuh wajahnya yang begitu kasar. Aku tak tahan membendung air mataku yang sendari tadi sudah memberontak ingin pecah. Kapan terakhir kali aku sedekat ini dengannya?

You May Also Like

0 comments