Hijrah Itu Bukan Melulu Soal Jodoh

by - November 06, 2018



Dulu, image pengajian biasanya di identikkan dengan para ibu-ibu atau bapak-bapak yang lagi kumpul di masjid. Tema yang dibahas pun cenderung kaku dan berat. Trus, ust atau usthnya kebanyakan yang udah berumur. Pakaian yang dikenakan juga pakaian dinas ala ust/usth yang lagi ceramah. Nggak menarik banget deh pokoknya buat anak muda. Serius banget.

Tapi, beberapa tahun belakangan image itu berubah drastis. Kalo diperhatiin sekarang masjid-masjid dipenuhi oleh kawula muda. Alhamdulillah suatu kemajuan. Title yang melekat pada mereka adalah pemuda hijrah.

Apasih yang bikin pemuda-pemudi tertarik untuk ikut kajian?

Jomblo. Jodoh. Dua pembahasan ini yang menarik para jomblowan jomblowati mencari jodoh. Hmm, aku rasa sih emang tepat sasaran. Mungkin karena kebanyakan populasi di era ini adalah usia produktif alias 20tahunan keatas. Entah kenapa dan gimana asal usulnya, jaman sekarang orang dengan status jomblo itu digambarkan seolah adalah orang yang hidupnya paling menyedihkan didunia ini. Sampe ledek-ledekan. Bahkan, 80% guyonan meme lokal dan internasional adalah perihal kejombloan. Padahal, ya nggak gitu-gitu amat.

Sampe-sampe hampir semua kajian pemuda hijrah bertemakan kedua hal tersebut. Kalo nggak perihal move on ya gimana caranya dapet jodoh cepet atau kajian pranikah. Semuanya serba jodoh, jodoh, dan jodoh. Kayak gini,

A             : Mau kemana?
B             : Pengajian
A             : Cieehh, kajian pranikah yaaa / Cieehh, kajian move on yaaa

Dan lama-lama aku pun mulai (maaf) eneg. Kayak, men kenapa sih kudu hal itu mulu yang dibahas? Emang nggak ada hal lain yang bisa dijadiin topik? Toh hidup kita ini bukan melulu soal hati merah jambu. Dan hijrah itu juga bukan melulu soal jodoh. orang hijrah itu orang yang ingin memperbaiki diri. Buat siapa? Jodohnya? Bukan! Ya buat dirinya sendirilah. Ngapain berubah buat orang lain.

Lambat laun, aku sempet baca di ig perihal mereka yang (mungkin) kesel juga dengan kedua pembahasan ini. Aih, ramenya. Dari yang halus sampe kasar ada. Macam-macam lah netijen kita ini.
Karena kepo, aku pun iseng browsing dan nemu artikel yang cukup menjelaskan latar belakang digemborkannya kajian pemuda hijrah secara garis besar.

Siapa sasaran kajian? Anak muda mulai usia awal 20tahun terutama yang jomblo.

Kenapa kudu yang jomblo? Soalnya mereka ini rentan dan gampang baper. Ada yang masih labil pula. Bisa-bisa jatuhnya ke hal-hal negatif kalo nggak mampu nahan ejekan ataupun syahwat.

Terus tujuannya? Menjauhkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti tindak kriminal (pelecehan seksual dll), hamil diluar nikah, tingginya tingkat aborsi, dst. Lalu, menancapkan iman dihati mereka. Biar nggak galau mulu. Nggak kosong hatinya Cuma gegara nggak ada pasangan.

Solusinya? Menikahlah bagi yang mampu dan siap. Bukan berarti semua pemuda kudu segera menikah.

Intinya, hijrah itu bukan melulu soal mencari jodoh, mengejar jodoh, atau apapun lah itu soal jodoh. Tapi, fase memperbaiki diri untuk kehidupan yang lebih baik. Untuk menjadi pribadi yang pada awalnya nggak tahu jadi tahu. Yang awalnya nyasar jadi on track. Dan yang paling penting memperbaiki doktrin-doktri yang selama ini melekat tanpa tahu pembenarannya.

Jadi, nggak semua orang yang hijrah itu ngebet nikah.

You May Also Like

0 comments