Senandung Hujan (2)

by - July 23, 2015



Setetes air jatuh tepat dijidatku. Aku membuka mata kembali ke masa kini. Bayangan papa tadi begitu mengacaukan hatiku. Aku harus senang atau sedih. Kutengadahkan wajahku menatap langit yang begitu gelap sekarang. Mengapa langit berubah begitu cepat. Padahal tadi aku sangat menyukai suasananya. Begitu terang dan sekarang awan gelap menutupi bintang bintang yang kukagumi. Apa yang harus kulakukan?
                ‘hai’ aku menoleh pada sumber suara. Seorang pria berumur kurang lebih 25 tahunan. Sangking sibuknya aku dengan semua pikiranku yang kacau aku sampai tak menyadari ada seseorang yang sudah duduk disebelahku.
                ‘hai’ balasku singkat lalu kembali menatap keramaian kota didepanku.
                ‘apakah aku mengganggu?’ tanyanya sopan.
                ‘tidak. Justru aku berterima kasih karena kau telah menyadarkan aku. Kalau tidak aku pasti sudah melayang layang entah kemana. Terima kasih’ kataku tersenyum padanya. Ia membalas senyumku. Sangat menenangkan. Deg! Mengapa jantungku berdetak seperti ini. Apakah aku mengalami sakit jantung tiba tiba?
                ‘lalu apa yang sedang kau lakukan?’ katanya seraya mengayunkan kaki.
                ‘memikirkan sambungan semua cerita ini. Kau sendiri?’
                ‘jangan terlalu banyak berfikir. Jika kau mencari jawaban ini semua dengan berfikiir. Aku jamin kau tak akan menemukan apa apa. Hmm, bagaimana jika kau ikut denganku saja?’ katanya seraya mengulurkan tangan padaku.
                ‘kemana?’ tanyaku bingung.
             ‘sudah ikut saja’ ia begitu saja menarik tanganku menuruni tangga menuju dalam gedung rumah sakit ini. Menuruni tangga demi tangga. Semakin cepat. Semakin cepat. Hingga sangat cepat. Hingga tiba pada sebuah pintu. Aku tak yakin tadi aku keluar dari pintu ini. Hingga kami sampai tepat didepan pintu kusam itu. Dia melirikku lalu tersenyum. Pandangannya seakan bertanya ‘siap?’ aku semakin heran dengan tingkahnya. Ia membuka pintu kusam. Dan kami masuk. 


 ***

Aku tak dapat melihat apapun. Sinarnya membuat mataku silau sekali. Perlahan lahan mataku mulai beradaptasi dan menangkap bayangan pria yang membawaku kemari. Dimana aku? Dimana kami?Dia tersenyum menatapku. Kami berada di taman yang sangat luas. Dengan pepohonan yang rimbun dan bermacam macam bunga ada disini. Aku senang sekali. Aku  tak pernah mengunjungi tempat seindah ini. Ya secara aku dibesarkan di kota besar yang sangat padat. Disini sangat tenang. Aku hanya dapat mendengarkan kicauan burung dan air yang mengalir. Udaranya begitu sejuk seakan tak tercemar polusi udara sedikit pun. Aku tersenyum lebar melihat sekeliling hingga tanpa sadar aku berlari seperti anak kecil.
                ‘tak menyesal kan ikut denganku?’ pertanyaan yang kupikir tak membutuhkan jawaban itu kubalas dengan senyuman lebar.
                ‘ini dimana?’ kataku sangat penasaran. Mungkin aku bisa sesekali datang kemari melepas penat jika aku bosan dirumah atau bisa juga kujadikan tempat liburan bersama kak dimas.

                ‘ini adalah tempat kedamaian. Dimana tak ada angkara murka, benci, dengki, dan semua hawa negatif lainnya. Yang ada hanya rasa bahagia dan tentram. Aku yakin kau akan sangat betah disini’ kata pria itu sambil duduk dibawah pohon yang sangat rindang, aku pun mengikutinya. 

You May Also Like

0 comments