Review Buku: Padang Bulan by Andrea Hirata

by - December 17, 2020



Judul : Padang Bulan

Author : Andrea Hirata

Publisher         : Bentang Pustaka

Published : 2011

Pages : 310

Genre : Fiction


Enong adalah seorang gadis yang suka sekali belajar. Melihat Bu Nizam mengajar bahasa Inggris membuatnya ingin pula menjadi guru bahasa Inggris. Sayangnya, sekolah dasar pun ia tak tamat. Kejadian buruk menimpa keluarganya yang merubah segala kehidupannya. Ayahnya, sebagai tulang punggu keluarga meninggal saat bekerja di tambang. Tertimbun. Begitulah sekiranya nasip yang menimpanya. 


Sejak saat itu ia merasa bertanggung jawab dengan ibu dan adik-adiknya sebagai anak pertama. Ia meninggalkan sekolah dan merantau ke Tanjung. Tapi, sayangnya tak ada yang mau mempekerjakan gadis kelas 6 SD yang terlihat kekurangan gizi tersebut. Meskipun segala upaya telah ia lakukan agar terlihat menarik. Mulai dari memakai pakaian ibunya berlapis-lapis agar terlihat berisi hingga memoles wajah yang justru terlihat sangat tidak cocok dengannya. Semua yang dilakukannya sia-sia. Akhirnya Enong pun pulang ke rumahnya dengan sedih. 



Sedih tak dapat membantu keluarga, Enong pun menyendiri di tepi sungai. Saat itulah Enong mendapatkan ide untuk menjadi kuli timah. Pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh laki-laki tersebut mau tak mau harus ia lakukan di usia belia. 


Seperti ciri khas tulisan Andrea Hirata, buku ini memuat kisah perjuangan seorang anak yang terpaksa mencari nafkah untuk keluarganya. Bukan anya Enong, tokoh di buku ini juga ada Ikal. bedanya, jika Enong berjuang mencari nafkah, Ikal berjuang demi mendapatkan cinta pujaan hatinya. 


Buku ini cukup ringan untuk dibaca di sela-sela kesibukan. Andrea Hirata selalu mampu membuat pembaca penasaran dengan kelanjutan kisah para tokohnya. Tapi, yang bikin saya heran, cerita Enong yang dijadikan pembuka nggak ada sangkut pautnya dengan cerita selanjutnya. Porsi Enong dalam buku ini bahkan hanya ⅛ saja. Saat masuk ke bagian cerita Ikal, Enong hanya sebagai tokoh tambahan.


Sama-sama menceritakan soal perjuangan dan kegigihan, tapi menurut saya lebih mengena cerita perjuangan Enong di awal cerita. Hal selanjutnya yang bikin saya bingung adalah dengan latar pendidikan tokoh Ikal. diceritakan pernah kuliah di Jakarta dengan nama teman-temannya yang sangat asing, saya berpikir kalau Ikal lulusan kampus yang tergolong baik. Sayangnya, kok dia balik ke desa dan nggak bekerja dan jadi pengangguran yang cukup lama. Bahkan dia lebih memilih untuk mengejar cintanya dengan teman masa kecilnya. 


Baca buku ini bikin saya banyak menebak-nebak sok tahu 😆. Over all, meski begitu saya tetap menikmati jalannya cerita yang sangat sederhana. 




You May Also Like

8 comments

  1. Khas Andrea Hirata menyorot masyarakat di sekitarnya tepatnya di Belitong. Saya udah lama namatin novel ini.
    Salam kenal ya mbak 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. haloo salam kenal juga mbak :)

      haha iya nih aku baru sempat baca. aku pertama kali baca bukunya andrea hirata yang 'ayah' maknyeeesss banget bacanya dan setelah itu langsung jatuh hati hehe
      apapun yang diangkat selalu menyenangkan untuk dibaca apalagi bahasanya juga mudah dipahami

      Delete
  2. Wah publish nya dah lama ya, tapi emang buku bagus mah ampe kapan juga bakalan di recomendasiin terus hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha iya bener banget. tak lekang oleh waktu mah kalo andrea hirata yang nulis

      Delete
  3. Sudah lama dipublikasikannya tapi buku ini masih direkomendasikan untuk dibaca berarti buku ini buku yang bagus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. semua buku Andrea Hirata emangg bagus bangeeettt! tak lekang oleh waktuuu jadi rekomendasi sepanjang masa hehe

      Delete
  4. Woaah, Andrea Hirata. Buku beliau sepertinya emang terfokus kepada "curhat" pribadi masalah kehidupan dan tempat asal beliau lahir. Aku belum pernah baca sih, nanti mau coba baca deh.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. cobain baca deh mas seru banget hehe
      semoga cocok yaaa~

      Delete