1.

by - February 18, 2018



Semilir angin menerpa wajahku. Membisikkan kehidupan baru. Memberikan harapan untuk tetap tinggal. Berjuang melewati kerasnya badai. Senyumku mengembang di pagi buta. Aku menatap langit dengan penuh keyakinan hari ini akan jauh lebih baik.

Saat sang surya mulai menampakkan kehadirannya, aku memutuskan untuk pergi. Aku biarkan hati memilih tempat yang ia ingini. Nyatanya, pilihannya selalu sama. Taman. Aku melangkahkan kaki. Kali ini aku mempersilahkan sang kaki untuk memilih tanah yang ingin ia tapaki. Bangku kosong di sisi danau. Giliran mata yang ingin memilih. Kubiarkan ia menyapu pemandangan didepan. Hijau yang ia suka, gelombang tenang air pun tak lupa. Kali ini giliran telinga memilih. Kupejamkan mata dan mendengarkan suara-suara yang ada.

Kukeluarkan buku tulisku. Mengambil pena dan mulai menulis. Kutulis semua hal yang aku rasakan. Menumpahkan semua emosi yang selama ini tak sempat tersalurkan.

Seorang pria memandangku. Mungkin ingin tahu. Sendari tadi aku hanya berdiam diri. Duduk manis hening tanpa suara. Sesekali menoleh dan menulis. Mengunyah sebatang coklat dan menulis lagi. Sibuk dengan pena dan buku. Mungkin dia bertanya-tanya. Mengerjakan tugas? Haha. Tentu aku tidak sedang mengerjakan tugas apapun. Bahkan aku tak ingin mencium hal berbau kenyataan. Aku ingin berlibur dengan imajinasiku dan impianku. Caraku beristirahat dari kehidupan.

Mungkin dia akan terus bertanya. Hanya mampu bertanya dalam hati. Tak berani untuk bersua ataupun melakukan kontak fisik. Mungkin sadar diri. Mungkin juga berkecil hati. Padahal setiap manusia sama di mata Tuhan. Semoga sama pula di setiap mata manusia.



You May Also Like

0 comments