Terpenjara

by - November 14, 2018




Lagi-lagi perasaan itu muncul ke permukaan. Selayaknya orang terpenjara, bahkan untuk bernafas lega pun aku tak bisa. Sesak yang ada. Dan lagi-lagi, keraguan itu muncul. Menghampiri hati. Mungkin, ini konspirasi yang dilakukan hati dan logika terhadapku. Tinggalkan! Begitu kata hati. Tapi, tak sepenuhnya. Nyatanya ada sebagian kecil hati yang ingin untuk tetap tinggal. Perlahan otak pun ikut bersuara. Tidak kah kamu ingat berapa waktu yang kau punya? Aku tak sanggup untuk menjawab. Otak menjabarkan panjang lebar waktu yang tlah kutempuh dan kira-kira sisa waktu yang aku punya. Ia juga mengingatkan untuk tak melakukan hal yang sama seperti yang tlah aku lakukan di masa lampau.

Mengenai asa. Aku bahkan tak berani untuk sekedar bermimpi. Bayang-bayang hitam itu selalu saja menghampiri. Setiap kali aku ingin untuk melangkah menggapainya, bayangan itu selalu saja muncul. Segores senyum yang selalu ingin aku ukir diwajahnya. Bahkan, mungkin menjadi alasan aku untuk tetap bertahan. Antara cita dan realita. Selalu ada hati yang dikorbankan.

You May Also Like

0 comments