Review Buku: Quantum Ikhlas

by - January 17, 2021



Judul                 : Quantum Ikhlas

Author : Erbe Sentanu

Publisher         : Elex Media

Published : 2007

Pages : 221

Genre : Self-development



Buku Quantum Ikhlas ini memang bisa di bilang buku yang sudah lamaaaa sekali. Saya pun baru tahu kalau cetakan pertama ini di tahun 2007 yang berarti jaman saya smp hehe. Yang baru bisa saya selesaikan di tahun ini. Sebenernya sih sudah sempat baca tapi nggak kelar beberapa tahun lalu, daaaannnn padahal buku ini bisa selesai dalam 2 hari baca huhu. Hmm, memang ya, setiap buku punya timing-nya sendiri untuk dibaca hehe 😆


Seperti buku self-develompent kebanyakan, buku ini mengulik rahasia kesuksesan hidup. Sukses di sini banyak ya terjemahannya. Bergantung pada setiap orang. Ada yang mengidentikkann sebagai kekayaan material, kebahagiaan hati, atau validasi dari lingkungan sekitar.


Apapun itu identifikasi sukses, kalau kebanyakan buku meminta kita untuk positive thinking, di buku ini kita diminta untuk positive feeling. Hla ini juga berkaitan dengan alam bawah sadar. Berdasarkan pada ilmu fiika quantum, sesuatu yang tampak berasal dari kehampaan. Demikian dengan nasib kita merupakan cerminan dari hati kita 😌  


Seorang anak bertanya, dari mana asal langit, bumi, dan seluruh isinya? 🤔 Ayahnya memintanya untuk mengambil buah kering yang berserakan di tanah lalu membelahnya. Saat sang anak menemukan biji kering di dalamnya, ayahnya tetap memintanya untuk terus membelahnya. Hingga sang anak menemukan bahwa biji tersebut kosong. 






Sewaktu membaca buku ini, saya jadi bertanya-tanya. Kenapa ya waktu kecil itu semuanya kelihatan gampang banget dapat sesuatu, seru, menyenangkan, pokoknya excited banget lah. Beranjak dewasa kita jadi lebih was-was karena berpikir ini itu termasuk berbagai kekhawatiran yang menghantui. Karena sewaktu kecil kita fokus dengan present moment. Fokus dengan apa yang sedang kita alami saat itu. Nggak mikir masa lalu atau galau sama masa depan 😉  


Buku ini juga menganjurkan kita untuk selalu memiliki jiwa ‘anak-anak’ yang nggak pernah takut mencoba dan selalu bersungguh-sungguh mengerjakan sesuatu. Ikhlas dan berprasangka baik terhadap yang lain. Selalu bersyukur pada apa yang kita dapat 🙂 


Semakin dewasa, kita jadi punya prasangka dan pikiran negatif yang merasuk ke dalam hati. Yang bikin kita lupa dengan kebaikan, kelebihan, dan potensi diri. Seperti beberapa kepercayaan yang umumnya dilontarkan, hidup itu susah dan penuh penderitaan, rezeki itu susah dicari dan nggak akan pernah cukup, dan ikhlas itu susah dan sulit dilakukan. Semua pikiran ini berasal dari hati yang khawatir. Yang nggak percaya diri 😣 


Law of attraction. Karena doktrin tersebut, alhasil kehidupan kita pun nggak jauh dari semua pikiran itu. Alam memberikan apa yang kita rasakan, yakini. 


Otak kita terbagi menjadi empat kategori gelombang otak, yaitu beta, alfa theta, dan delta. 

  • Beta merupakan frekuensi otak saat dalam kondisi terjaga atau sadar penuh dan didominasi oleh logika. Saat berada di gelombang ini, otak kiri sedang aktif digunakan untuk berpikir sehingga gelombangnya meninggi. Gelombang tinggi ini akan membuat otak mengeluarkan hormon kortisol dan norefinefrin yang menyebabkan cemas, marah, khawatir, dan stres.

  • Alfa merupakan tombol ikhlas yang kita cari untuk masuk ke alam bawah sadar. Orang yang sedang rileks, melamun, atau berkhayal sedang dalam frekuensi ini. Dalam kondisi ini, otak akan memproduksi hormon serotonin dan endorfin yang membuat imunitas meningkat. 

  • Theta merupakan frekuensi saat sedang bermimpi. Dalam kondisi ini pikiran menjadi kreatif dan inspiratif. Orang yang dalam gelombang ini berada dalam kondisi khusyuk.

  • Delta merupakan frekuensi terendah saat tidur pulas, tidak sadar, tidak berpikir. Saat berada di gelombang ini otak mengeluarkan hormon HGH (Human Growth Hormone/hormon pertumbuhan) yang dapat membuat orang awet muda. 


Untuk mencapai positive feeling atau keadaa ikhlas (gelombang alfa) buku ini bakalan nuntun kita perlahan dengan CD yang ada di dalamnya. Musiknya berupa suara alam seperti gemericik air, guntur, suara kodok, dll. 


Tapi, sebelum itu ada 3 hal yang perlu dipahami, yaitu DOA. Direction, meminta dengan niat yang jelas. Bagian ini bikin saya ingat ada saat-saat di waktu saya selsai salat, aya bingung nggak tahu mau minta apa sama Tuhan. Bahkan, dulu sewaktu umroh pun begitu. Udah di depan Ka’bah dan saya nggak bisa doa yang beneran. Alhasil, saya cuma doa sekadarnya. Di situ saya jadi paham, mungkin saya belum begitu tahu dan yakin apa yang sebenarnya saya mau 😣 


Obedience, yakin bahwa doa akan terkabul. Sama seperti kita sudah memnta tapi hati sebenarnya nggak begitu yakin akan dikabulkan. Nah, ini juga yang sering terjadi pada saya. Ragu.  Acceptance, merasakan saat doa terkabul. Membayangkan seolah-olah kita merasakan secara riil semua doa terkabul beserta visualisasinyalah yang membuat hati semakin mantap dengan apa yang kita inginkan. Jadi, minta-yakin-terima.


Intin dari buku ini sih sebenarnya sederhana, ikhlas untuk menerima. Tapi, bukan serta merta kita nggak boleh meminta (berdoa) ya. Tapi, untuk mencapai ke sana kita butuh proses yang lumayan panjang hehe. Karena beberapa dari kita toh isi kepala dan hatinya sudah terkena ‘virus’ hehe 🙂 



You May Also Like

6 comments

  1. Buku yang bagus untuk di baca

    ReplyDelete
  2. wah bagus nih, harus ada perpustakaanku nih buku

    ReplyDelete
    Replies
    1. boleh tuh di rekomenin ke pihak sekolah atau kampus hehe
      thank you mbak udah baca

      Delete
  3. Setuju sekali jika waktu kecil, mindset kita pasti merasa gampang banget dapat sesuatu nan excited.
    Beranjak dewasa, rasa itu telah hilang yaa mbak hiihihii..

    Maka, ke depan saya akan coba untuk selalu memiliki jiwa ‘anak-anak’, selalu optimis, tak pernah takut, dan berpikiran positif.

    Semoga apa yg kita sedang perjuangkan segera terwujud.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha aku juga kok mas. meski usia makin bertambah tapi jiwa tetep kudu muda 🤣
      aamiin. semoga dilancarkan juga ya mas segala urusannya

      Delete