Kenapa ya?

by - January 12, 2016

(Repost)
Jadi, ceritanya ini post-an aku yang dulu

Good evening folks!


Huweee Surabaya lagi sumuk (panas) banget akhir-akhir ini. Padahal ya hrusnya kan masuk musim hujan. Tapi, ya begitulah mataharinya egois nggak mau ngalah. Kampus pun berasa dikepung matahari. Udah nunggu dosen pembimbing, kelaperan, kehausan, di phpin pula. Sakit hati adek bang :' Lha gimana gak kecewa, wong kemaren si ibu dosen bilang "Ini tinggal benerin penulisannya sekali udah jilid" denger kabar berita begitu seneng dong kita. Kalo kata temenku "Pengen tak sayang si ibu ini". Tapi nyatanya? Masih aja dihiasi spidol merah laporan kita-kita. Hiks.

Selesai asistensi ke hima, eh malah digojlokin. Heran deh sama anak jaman sekarang. Kayaknya sesuatu yang berbau puitis itu dianggap g-a-l-a-u. Dan galau dikoneksikan dengan hal-hal berbau a-s-m-a-r-a. Lawan jenis. Satu pertanyaan besar. WHY? Kenapa sih? Kenapaaaa? Ke-na-pa? Guys please explain to me??

Singkat cerita aku habis ngepost foto di instagram. Fotonya sih biasa aja emang cuma aku suka sama tone warnanya. Waktu bingung mau kasih caption apa, eh sepupuku ngeline aku. Berbicara sesuatu yang bikin aku ga to the lau (diluar konteks percintaan tentunya). Otomatis aku masukin lah caption dari hati tersebut bersama fotoku yang emang baru aku ambil di atep kampus. 

Kata-katanya sih simple. Umum. Aku. Dan. Kamu. Bukannya 3 kata ini artinya luas? Bisa aja aku dan keluargaku (aku dan ayahku, aku dan ibuku, aku dan kakakku). Atau bisa juga yang dimaksud adalah aku dan temanku. Aku dan sahabatku. Aku dan tetangggaku. Aku dan Pak tukang bakso. Bisa kan? Tapi, kenapa selalu disangkut pautkan dengan seseorang yang bisa dibilang someone special. Paca*. Atau Manta*. Atau yaa apalah itu istilahnya untuk dia yang tersayang yang pernah mengisi hati ini. Helloooo, memangnya hidup ini cuma diisi sama 1 orang? Cowok cowok cowok mulu (buat cewek). Cewek cewek cewek mulu (buat cowok). Bosen dong. Monoton. Nggak asik.
Padahal galau kan luas. Toh kita punya kehidupan lain. Akademis (kampus, sekolah,dll). Skill (hobby foto kek, renang, musik, nulis, dll). Keluarga. Temen. Sahabat. Kayak, kenapa ya nilaiku jelek gini? Kenapa ya aku nggak bisa jago moto? Kenapa ya aku nggak bisa autocad? SAP? Atau kepribadian kita. Misalnya kenapa ya aku nggak bisa lebih baik lagi? Kenapa ya aku nggak bisa penuh nutup aurat? Kenapa ya aku nggak bisa ngomong sama orang?


Kenapa ya? 

Ya mungkin aja mereka emang lebih suka mengartikan hal-hal berbau romantisme kekasih. Mungkin mereka lebih senang membahas hal semaccam itu. Dan begitulah ternyata perspektif mereka. 

Trus? 

Ya nggak apa-apa sih terserah. Cumaaaaaa, belajarlah menyikapi sesuatu yang lebih bijak. Sudut pandang semacam itu sepertinya patut dirubah. Melihat kondisi anak muda (ya termasuk aku juga sih. Masih mudah kah mer?) yang hobby galau. 

Trus galau nggak boleh gitu?

Boleh! Jelas boleh banget. Dan justru kita perlu banget galau. Tapi, galau yang bermanfaat. Galau yang positif. 


Lha kok gitu? Apa pula galau bermanfaat?

Yaiyalah. Sama kayak kata bang Raditya Dika masanya manusia itu anak anak - remaja/abg - alay - galau - dewasa. Kalo nggak alay nggak dewasa. Kalo nggak galau nggak dewasa. Aku setuju banget (kalo yang alaynya nggak juga ding haha). 
Karena dengan galau pada akhirnya kita akan mikir. Kenapa ya aku kok gini? Kenapa ya aku kok gitu? Kenapa ya kok aku nggak gini aja? Kenapa ya aku kok nggak bisa gitu?
Bla bla bla. Setelah itu kita pasti galau merenung untuk mencari jawaban dari 'kenapa'. Bertama 5 hari 7 malam (lho ini gimana ya?) dikamar nggak makan nggak mandi. (mungkin lagi gak ada duit maklum anak kos dan air lagi kehabisan mulu dihabisin tetangga kamar buat ngepel genteng). Hingga tiba pada hari ke 6 dan malam ke 8 dapet pencerahan melalui sms operator. Jawabannya sih ada 2 macem. Berubah untuk mengganti pertanyaa kenapa dengan bagaimana. Atau 'yaudahlah'. Alias pasrah sama nasip. A.k.a takdir. Kalo udah begini ntar takdir disalah-salahin. Kesian betul lu Dir, Dir.
Nah.
Kenapa kamu bisa lebih baik dari aku? Kenapa kamu bisa lebih mandiri dari aku?
See? 

Jadi?

Jadiiiiii ya begitu...

You May Also Like

0 comments