Gundala (2019)

by - September 13, 2019




Sutradara                       : Joko Anwar
Penulis Naskah              : Joko Anwar
Durasi                            : 123 menit
Pemain                           : AbimanaAryasatya (Sancaka),Tara Basro (Wulan), Bront Palarae (Pengkor)

Sancaka adalah anak dari seorang buruh pabrik. Ayah Sancaka dan para buruh berdemo di depan pabrik untuk menuntut kenaikan gaji. Maklum, kebutuhan hidup semakin tinggi harganya. Awalnya semua berjalan baik-baik saja saat kedua teman ayah Sancaka diminta untuk berunding dengan pemilik pabrik. Konflik mulai terjadi saat kedua buruh tidak kembali ke rumah selama tiga hari. Ayah Sancaka marah dan kembali berdemo bersama rekannya. Bentrokan dengan aparat keamanan pun tak dapat dihindarkan. Secara tiba-tiba ayah Sancaka di tusuk oleh seseorang dan meninggal. Ternyata rumor bahwa kedua buruh tak kembali itu hanyalah jebakan belaka. Sejak saat itu ibu Sancaka pergi dan tak kembali. Sancaka pun memilih meninggalkan rumah. Perjalanan panjang pun dimulai.

Ia mengamen di sepanjang jalan. Suatu ketika ia dikejar oleh segerombolan anak remaja yang juga pengamen karena menolong seorang anak perempuan. Sancaka tidak dapat berlari lagi dan dihajar beberapa remaja. Ditendang, dipukul, hingga telinganya dirobek. Saat itulah Awang datang menolongnya. Setelah kejadian itu, Sancaka tinggal bersama Awang. Awang mengajarinya bela diri dan berpesan, “Jika ingin selamat, jauhi urusan orang lain” sejak saat itulah Sancaka mulai acuh tak acuh dengan orang lain. Karena tak ingin mendapat masalah lagi.

Sancaka dewasa bekerja sebagai penjaga keamanan dan teknisi di sebuah pabrik percetakan. Suatu ketika, rekan kerja Sancaka berkata, “Hidup tak ada gunanya jika tidak bisa memberikan manfaat kepada orang lain”. Sejak saat itulah ia mulai kembali peduli kepada orang lain. Jika malam sebelumnya ia tak ambil pusing dengan tetangganya yang mendapatkan masalah, kini ia peduli. Ia menghajar preman yang mengganggu tetangganya, Wulan dan adiknya. Sayangnya mereka tak terima dan kembali membawa pasukan untuk membalas dendam. Karena terlalu banyak, Sancaka pun tak mampu. Ia kalah. Para preman melemparkannya dari atap. Hujan sedang turun dengan lebatnya. Petir saling menyambar. Saat itulah, petir menyambar tubuh Sancaka. Ia hidup kembali.

Secara tidak sengaja, Sancaka bertemu kembali dengan para preman di pasar. Para preman terkejut karena mengira Sancaka sudah meninggal. Perkelahian pun terjadi kembali. Sancaka dengan 30 preman. Anehnya, kali ini ia menang. Ia pun merasa heran. Begitupula dengan para pedagang di pasar. Mereka terkejut juga merasa mempunyai harapan untuk menumpas para preman. Para preman membalas dendam dengan membakar pasar.


Kesengsaraan para pedagang meyakinkan Sancaka untuk membantu mereka. Sancaka belajar untuk mengendalikan kekuatannya. Disaat yang sama, seorang preman membelot dan memberi tahu Sancaka bahwa pelaku pembakaran pasar itu adalah pemain biola terkenal yang ternyata adalah anak buah Pengkor. Pengkor adalah mafia yang memiliki anak buah ribuan tersebar di nusantara. Anak buahnya adalah anak panti asuhan yang ia sekolahkan. Yang kini mengabdi padanya. Salah satunya adalah anggota dewan legislatif.


Suatu hari puluhan ibu-ibu hamil muntah secara tidak wajar. Cctv gudang penyimpanan beras menujukkan adanya sejumlah orang yang tidak dikenal masuk dan meracuni beras secara acak. Hal ini menyebabkan keresahan pada masyarakat dan mendesak anggota legislatif untuk segera bertindak. Mereka pun berusaha untuk dapat menghubungi sang superhero yang selama ini menolong warga.

Sejak awal film ini dimulai, saya sudah terkesima terlebih dahulu dengan visual yang memanjakan mata. Dari tone warna, ketajaman, dan sudut pengambilan gambarnya. Selain itu juga effect petirnya juga menyatu. Tidak nampak kalau itu editan. Akting pemainnya juga menurut saya bangus. Saya suka sekali dengan acting Sancaka kecil. Menurut saya benar-benar natural.

Meski bergenre superhero, saya sempat deg-degan juga nonton film ini. Karena beberapa scene seperti film horror hehe. Selain itu banyaknya adegan kekerasan membuat saya sedikit ngeri. Meski hal tersebut tidak dapat dipungkiri. Mungkin sang sutradara ingin menunjukkan pada kita bahwa dunia luar memang sekeras itu. Mulai dari kerasnya hidup anak jalanan hingga anggota legislatif.

Saya cukup iba melihat pengkor. Ia menjadi mafia karena keadaan. Ia merupakan wujud nyata dari korban lingkungan. Bagaimana dendam dapat membuatnya tumbuh menjadi manusia yang keji. Mengerikan sekali kalau sampai kita berada di lingkungan yang seperti ini.

Film ini merupakan salah satu film yang patut ditonton. Selain karena visualnya yang bagus, juga karena pesannya. Ada beberapa scene yang mencerminkan keadaan masyarakat kita. Seperti saat ada seseorang yang di palak preman, beberapa orang yang melihat di lantai atas hanya merekam tanpa membantu. Belakangan saya berpikir, mungkin orang yang merekam itu sebenarnya ingin juga membatu tapi takut dengan preman. Wajar. Jadi sebenarnya nggak salah juga. Kalau saya ada di kondisi yang sama juga mungkin saya belum tentu berani melawan preman itu hehe.

Lalu perkataan Awang dan rekan kerja Sancaka. Banyak dari kita mungkn menganut, ogah ah ikut campur urusan orang lain hidup gue aja udah ribet. Benar sih memang. Mencampuri urusan orang lain itu bisa jadi membuat hidup kita lebih complicated. Apalagi setara yang dilakukan Sancaka yang taruhannya nyawa. Tapi, bukanya itu memang sudah jadi tradisi kita untuk saling bantu? Kalau di luar negeri yang mayoritasnya individualis mungkin pahamnya si Awang ini bisa di anut. Tapi, menurut saya kalau di negeri ini rasanya lebih masuk menganut paham rekan kerja Sancaka. Hidup taka da gunanya jika tidak memberikan manfaat pada orang lain. Yaaa meski tiap orang berbeda-beda hehe. Jadi, terserah mau pakai paham yang mana. Film ini nggak seserius itu juga kok, ada humornya jugaa hihi. 

Intinya, film ini wajib buanget ditonton! Hehe

You May Also Like

1 comments