3 Skill Dasar untuk Menikmati Hidup

January 31, 2021



Makin lama, makin kerasa nggak sih kalau banyak kegiatan kita sehari-hari yang terbantu dengan adanya teknologi? Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Emang sih, dengan adanya kemajuan teknologi semuanya jadi jauh lebih mudah. Komunikasi dengan kerabat nun jauh di belahan dunia lain pun sekarang tinggal pencet-pencet layar ponsel. Dalam hitungan detik, foalaa! Sampailah pesan tersebut ke kerabat yang dituju 😍


Tapi, kenapa ya makin ke sini saya makin merasa semua kemudahan itu justru membawa kita ke banyak hal yang jauh lebih berbahaya. Terutama untuk kesehatan mental ðŸ˜ķ 


Seni menahan diri


Seperti apa yang sedang saya lakukan sekarang, saya dengan mudahnya menuliskan isi kepala dan hati di blog pribadi. Which is, ini blog milik saya. Proses membuatnya pun cukup mudah. Lalu semua isi kepala saya dibaca oleh banyak orang. Saya bisa menulis di sini sesuka hati kapan pun dan di mana pun. Orang-orang yang membacanya pun nggak mengenal batasan waktu dan jarak. Apalagi usia 👀 


Hal inilah yang bikin saya was-was. Saya merasa belakangan saya harus lebih menahan diri. Apa pun yang ada di kepala dan hati saya, rasanya nggak semuanya perlu untuk disampaikan. Nggak perlu membuat semua orang tahu dan paham apa yang saya maksudkan. Nggak perlu membuat semua orang tahu apa yang saya rasakan dan lakukanNggak perlu menjadi yang paling benar dalam segala hal. Belakangan saya sadar kalau benar dan salah bagi setiap orang berbeda-beda tergatung dengan prinsip hidup mereka. 🙂


Saya baru menyadari hal ini di tahun kemarin. Dan itulah hal yang akan saya usahakan untuk tetap jaga. Salah satu hal sederhananya lebih berpikir seribu kali dalam mengunggah story atau postingan di Instagram. Saya nggak mau menyakiti atau menyinggung perasaan orang lain meski saya nggak bermaksud demikian. Karena kita nggak akan pernah tahu apa yang orang lain alami. Kehidupan yang kita anggap membosankan bisa jadi justru membuat orang lain iri dan drowning. Membandingkan hidupnya dengan hidup orang lain yang ‘tampaknya’ menyenangkan. Yang sayaa tahu adalah kita semua sedang berjuang dengan kehidupan masing-masing. Pada akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan media sosial untuk mengunggah karya sebagai personal branding dan portfolio saja hihi 😉


Seni bodo amat


Kita semua tahu kalau kita nggak bisa mengendalikan apa yang orang lain pikirkan dan  lakukan. Kita nggak bisa selalu membuat mereka paham dengan perspektif kita. Pasti kalian pernah kan berusaha untuk meluruskan sesuatu pendapat teman tentang diri kita? Capek nggak sih kadang saking berusahanya membuat mereka paham apa yang kita maksud? ðŸ˜ķ


Jadi, pilihan satu-satunya adalah mengendalikan diri sendiri. Selain menahan diri, saya rasa skill yang perlu banget di improve sepanjang masa adalah bersikap bodo amat dengan hal-hal tertentu 😊 


Kedengarannya sih mudah. Tinggal cuekin aja tutup kuping. Ibarat pepatah, anjing menggonggong khafilah berlalu. Tapi, ternyata nggak semudah itu, Ferguso ðŸĨī Bodo amat juga ada takarannya. Jangan sampai deh saking bodo amatnya sampai jadi apatis atau menghiraukan hal-hal yang seharusnya justru bisa bikin kita lebih baik. Dan yang tahu batasan itu cuma diri kita sendiri


Seperti postingan saya sebelumnya soal tinggi. Sekarang saya akan bodo amat dengan orang-orang yang komen mengenai postur tubuh saya. Kalau ada yang bilang, “Duh, sayang banget sih punya badan tinggi tapi nggak dimanfaatin. Padahal bisa tuh jadi model atau pramugari”. Saya bakalan senyum dan hanya menganggapnya angin lalu aja. Karena saya nggak bisa merubah apa pun. Nggak mungkin kan saya berusaha operasi untuk jadi pendek? Atau memaksakan diri jadi pramugari atau model padahal nggak saya banget? ðŸĪĢ


Beda halnya kalau ada yang bilang, “Haduh, videonya bikin pusing kebanyakan motion yang terlalu cepet”. Nah, meski cara penyampaiannya rada nggak enak, saya bakal coba review lagi video-nya dan justru nanya ke si penanya. “Oh, iya ta? Kudunya gimana ya? Ajarin dong 😁”. Kalau si penanya bisa kasih solusi dan saya jadi belajar darinya, jelas ini nggak bisa di-bodo-amat-in. Karena saya bisa berkembang dari komen itu 😉 


Lain ceritanya kalau si penannya nggak bisa kasih solusi apa pun. Berarti dia cuma bisa komen karya orang tanpa kasih solusi. Ya kalau ini mah, di-bodo-amat-in aja ðŸĪŠ 


Seni berkomunikasi


Saya sadar, saya yang introvert ini nggak begitu baik dalam hal komunikasi. Boro-boro buat ngomong langsung, buat nulis aja kadang masih belibet ðŸĪĢ Apa yang ada di kepala saya itu kadang kudu dipikir-pikir lagi buat disusun jadi kalimat yang lebih enak untuk dibaca dan dipahai orang hehe. Jadi mohon maklum kalau kadang ada tulisan yang rada belibet ðŸĪĢ


Saya tahu dan sadar betul kalau komunikasi adalah kunci dari segalanya. Apalagi terkait pekerjaan. Saya yang nggak begitu suka main ponsel sebelumnya malas banget balesin chat, tapi semenjak wfh (work from home) saya kudu selalu kasih kabar ke tim tentang progres. Nggak bisa hanya berasumsi, ah palingan dia juga udah tahu. Mereka kan bukan cenayang yak 😎


Terkadang untuk menjelaskan maksud saya pun saya sampai kudu menjelaskan panjang lebar yang di cross check dengan voice note atau bahkan telepon karo masih kurang jelas. 


Yaah, jadi itulah 3 skill dasar yang sedang saya usahakan untuk menikmati hidup setiap harinya hihi. Saya tulis di blog biar berasa bikin janji tertulis gitu sekalian ikutan evennya Mbak Eno. Kan kalo di baca orag biasanya jadi lebih bertanggung jawab ya ðŸĪĢ Dasar aku.


Kalau teman-teman gimana? Ada juga skill yang lagi di improve nggak nih? Apa pun itu mari semangat untuk melakukannya! 💃


You Might Also Like

11 comments

  1. Seni bodo amat memang wajib dikuasain oleh setia orang sih seharusnya :D. Apalagi skr, dengan banyaknya komen2 yang bisa masuk gitu aja ke medsos kita. Mending kalo isinya bagus, tapi kalo beracun, cm bisa menghina tapi ga kasih solusi, yg ada malah suka panjang dan jadi viral. Aku sendiri udah makin belajar, utk ga peduli kata2 toxic dr orang lain. Anytime, aku bisa mendepak mereka dan masukin ke spam ato Block sekalian.

    Kalo komunikasi, inipun masalahku mba :D. Aku tuh LBH suka tertulis dalam menyampaikan sesuatu. Bayangin dulu, sampe pernah aku berantem Ama suami pas pacaran, dan Krn aku LBH lancar ngomongnya lwt tulisan , aku tulis di email aja apa yg bikin aku ga suka dan marah :D. Yg penting tersampaikan toh.. komunikasi lisan yg memang perlu aku improve. Tapi memang pada dasarnya aku ga nyaman sih kalo ngomong, terlebih Ama orang yg blm dikenal baik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengalaman mba Fanny ini persis saya, kalau ada masalah sama pasangan, ada yang buat saya kesal, yang serius gituuu bukan yang recehan, pasti saya tulis panjang lebar 😂 Biasanya lebih tersampaikan dan bisa dipecah masalahnya, nggak asal bicara tapi berputar-putar. Wk.

      Dan untuk seni komunikasi, sebetulnya untuk urusan profesional kerja, saya nggak ada masalah berarti, mungkin karena bahasannya teknis jadi gampang. However, untuk heart to heart, sama keluarga, sohibuls, or pasangan, nah itu yang susah. Karena dari hati, jadi seperti yang mba Dea alami, saya pun harus menyusun kalimat demi kalimat agar ujungnya nggak jadi membuat bingung orang hahahaha. Mungkin karena itu kita lebih suka menulis, mba (?) 🙈

      Well apapun harapan improving mba ke depan, semoga terlaksana dengan lancar ðŸĨģ🎉

      Delete
    2. @FANNY_DCATQUEEN

      haha iya mabk. aku pun makin ke sini makin menyaring orang-orang toxic. yang dulunya merasa 'ya gpp kali ya namanya juga orang nggak selalu cocok dan pasti ada crash' dan masih mau berhubungan, makin ke sini makin sadar kalo itu juga ngefek nggak baik ke hidupku hehe jadi udah berani tega buat block dll 😆

      aku jugaaaaa kalo nulis surat lebih lega dan bisa sampe berlembar-lembar sampai orang yang aku kasih surat itu rada kaget juga. tapi jadinya lega sih karena bisa mengeluarakan segala uneg-uneg yang kadang kalo ngomong pasti ada lupanyaaaa dan merutuk "eh nggak gitu tadi harusnya" 😆

      semoga kita bisa lebih baik lagi dalam hal ini ya mbak 😁

      Delete
    3. @CREAMENO 🐰

      sama Mbak Ennnnn aku pun kalo menyangkut kerabat dekat kudu bener-bener menyusun kata demi kata hehe apalagi kadang kalo aku diem bisa di salah artikan.
      maksudnya apa eh ditangkapnya apa hehe 😆

      thank you Mbak Enoooo~

      Delete
  2. Bodo amat juga sepertinya harus aku lakukan nih biar gak banyak pikiran hehe

    ReplyDelete
  3. Kemampuan apa yang ingin dan sedang saya coba kembangkan sudah Mbak baca di blog. Hehe.

    Kayaknya hampir di mana-mana pasti ada aja yang salah fokus dengan mengomentari fisiknya. Dari video sejenis vlog gitu, paling enggak mah komentarnya memang terkait kritik kepada kreator itu. Seumpama suaranya telalu pelan saat ngomong atau menjelaskan, atau seperti yang Mbak tulis masih belibet. Lah, kalau bahas tinggi badan, lebih-lebih nyuruh jadi pramugari mah udah keluar topik banget. Ahaha.

    Saya belum baca buku yang bahas tentang seni bersikap bodo amat itu, tapi alhamdulillah mulai mempraktikkannya dalam setahun terakhir. Hampir enggak pernah terpancing lagi dengan kata-kata orang lain. Serangannya justru berasal dari dalam diri. Kritik diri sendiri yang rasanya keterlaluan jahat itu sungguh mengganggu. Atau itu yang malah bikin saya kuat dengan komentar orang lain, ya? Hmm.

    ReplyDelete
  4. Ketiga seni yang penting banget mbak Dea.. setuju banget hehe
    Seni bodo amat itu penting banget, apalagi ketika kita sudah makin dewasa.. biar bisa hidup tanpa memikirkan tentang pendapat orang lain yang bersifat "nyinyir" haha

    ReplyDelete
  5. Bodo amat lumayan terlatih, tapi bagian skill menahan dirinya ini saya masih butuh, butuh, banyak latihan. Saya masih sering kelepasan... mikirnya karena "ah, mending sekalian", atau "biar tahu saja sekalian", tapi meskipun itu benar, belum tentu baik untuk dikatakan atau dilakukan saat itu. ujungnya tinggal menyesal.

    Mungkin karena bagian bodoamat itu juga, jadinya cenderung mementingkan diri sendiri. Padahal mementingkan diri sendiri itu perlu tapi juga dengan pertimbangan harusnya, karena kita toh hidup di sekitar orang lain...

    semoga lancar janji tertulisnya di tahun ini ya mbak, sama nih berkat mbak Eno saya juga jadi nulis cita-cita tahunan... 😂

    ReplyDelete
  6. Aku setuju soal menahan diri kak, tapi aku lebih ke hal-hal apakah ini bakal bikin aku nyesel dikemudian hari. Suka kaget aja tiap buka facebook yang isinya status nggak jelas ternyata. Padahal nggak harus orang lain tau perasaanku setiap saat.

    ReplyDelete
  7. Relate banget semuanya,
    Saya sempat vakum hampir 3 th dari menulis blog karena sebelumnya isi blog saya benaran curcol mengenai perasaan yg bucin, lama-lama banyak pemikiran tertentu yg masuk hingga saya tersadar setiap huruf yg dirangkai juga harus dipertanggungjawabkan nanti, bukan stock pakaian atau brg2 aja yg dihisab yah, nah berangkat dari situ saya terus-terusan dilema bikin tulisan atau engga ya, karena ketakutan saya adalah bisa saja bagi saya tulisan itu baik-baik aja namun belum tentu dg pembaca yg menangkapnya kan, alias saya jd takut dosa jariah, bukan pahala jariah jadinya...hingga saya putuskan untuk menahan dulu mmenuliskan suatu pendapat karna saya sadar saya agak belibet juga kalo ngomong..belibet terus malah jd nyerocos terus, sedihnya itu kalo engga sadarnya kan, solusi nya sampai saat ini saya hanya menulis tentang pengalaman berkelana yg mana murni yg sudah terjadi sesuai realita, semoga suatu saat juga bisa menulis tulisan inspiratif yg menggugah pembaca seperti tulisan kakak ini tanpa ada rasa kecemasan alias sudah tau batasannya :)))

    Terima kasih tulisannya mba..

    ReplyDelete