Review Film : Hotel Translyvania 3, Summer Vacation (2018)

by - September 30, 2018




Genre                   : Animasi, comedy, family
Durasi                   : 1 jam 37 menit


Profesor Abraham nggak ada henti-hentinya mencoba untuk membunuh Drac. Bagi dia, monster adalah musuh manusia. Nggak mungkin manusia dan monster dapat hidup berdampingan apalagi tolong menolong. Maka dari itu, Prof Abraham berhasrat memusnahkan semua moster untuk selama-lamanya biar manusia aman. Dari Prof Abraham masih muda gembul sampe ringkih pun keinginann itu nggak surut. Malahan diturunkan ke anak cucunya.

Di episode kali ini Mavis mengajak keluarganya dan teman-temannya untuk liburan, tanpa memberi tahu Drac terlebih dahulu kemana tujuan mereka. Karena Drac membenci kejutan haha. Aku baru tau ada sosok yang benci kejutan. Ide ini muncul dari Mavis yang sedih melihat Drac yang nampak kelelahan bekerja. Setelah sampe di segitiga bermuda mereka semua naik kapal pesiar dengan tujuan Atlantis.

Di dalam kapal, Drac bertemu dengan Kapten Ericka, si manusia yang cantik. Drac pun tertarik dan merasa ia terkena zing (cinta dalam bahasa transylvania). Awalnya ia tak percaya karena baginya zing hanya terjadi satu kali. Dan hal itu sudah pernah terjadi dengan almarhuma istrinya. Disinilah beberapa konflik mulai nampak.

Oh iya, sebelum Mavis and family berlibur, Mavis dan Drac membantu pernikahan Lucy dan Carl si monster berduri. Dari scene ini bisa dilihat kalo ada keraguan dihati Lucy untuk menikahi Carl. Ia takut kalo semisal ia salah pilih.

                “Bagaimana kalo aku keliru” kata Lucy sambil menangis.

Hal semacam ini kayak wajar terjadi. Karena dari beberapa temen yang mau nikah sempet cerita hal semacam ini ke aku. Keraguan itu muncul disaat-saat mendekati hari H. Karena kebanyakan dari mereka baru mikir di detik-detik terakhir kalo mereka ini bakalan hidup bareng selamanya. Nggak ada yang mau kan mengulang pernikahan kedua, ketiga, dan seterusnya?

Disini Mavis jelasin, kalo dulu waktu nikah sama Johnny pun ia mengalami hal yang sama. Ragu. Bahkan ayahnya pun ikutan ragu. Karena khawatir anaknya nggak bisa bahagia.

                “Tak peduli darimana asalmu dan siapa dirimu. Zing hanya terjadi satu kali. Dan  kau harus menghargainya” jelas Mavis menenangkan Lucy.

Dari kata-kata Mavis, kita bisa belajar. Kalo sebenernya zing itu nggak mengenal latar belakang tiap orang. Nggak rasis. Kalo suka mah suka aja haha. Apaan sih?

Balik lagi ke scene naik kapal. Diatas kapal ini mulai deh ada drama-drama. Kayak waktu si Drac tetiba sadar suka sama si Ericka sejak pertama kali liat dia memperkenalkan diri sebagai kapten kapal. Tapi, ia tetiba mikirin Mavis. Apa iya Mavis bisa terima hal ini? Menerima sosok ibu baru?

Nah, kalo buat kita yang belum pernah menikah mungkin yang kita pikirin adalah kita suka atau nggak sam aorang itu. walaupun pasti ada restu orang tua, tapi yang menjalani hidup sama si dia Cuma kita seorang. Beda dengan orang yang sudah pernah menikah dan punya anak. Untuk meutuskan menikah lagi juga nggak sesimple itu. dia harus mikirin si anaknya cocok nggak sama pasangannya. Karena pada akhirnya yang tinggal bareng sama pasangannya nggak Cuma dia, tapi ada anak-anaknya juga. Ijinnya juga nggak Cuma ke orang tua, tapi ke anaknya juga. Hehe mudeng maksudku kan ya?
"Aku paham, keluarga itu segalanya"

"Kau harus menghormati masa lalu. Tapi kita yang tentukan masa depan"

Drac pun ngaku dihadapan Ericka kalo dia suka sama Ericka tapi itu nggak mungkin bisa diterima Mavis. Disini, Ericka yang awalnya benci banget sama Drac gegara kakek buyutnya, Prof Abraham, dia sedikit tersadarkan kalo Drac ini baik. Disisi lain Mavis mulai curiga sama tingkah laku Drac. Ia takut kalo Drac beneran jatuh cinta sama Ericka. Ia masih belum bisa terima bakalan ada sosok baru yang mendampingi Drac selain ibunya.

                “Aku tidak pernah memikirkan dia  bersama wanita lain” Ujar Mavis bersedih kepada Johnny.

Johnny pun dengan santainya mengingatkan, “Bukannya kamu ingin ayahmu bahagia?”.

Saat Ericka sembunyi-sembunyi mau ngambil Instrumen Kehancuran Monster, Drac ngikutin dia. Bahkan ternyata banyak banget ranjau sepanjang jalan menuju ngambil instrumen itu. berkali-kali Ericka hampir aja kena kapak dan sejenisnya. Kalo bukan karena Drac mah dia udah mati dari tadi dan ceritanya jadi gantung deh haha. Sampe akhirnya Ericka berhasil ngambil Instrumen Kehancuran, ia sadar kalo Drac ini baik. Dia nyelametin nyawanya berkali-kali. Sampe akhirnya ketahuan sama Mavis dan Ericka dengan lantangnya bilang, “Aku tidak mungkin bisa hidup dengan monster”.

Dibalik kata-kata ini aku jadi berpikir, kalo banyak orang yang sebenenrnya mengorbankan perasaannya, mengenai apapun itu, hanya karena doktrin dari keluarga. Inget kan dia di doktrin sama kakek buyutnya si Prof Abraham kalo monster itu semuanya jahat. Akhirnya pada saat si Ericka ini mulai sedikit sadar kalo Drac baik, ia pun menyangkal itu karena doktrin yang udah nancep dari ia kecil, monster itu jahat jadi harus musnah. Drac? Jangan tanya dia jelas kecewa berat.

Di scene berikutnya waktu pesta terakhir, musik yang lagi enak-enaknya tetiba diganti. Prof Abraham yang selama ini sembunyi di dek bawah kapal muncul dan terang-terangan jelasin ke Drac kalo bakalan ngebunuh semua monster yang ada disana. Di saat itulah si Drac baru tau kalo Ericka cicit dari sang profesor. Mavis pun juga baru sadar kalo berulang kali nyawa ayahnya terancam gegara Ericka. Akhirnya instrumen kehancuran pun dimainkan yang ngebuat monster laut bangun dan kayak terhipnotis buat ngobrak abrik ngebunuh monster lain.

Waktu si monster laut mau ngebunuh Drac, Ericka nyelametin Drac yang bikin Prof Abraham kesel. Hingga akhirnya Prof Abraham pun jatuh tapi, Drac malah nyelametin si profesor.

                “Why after everything I did you save my life?” tanya profesor kebingungan.

                “Because basically we are all the same” kata Drac yang bikin sang profesor sadar.



Overall film ini bagus dan banyak banget pelajaran yang bisa diambil. Terutama perihal keluarga. Kayak sikap Marvis yang protektif banget sama ayahnya. Dia begitu karena sayang sama ayahnya dan nggak mau kehilangan ayahnya. Karena dia takut kalo Drac sama Ericka bersama dia bakalan ditinggal-tinggal pesiar. Drac pun gitu, meski ia suka sama Ericka dia mikirin Mavis. Dia nggak mau egois Cuma mikirin dirinya sendiri. Film ini rekomen banget buat selingan nonton bareng keluarga. Menghibur kok nggak seserius itu hehe. Pesannya dalem tersirat bagus dibalut animasi. Pokoknya wajib nonton! 

Selanjutnya nonton apa ya?

You May Also Like

2 comments

  1. alowhaa.. akhirnya kesampaian juga yah nonton seri ke 3 nya.. hehehe ulasan yang bagus dan asik jadi ikut seru bacanya seolah orangnya ada didepanku langsung bercerita ...siipp
    suka film animasi ya? mungkin ini bisa jadi reflist kalau mau nonton animasi :) ..menurutku sih lucu menghibur dan ada nilai positif yang bisa kupahami disitu,

    > Brave (2012)
    > Epic (2013)
    > RISE OF THE GUARDIANS (2012)
    > TANGLED (2010)
    > Moana (2016)
    > MONSTERS UNIVERSITY
    > The Incredibles 2 (2018)

    mungkin aja sudah pernah nonton kan ya. krna itu sudah kluaran tahun tahun sebelumnya.
    btw, i see you ... Zing :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. brave sama moana tuh bagus banget paling sukaaaa. dan aku rasa cerita moana nih yang paling deket deh sama kehidupan kita. ortu yang ngekang anaknya. gw banget haha. btw thanks ya listnya (y)

      Delete