Menjenguk Masa Lalu

by - March 16, 2018




Siang itu entah bagaimana tiba-tiba muncul bayangan masa lampau. Beberapa kejadian menyenangkan dan memilukan hati datang silih berganti. Sesosok yang sudah lama kubunuh muncul kembali. Spontan, tanganku berpegangan pada dinding. Untung saja gelas yang kupegang tak terjatuh. Tanganku bergetar. Ah, apakah tanganku? Ataukah hatiku? Seketika aku tersadar setelah terlempar ke masa lalu beberapa detik. Aku duduk ditepi ranjang bertanya-tanya apa yang sedang terjadi padaku. Mengapa bayangannya muncul dalam benakku tanpa perintah? Seakan bayangan itu bangkit dari kuburnya. Kupejamkan mata dan kuhembuskan nafas dalam-dalam. Tubuhku menggigil. Kuputuskan untuk datang menjenguknya.

Dipemakaman ini, tersimpan sosok yang telah kubunuh beberapa tahun silam. Kulangkahkan kaki menuju dimana ia dikuburkan. Aku tak membutuhkan waktu lama untuk menemukannya. Setiap belokan yang kuhapal diluar kepala. Aku tiba dihadapannya. Gemuruh rindu didada dalam sekejap membuncah tanpa bisa kukendalikan. Aku terduduk dan mulai menggali tiap lembaran kisah yang tlah kukubur dalam-dalam dilubuk hatiku.

Pagi itu sama seperti pagi sebelumnya. Membosankan. Ah, apasih yang aku lakukan ditempat ini? Begitulah selalu yang aku katakan tiap harinya pada diri sendiri. Mempelajari sesuatu yang tak kunjung mendapat perhatianku. Bersebrangan dengan apa yang ku inginkan. Aku melirik jam di pergelangan tanganku. Masih lama. Kuputar tubuhku dan bersandar pada dinding setinggi satu meter ini. Mengedarkan pandangan untuk mencari sesuatu yang dapat membantuku membunuh waktu. beberapa orang sedang menunggu didepan ruangan. Menanti giliran dipenjara waktu sama sepertiku. Tiba-tiba mataku mengekor pada sesosok manusia. Aku tak mengenalnya dengan baik. Hanya sekedar tau karena pernah melihatnya beberapa hari lalu. Hanya itu.

Perlahan-lahan aku mulai menyukai hari-hari yang kujalani setiap harinya. Beberapa aktifitas membuatku bersemangat untuk terbangun di pagi hari, berlama-lama disiang hari, dan sesegera mungkin tidur di malam hari. Nyatanya, manusia itu yang mengiringi. Berkelana menghabiskan waktu. Mungkin, karena ada perasaan yang sama yang menyatukan. Sama-sama merasa terpenjara dan berusaha untuk bebas. Kami saling membuka pintu masing-masing, mengeksplorasi diri mencoba banyak hal. Aku senang memasuki pintunya. Memberikan sedikit warna di langit birunya. Kuberikan pelangi dan senja. Begitupula dengan dia. Membuka pintuku lebar dan merapikan beberapa hal. Memberikan beberapa bintang dilangit untuk menemaniku dan menunjukkan arah. Tidak hanya itu.

Setelah memasuki pintu masing-masing, keluarlah kita. Menuju pintu lain. Lantas, masuk bersama. Dibawah langit kita, aku berlari-lari kecil. Tersandung. Aku merengek, kau menenangkan. Mengusap lukaku dan mengobati dengan hatimu yang tulus. Aku tersenyum. Begitupula denganmu. Kita berjalan beriringan. Kumainkan tanganmu. Tanpa sengaja aku melukainya. Berdarah. Tapi, kau tetap tersenyum dan membiarkan aku tertawa. Kau menahan rasa sakit itu sekuat tenaga. Aku tertawa riang dan kembali berlarian kecil menunjuk banyak hal. Hingga aku berhenti melangkah. Kau pun bertanya. Ada apa? Aku menajwab dengan ragu. Memandangmu. Memandang langit yang biru cerah. Kala itu, matahari bersinar sangat cerah. Angin bertiup dengan nadanya yang pas membuat pepohonan bergoyang riang. Aku kembali menatapmu. Sudah waktunya pulang, kukatakan demikian. Air mukamu berubah sedih. Kau eratkan genggaman tanganmu. Bisakah kita tunda barang beberapa waktu? pintamu. Aku bersikukuh ingin pulang karena khawatir hujan. Padahal matahri sangat terik. Kau pun melepaskan genggamanmu perlahan. Dengan berat hati. Didepanku kau nampak tersenyum. Aku pun berbalik dan pulang keluar pintu kita. Sempat kulihat wajahmu begitu muram. Kutengadahlan kepalaku menatap langit. Mendung. Tidakkah kau tau sejatinya aku pun tak ingin pulang? Seperti itu.

Aku menatap kuburan masa lalu dihadapanku dalam diam. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Aku menghitung dengan jemari tanganku. memastikan sudah berapa lama aku menguburnya. Meski demikian, gejolak itupun masihlah sama. Aku menengadahkan kepalaku dan bertanya kepada Sang Pemilik Waktu. Ah, lantas apa yang membawaku kemari? Mengapa ia tiba-tiba muncul ke permukaan?  Apakah ini benar? Angin bertiup pelan. Seakan berbisik memberitahukan bahwa hanya aku yang bisa menjawab pertanyaan itu sendiri. Kupejamkan mata dan berdoa kepada Tuhan. Setelah merasa lega, aku pun bangkit dan berlalu. Meninggalkan kuburan itu dalam hening.

You May Also Like

0 comments