Review Novel: Bara Surat Terakhir Seorang Pengelana

by - April 20, 2021



Judul   : Bara Surat Terakhir Seorang Pengelana

Author : Febrialdi

Publisher    : Media Kita 

Published : 2017

Pages : 369

Genre : Fiksi


Bara, seorang laki-laki yang hobi bertualang. Mendaki gunung adalah hobinya. Dari mendaki ia belajar banyak hal mengenai kehidupan. Meski hidup sebatang kara di Bandung, Bara bertemu dengan sahabatnya yang setia yang sama-sama gemar mendaki gunung. 


Jangan tanya soal keluarga, karena Bara akan diam seribu bahasa. Kalau kata temannya, Bara terlampau misterius. Meski begitu, ia adalah sosok laki-laki yang baik dan hangat. Apalagi, saat melihat anak-anak tidak beruntung di jalanan. Seolah, ia teringat akan dirinya yang nggak beruntung juga.


Kirana, satu-satunya kekasihnya tempat ia pulang saat kepala dan hati nggak baik-baik saja. Hari itu, Kirana mengajak bara untuk pergi dengan teman-temannya, sayangnya Bara sudah terlanjur janji dengan sahabat-sahabatnya untuk mendaki bersama. Merayakan pekerjaan pertama seorang sahabat. 


Keputusan yang disesalinya seumur hidupnya, nggak ikut pergi bersama Kirana. Karena kabar buruk itu tiba-tiba datang tanpa permisi. Kirana meninggal karena kecelakaan. Bara berkabung dengan caranya. Ia lari ke obat-obatan, berkelahi, dan balap motor. Ia kehilangan tempat untuk pulang. Siapa yang nggak bersedih saat kehilangan tempat satu-satunya untuk bersandar? 


Bara sudah nggak minat lagi untuk melanjutkan kuliah. Satu-satunya hal yang ia lakukan adalah menulis cerita perjalanannya dan mengirimnya ke koran. Dari situlah ia bertahan hidup. 


Bara sudah terbiasa menghidupi dirinya semenjak SMA. Sejak neneknya, satu-satunya keluarga yang ia punya meninggal. Ibunya seorang pelacur dan ayahnya seorang pengedar narkoba yang menjalani hukuman di penjara. Bara nggak pernah bertemu keduanya semenjak kecil. Neneknyalah yang merawatnya dengan penuh kasih sayang. 


Setelah kepergian Kirana, Bara menjadi uring-uringan. Meski kesal, sahabatnya tetap berusaha memahami dan membuat Bara sadar kalau hidup tetap harus berjalan. Mereka juga menyakinkannya kalau kepergian Kirana bukanlah kesalahannya. 


Butuh waktu berbulan-bulan bagi Bara untuk bisa kembali menjalani hidup. Ia mulai menata hidupnya lagi dengan lebih rutin mengirim tulisan. Di saat-saat itulah sosok Inoy, teman satu kosannya, hadir dalam hidupnya. 



Mereka sudah lama saling mengenal. Entah kenapa, Bara selalu segan dengan wanita berjilbab itu. Nggak niatan sedikit pun untuk menggoda Inoy. Hal yang biasa ia lakukan pada gadis-gadis. 


Semakin lama, mereka pun semakin dekat. Hingga suatu hari, Inoy menjadi korban tusuk oleh Soni Item sebagai ajang balas dendam. Bara marah sekaligus sedih. Marah karena Soni Item masih saja menyimpan dendam padanya, sedih karena mengapa Inoy yang menjadi korbannya. Dan lagi-lagi, orang yang dikasihinya pun meninggal dunia. 


Bara pun membuat perhitungan dengan Soni Item. Setelah pencarian berhari-hari, akhirnya Bara menemukan Soni Item. Mereka pun berkejaran menggunakan mobil dengan kecepatan tinggi. Belum sempat Bara menghajarnya, mobil Soni Item tertabrak dan Soni Itm pun meninggal. 


Dua kali ditinggalkan orang yang disayanginya, sempat membuat Bara trauma untuk mendekati wanita. Ia kesal dan bingung kenapa harus mengalami hal serupa bertubi-tubi. Hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis yang mengingatkannya akan Kirana. 


Review


Novel ini sebenernya udah lama banget nangkring di rak. Pinjam punya teman hehe tapi baru sempat baca. Lagi berusaha menaikkan mood baca buku lagi hihi ðŸĪŠ 


Bara ini salah satu novel yang ringan. Bahasanya mudah dimengerti dan sangat sederhana. Yang paling menonjol di buku ini adalah karakter tokoh utama, Bara, yang kuat. Penggambarannya bisa saya bayangin 11 12 kayak penulis sekaligus penyanyi Fiersa Besari lah ya hihi. Kayaknya semua anak gunung tampilannya begitu. Apalagi Fiersa dan Bara punya kesamaan suka menulis 😆 


Kisah Bara sempet bikin saya nggak habis pikir. Apakah ada manusia yang diberi beban sebegitu beratnya oleh Tuhan? Dan cobaan bertubi-tubi ditinggalkan oleh orang tersayang. Karena menurut saya beruntun banget kepergiannya 😔 



Nggak pernah merasakan kasih sayang orangtua. Ibunya pelacur dan ayahnya mendekam di penjara karena seorang pengedar narkoba. Neneknya satu-satunya keluarga, meninggal karena sakit. Bara pun memutuskan untuk merantau ke Bandung setelah menjual rumah neneknya ðŸ˜Ĩ


Di Bandung ia tinggal bersama sahabatnya, Wilis, tapi lama-lama sungkan dan memutuskan ngekos. Menghidupi diri sendiri dengan bekerja sebagai penulis cerita dari setiap perjalanannya mendakinya 🙂 


Kirana meninggal, begitu pula Inoy. bertemu dengan Lia yang mirip banget sama Kirana, tapi sewaktu ayah Lia meninggal, Lia terpaksa menikah dengan anak rekan ayahnya. Kebayang nggak gimana kalau jadi Bara? Bener kata Wilis, untung Bara tetap waras ðŸĨš


Setiap babnya, buku ini selalu diawali quote yang indah. Hampir semua quote saya suka. Menggambarkan pesan dari setiap cerita kehidupan Bara. Kekasih, keluarga, dan persahabatan ðŸŒŧ 



You May Also Like

2 comments