Ngalor Ngidul

February 21, 2021

Di Minggu yang syahdu ini, saya mau mengurai isi kepala. Dengan harapan, supaya minggu depan bisa bekerja dengan riang gembira tanpa beban. 

Udah hampir 2 minggu saya nggak posting apa-apa di blogπŸ˜† Huehue. Gomenasai. Wait, haruskah saya minta maaf? Hmm, rasanya nggak sih tapi pengen aja. Fyi, semua tulisan ini adalah apa yang terlintas di kepala saya tanpa saya edit (kecuali typo) supaya enak dibaca atau lainnya. Jadi kalau teman-teman bacanya kayak ngalor ngidul nggak jelas, mohon dimaklumi karena begitulah adanya isi kepala ini sekarang hehe 😬


Saya nulis ini di ruangan ternyaman di rumah, kamar. Sambil ditemani musik mellow yang sesuai dengan suasana hati, Paul Kim 😌 Thanks to Mbak Eno yang sering banget sebutin penyanyi asal Korea ini yang sukses bikin saya kepo gimana sih si gantengnya Mbak Eno ini bisa mengalahkan si Kesayangan


Meski saya nggak tahu doi ngomong apa, tapi saya terlanjur suka sama instrument nya hihi. Yap, hal pertama yang saya perhatiin kalau lagi dengerin musik adalah instrument nya. Maafkan saya para penulis lagu. Lirik bisa jadi nomor 2 πŸ˜†


Satu jam lalu saya berniat keluar rumah untuk sekadar duduk bengong di suatu tempat. Apalagi kalau bukan me time guna mendengarkan isi kepala dan hati😬. Di detik-detik terakhir saya urung dan spontan membuka laptop dan mengetik ini. Saya teringat beberapa momen lalu yang saya habiskan sambil ketak-ketik di laptop yang berujung bikin saya lega. Sejujurnya itu hal yang sedang saya ingin lakukan lagi. Tapi, entah kenapa susah sekali melakukannya lagi beberapa tahun terakhir. Apakah karena udah setiap hari saya ketak-ketik bikin script? Nggak tahu juga sih. 


Ada momen di mana saya ingin menghabiskan weekend dengan jauh-jauh dari laptop dan ponsel. Muak dengan berita di media. Pengennya jalan-jalan (jalan kaki atau sekadar keliling kota) nikmatin jalanan. Sebenernya tadi pagi saya sempat keliling kota dan mampir makan tauwa di tempat favorit, cuma entah kenapa saya nggak bisa menemukan perasaan yang saya ingin rasakan. Saya jadi bingung dan berusaha mengingat-ingat, apa ya yang biasa saya lakukan lalu merasa begitu lega dan tersenyum di penghujung hari? Saya merasa weekend selalu berjalan begitu cepat. Kayak nggak adil banget lah. Saya kan selalu menanti weekend dan berharap hari berjalan lama heheπŸ™‚. 


Ngomongin soal script, saya merasa jadi susah sekali menulis di salah satu media lagi. Karena terbiasa degan menulis script dengan style di tempat saya bekerja😢. Kemarin saya mengirim tulisan di media yang lama, untuk pertama kalinya saya dapat 2x revisi. Saya nggak bermaksud sombong atau gimana ya, tapi ini jadi tolak ukur juga buat saya kalau saya kehilangan sesuatu meski saya juga merasa bertambah di hal yang lain. Hmm, memang ya manusia itu nggak boleh kemaruk. Maunya lebih-lebih dan lebiiiihhhhhhhhhhhhhh terus. Maunya ngerasain naik tapi takut dan menghindari turun. Kalau mau positif thinking sih mungkin karena udah makin banyak juga yang kirim tulisan ke media tersebut jadi makin kompetitif gitu eheh. 


Jadi inget film Wonder Woman yang saya tonton beberapa hari lalu. Bagus banget pesan moralnyaaaa. Teman-teman harus nontooonnn. Saya dari kemarin pengen tulis reviewnya, tapi apa daya. Kayak nggak ada tenaga. Eh tapi nulis ini ada tenaga. Sisa tenaga lebih tepatnya hehe. Banyak yang saya tonton sebenernya drama True Beauty, Penthouse (lagi jalan mau kelar season 1), terus apa lagi ya saya lupa πŸ€”


Kayaknya belakangan saya jadi sering lupa deh. Bahkan untuk mengingat apa aja yang saya lakukan kemarin aja rada harus berusaha keraasssss. Huft. Makanya saya setiap kali bikin rekap keuangan harian jadi ribet sendiri. Saya pun mengakali dengan langsung tulis di hp setiap mengeluarkan uang atau sebisa mungkin bayar pakai card biar lebih enak cek mutasi hehe. 😬 


Teman-teman nonton Penthouse juga nggak sih? Yaampun saya lihatnya di episode 1 asli deh kesel jiwa ragaaaaaaa. Nggak pernah terpikir kok ada gitu lho anak-anak songong macam itu 😭? Eh tapi kalau soal bully membully saya lebih nggak bisa tahan lihat di True Beauty. Aahhhh, pokoknya nggak tahan lihat adegan bully gitu. Bawaannya itu pengen nangis sambil mukul-mukul bantal. 


Saya sempat berpikir saya bersyukur banget punya kehidupan biasa aja yang adem anyem (meski tiap orang punya masalah masing-masing). At least, nggak separah sampe bunuh-bunuhan kayak di Penthouse sih hehe. Dari drama itu juga saya banyak berpikir soal mendidik anak😢 


Beberapa waktu lalu sewaktu brainstorming cari ide sama rekan, kami membahas perihal panti werdha. Salah seorang perempuan sedang mencari informasi panti werdha yang bagus di Jakarta untuk dirinya sendiri di masa mendatang kalau dia tidak menikah. Banyak banget yang ngerespon negatif. Seolah memilih tinggal atau menitipkan orang tua ke panti werdha itu menyedihkan. Padahal itu juga bisa jadi pilihan hidupπŸ™‚. Saya sendiri pun jadi berpikir, suatu saat nanti kalau misal saya nggak menikah saya akan memilih jalan yang sama. Meminta kerabat untuk menitipkan saya di panti werdha. Toh, di sana saya bisa punya banyak teman seusia dan bakalan di rawat 24 jam oleh perawat yang sudah biasa merawat + ada pula kunjungan dokter. Jadi, menurut saya secara kesehatan fisik dan mental bakal lebih terjaga. Oh ya, beberapa panti werdha juga memberikan aktivitas yang beragam bahkan mengajak jalan-jalan. Dan terlebih lagi, apalagi saya tipe orang yang nggak suka merepotkan orang lain. Semoga saja ke depannya banyak panti werdha yang bagus di Indonesia jadi nggak pelu jauh-jauh ke Thailand, Chiang Mai. 


Dan sejujurnya saya jadi mempersiapkan dana pensiun untuk ini juga hehe😬. Tapi, ya balik lagi sih setiap orang punya pilihan hidupnya masing-masing. Dan kita nggak bisa menghakimi pilihan tersebut dengan nilai baik buruknya pandangan kita. Karena value setiap orang berbeda. 


Eh, wait. Bukan berarti saya nggak mau nikah ya. Saya mau, cuma kalau semisal memang jalannya saya sendiri ya masa mau dipaksain? Pernikahan kan nggak bisa coba-coba. Saya nggak mau menikah hanya karena masalah usia. Saya mau menikah karena memang saya sudah siap lahir batin. Saya sih percaya aja kalau jodoh itu di tangan Tuhan, bukan di tangan netizen. Sorry little bit sarcasm. Jadi, semua pasti sudah sesuai dengan rencana-Nya. Jadi, mari jalani semampunya saja hehe😊. 


Wah, saya nulis udah 2 halaman aja. Nggak sadar 🀭 Btw, saya sudah ganti playlist ke Ardhito karena di luar tiba-tiba hujan. Haha nggak nyambung banget sih tapi nggak tahu deh kenapa kalau hujan rasanya cocok banget sama musik-musiknya Ardhito. 


“Dunia berputarlah saja. Rekam peristiwa yang takkan terulangi~”


Teman-teman pernah nggak sih berpikir untuk menghentikan waktu sejenak? Karena merasa nggak sanggup untuk selalu berlari mengejar ketertinggalan diri. Dulu, saya sering banget merasa begitu. Bising banget dengan hidup yang riuh dan berjalan begitu cepat. Bersyukurnya sih sekarang sudah nggak begitu hehe. Semoga teman-teman juga selalu baik-baik aja ya 😊 


Hmm, saya mau order cookies dulu ya teman-teman. Tiba-tiba pengen hehe. Terima kasih sudah bacaaaaaa tulisan ngalor ngidul kali ini 😊


Happy Sunday~




You Might Also Like

6 comments

  1. Aku juga jadi teracuni akan Paul Kim karena Kak Eno πŸ˜‚ kemarin itu abis dengar lagu-lagunya dan jadi suka 😍. Kalau Ardhito, duhhh kayaknya nggak ada yang ngalahin lagu-lagu Ardhito untuk saat ini bagiku πŸ˜‚ sesukaa itu dengan lagu-lagu Ardhito dan nggak pernah bosan dengerinnya wkwkwk

    Perihal panti werdha, aku juga merasa lebih baik hidup di sana dibanding harus menyusahkan orang lain saat aku tua kelak πŸ˜‚. Berarti harus menyiapkan dana pensiun sedini mungkin ya~ supaya nanti bisa masuk ke panti werdha yang fasilitasnya oke 🀭

    Jadiii.. pesan cookies rasa apa kemarin, Kak Dee? 😁

    ReplyDelete
  2. Huahahaha, mba Dea jadi dengar Paul Kim ughaaa πŸ˜‚

    Ih dia tuh yaa bukan ganteng, tapi suaranya enak, jadi bisa mengalahkan deretan cowok-cowok ganteng lainnya. Tapi no worries, dia masih nomor 101, si kesayangan tetap yang ke 100, mba πŸ€ͺ Menang satu urutan di atas Paul Kim. Wk *ditoyor si kesayangan*

    Eniho, drama pembully-an memang selalu berhasil membuat kita elus dada yaa, orang kaya dan berpendidikan tinggi pun nggak jadi jaminan mereka punya karakter bagus, seperti di drama Penthouse itu. Ckckck πŸ˜‘ PR berat bagi para orang tua untuk bisa mengarahkan anaknya, bukan hanya untuk nggak jadi pembully, namun bagaimana ketika harus menghadapi pembully ~

    By the way, saya sama si kesayangan juga akan masuk Panti Werdha saat sudah tua mba, di Korea fasilitas panti werdhanya bagus, kalau di Indonesia masih belum tau. Tapi menurut saya, enaknya masuk panti werdha, bisa ketemu banyak teman seumuran, dan selain itu, lebih tenang karena kita nggak perlu merepotkan orang atau keturunan kita kelak 😍

    Happy Monday, mba Dea πŸ’•

    ReplyDelete
  3. Haloo mbak Dea, mengenai Paul Kim, saya tidak tahu nih. Tapi, orang lain dari keluarga Kim yang saya tahu adalah.. Kim Jong Un heheee

    ReplyDelete
  4. Hallo mbak Dea, salam kenal ??? saya tidak menggenal siapa penyanyi korea Paul Kim itu .

    ReplyDelete
  5. yess aku tau Paul Kim juga dari mbak eno mba, enakkk ya
    Wonder women yang main siapa mbak, kayaknya ada banyak judul wonder women, jadi aku bingung yang versi mana pemainnya

    sebenernya drama bully membully ini ada seru seru dikitnya, tapi kalau keterusan kok jadi penyakit hati nanti ya aku liatnya, esmosi sendiri gitu. kan kesel nanti jiwa raga kan ya hahaha

    pernah banget kepikiran buat menghentikan waktu, biasanya terpikir kalau kerjaan belum selesai dan waktunya cepet berjalannya, pengen aku olor gitu mbak, dilambat-lambatin, tapi ga mungkin ya, aku bukan doraemon soalnya :D

    ReplyDelete
  6. Jadi kepikiran dana pensiun juga
    Kalau sudah tua nanti pengen banget nggak bikin anak-anak terbebani.

    Untuk pernikahan aku setuju, semoga apapun itu yang terbaik buat Mba Dea ya...

    Baca cookies jadi pengen order juga, wkwkk

    ReplyDelete