Review Buku : Aku (Pernah) Punk

by - November 06, 2017

Belakangan ini di sosmed lagi ngetrend kata-kata hijrah. Hijrah sendiri menurut Dakta.com punya arti yaitmeninggalkan, menjauhkan dari dan berpindah tempat. Dalam konteks sejarah hijrah, hijrah adalah kegiatan perpindahan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw bersama para sahabat beliau dari Mekah ke Madinah, dengan tujuan mempertahankan dan menegakkan risalah Allah, berupa akidah dan syari’at Islam. Yang sebenarnya dapat diartikan dengan perpindahan fase seseorang menuju ke sesuatu yang jauh lebih baik. 

Di Instagram pun mulai bermunculan pemuda-pemudi yang berhijrah. Entah serius berhijrah atau hanya sekedar mengikuti tren (semoga saja option yang pertama). Seiring dengan hal tersebut, mulailah bermunculan berbagai komunitas hijrah pemuda. Komunitas ini mengadakan banyak kajian positif pemuda yang baru saja berhijrah. Salah satu ust yang sering mengisi kajian pemuda-pemudi yang berhijrah ini adalah Ust Aditya Abdurrahman. 




Kali ini aku mau review buku 'Aku (Pernah) Punk' yang ditulis oleh Ust. Aditya Abdurrahman a.k.a Ust Aik. Sebenernya sih nama aslinya Aditya Rahman Yani, Aditya Abdurrahman sendiri adalah nama pena beliau kala menulis. Ust Aik merupakan founder dari komunitas Punk Muslim Surabaya. Banyaknya  pemuda pemudi yang berhijrah mendorong Ust Aik menulis buku ini. 

Buku ini berkisah mengenai perjalanan beliau yang dulunya adalah mantan anak Punk. Beliau mengenal Punk sejak sd. Background keluarga ust Aik sendiri sebenarnya kental akan agama. Terutaama Muhammadiyah. Ayahnya sangat keras dalam mendidiknya terutama mengenai sholat. Kalo sampe ada anaknya yang lalai sholat, kali disuruh angkat kaki. Ust Aik merupakan anak ketiga dari lima bersaudara dan paling dekat dengan kakaknya yang kedua, Jack. Semua pengetahuan Punk diperoleh Ust Aik dari Jack. Mereka berdua memiliki banyak kesamaan. Seperti musik, buku, pendapat, dll. Beberapa kali Ust Aik pernah membuat band punk bersama kakaknya, Jack. Sempat bubar dan membuat band baru dengan teman-temannya. 

Kalo menurutku sendiri, disini ust Aik ingin memberitahu kepada masyarakat kalau anak punk itu nggak semuanya negatif, contohnya beliau. Meskipun beliau berteman dekat dengan anak-anak punk yang notabenenya perorok, pecandu narkoba, dan alkohol, beliau masih bisa survive dan taat menjaga sholatnya. Tak pernah lalai sekalipun. Alhamdulillah itu berkat didikan ayahnya beliau hingga bebas dari semua itu. Dan mungkin bukan hanya beliau, tetapi ada teman-temannya yang juga bersih. Hanya saja memiliki pemikiran yang sama akan sisi kemanusiaan dan juga genre musik.

Di buku ini ust Aik juga menjelaskan beberapa hal mengenai anak punk sejati dan bedanya dengan hardcore. Kalo yang ini sih aku nggak begitu paham ehehe.

Diakhir bab, ust Aik memberikan beberapa hikmah yang bisa diambil dari perjalanannya. Seperti:
1. Jangan terputus kewajiban utama kita (sholat) agar Allah tetap peduli dengan diri kita.
Disini ust Aik sangat bersyukur akan didikan ayahnya. Walaupun ia bergabung dengan teman-temannya yang notabene perokok, pecandu narkoba, dan alkohol ia masih bisa bertahan menjadi dirinya sendiri dengan memegang teguh keislamannya,

2.  Tidak ada teman sejati dalam hal keburukan
Selain bergabung dengan band-band punk, suatu ketika ust Aik pernah merasa sangat kelisah dengan keadaannya yang dikelilingi teman-teman punk. Hingga akhirnya ia merasa harus berhenti dan meninggalkan teman-teman dan dunia punk untuk selamanya. Lalu beliau bergabung dengan komunitas dakwah. Dan disitu ust Aik merasa menemukan teman sejati. Berbeda dengan teman-teman punknya dahulu.

3. Keluarga yang harmonis, akan mudah melahirkan generasi yang baik.

4. Jika kita bisa mengenali potensi diri kita sejak kecil, akan lebih mudah bagi kita untuk berkarya di masa depan

5. Berkarya adalah kunci utama dalam dakwah kepada para pemuda
Gunakan kelebihanmu untuk berdakwah.

6. Hidayah itu dicari, bukan ditunggu
Betapa banyak orang yang ingin berupah tapi pasif alias tidak melakukan tindakan apa-apa untuk berubah lebih baik. Maka selamanya mungkin hidayah itutidak akan datang kepadanya. Allah menunggu keseriusan kita menjemput hidayah itu hingga kita dianggap-Nya sebagai orang yang pantas untuk menerimanya (hal 76).

7. Berdakwah itu sebagai bukti keimanan kita
Berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwa adalah cara kita membuktikan keimanan kita kepada Allah. Sedangkan berdakwah adalah salah satu bentuk peruangan itu (hal 77).

8. Di awal berhijrah, jauhkan diri dari godaan
Biasanya diawal perubahan kita, kita bakalan diolok-olok sok alim dll. Maka dari itu, mungkin kita perlu menghindar sejenak hingga kita kuat dan bisa menjelaskan dengan pasti akan perubahan kita. Tentunya dengan iman yang bertambah. .

9. Jangan otodidak, berhijrah butuh pembimbing
Belajar mendalami islam tentulah membutuhkan pendamping untuk menjelaskan beberapa hal. Kita tidak bisa berdiri sendiri karena akan seringkali bingung pun kita berusaha untuk browsing atau membaca beberapa buku. Kita tetap butuh pendamping yang jauh lebih paham dari kita.

10. Tidak ada faham pemikiran yang lebih hebat dari islam
Alquran dan As-sunah merupakan solusi dari problematika manusia. Tidak ada yang jauh lebih baik dari itu. Karena pendapat manusia juga kadang sering keliru dan tidak ada yang sama (konkrit).

Nah, begitulah kira-kira isi bukunya. Overall bukunya bagus sih. Sangat membuka wawasan terutama yang berniat untuk berubah nenuju kebaikan. Bahasanya juga sangat amat ringan. Seolah ngobrol sih kalo menurutku. Nggak merasa digurui sama sekali. Jadi bisa dibaca disela-sela kesibukan dikala senggang. Bukunya juga nggak tebel kok, cuma 79 halaman. Jadi bikin nggak males bacanya ehehe.

Jadi buat pemuda pemudi hijrah, wajib deh baca nih buku. Yang belom hijrah juga silahkan baca buat pengetahuan aja nggak apa apa euy.

Okay sekian terima kasih!


You May Also Like

0 comments