Review Buku Catatan Hati Pengantin

by - May 11, 2021


Sebenernya buku ini ibu saya yang beli. Sesampainya di rumah, ibu meminta saya untuk membacanya dan kemudian menceritakan isinya pada beliau karena nggak ada waktu untuk membaca. Saya sih nggak keberatan membaca buku apa pun. Asal ada pelajaran yang bisa saya ambil darinya ðŸ˜ 

Ibu membeli buku ini sebenarnya supaya bisa ‘bercerita’ kepada kakak yang sudah menikah. Maklum lah, namanya juga pasangan muda yang baru menikah seumur jagung pasti ada saja tahap adaptasi. Supaya nggak dikira menceramahi, buku ini menjadi tamengnya 👀 


Menurut saya buku ini isinya bagus sekali untuk dibaca semua kalangan. Mereka yang belum menikah, sudah menikah, bahkan mereka yang memutuskan untuk tidak menikah. Nggak ada salahnya kan untuk sekadar tahu? 😉


Catatan Hati Pengantin, buku tulisan Asma Nadia yang berisi kumpulan kisah nyata teman-teman perihal permasalahan dalam pernikahan dan cara mereka menyikapinya. Mulai dari yang sepele seperti suami yang nggak pernah ngabarin istrinya sampai membuat istrinya menunggu di rumah. Hingga yang mampu memisahkan pasangan, seperti adanya orang ketiga ðŸ˜ķ 


Sewaktu saya baca buku ini, saya jadi mikir banyak hal. Bener-bener deh, untuk sampai ke tahap itu memang diperlukan kematangan jiwa dan raga. Toh, semua orang hanya ingin menikah satu kali bukan? ðŸ˜Š



Saya sebagai singlewati, membaca buku ini jadi membuat saya berpikir banyak hal mengenai pernikahan. Seperti latar belakang pasangan, bibit bebet dan bobotnya. Sekarang saya paham mengapa aspek-aspek itu penting sekali untuk diketahui matang-matang dan dijadikan bahan pertimbangan sebelum melangkah ke tahapan yang lebih serius. Meski ada beberapa di antaranya yang dapat ditoleransi. Nobody's perfect


Kalau dulu saya menganggap orangtua yang terlalu mementingkan bibit bebet dan bobot menantunya itu terlalu berlebihan, sekarang saya paham. Tapi, saya rasa mereka yang menjalaninya lah yang lebih berhak untuk memutuskan. Orangtua tentu boleh memberikan saran berdasarkan pengalaman mereka 😁 


Pentingnya untuk tahu bagaimana cara orangtua pasangan mendidik pasangan kita, pasangan kita anak ke berapa (yang berpengaruh pada pola pikir dan tanggung jawabnya), apakah orangtuanya selalu memanjakannya, apakah pasnagan kita orang yang nggak enakan, dan masih banyak lagi. Saya sampai bikin daftar pertanyaan yang sekiranya akan saya ajukan untuk pasangan kelak ðŸĪĢ 



Ah, pokoknya buku ini bagus banget deh buat referensi teman-teman. Bagus untuk menambah pusing hehe candaaaa 😜




Selain berisi kumpulan kisah nyata, di setiap akhir cerita buku ini ada kuesioner yang bisa teman-teman isi bersama dengan pasangan. Dengan mengisinya teman-teman bakalan bisa intropeksi diri masing-masing. Dan saya rasa adanya lembar ini juga membantu pasangan menjadi lebih terbuka satu sama lain 😊


Curhat


Ngomongin soal pernikahan, sebenernya topik ini sedikit sensitif di lingkungan pertemanan saya. Kalau di bilang teman-teman saya sudah pada nikah semua, sebenernya nggak juga sih. Kayaknya baru ¼ dari teman-teman saya yang sudah sah. Yang artinya, memang lebih banyak yang masih single daripada yang sudah double. Pasangan maksudnya 😆 


Alasan teman-teman pun beragam. Ada yang masih ingin berkarir, ada yang ingin sekolah dulu, atau ya sebenernya sudah siap tapi hilalnya belom kelihatan, ada juga yang menunggu kakak dulu. Macam-macam deh 😊  


Karena sensitif, setiap kali saya bahas (ngetweet, instastory, atau stasus whatsapp) sesuatu berbau pernikahan, seperti sharing buku ini salah satunya, pasti ada aja yang komen, “Mer, udah ngebet nikah ya?”. Saya yang sudah menduga bakal ditanya seperti itu pun cuma senyum aja sambil guyonan 🙂 


Padahal, nggak ada salahnya kita tahu sebelum bener-bener terjun. Sewaktu saya jawab seperti itu ke teman saya, dia menjawab, “Gpp biar surprise ðŸĪĢ,”. Saya pun langsung melongo demi membaca chat teman saya ðŸ˜Ŋ 


Surprise? Dalam berumah tangga? 


Hmm, kalau itu sesuatu yang positif sih nggak masalah. Misalnya, pasangan kita inii kalau diajak makan di luar kelihatan males banget. Apa-apa kayak terserah gitu ngikut aja. Tapi, begitu menikah ternyata dia lebih suka masak sendiri. Nah, kalau kayak gini sih nggak apa-apa jadi kejutan yang menyenangkan ðŸĪŠ 


Nah, kalau sebaliknya gimana? Misal, dia dari penampilannya kelihatan rapi banget. Eh, begitu menikah ternyata jorok banget. Baju kotor di mana-mana. Hadeuh. Siapa yang demen kejutan macam ini, wahai kisanak? 😎


Ya, mungkin memang ada sih beberapa orang yang lebih nyaman dengan learning by doing. Tapi, buat saya sih lebih baik saya mempersiapkannya sebaik mungkin buat menghindari hal-hal yang nggak diinginkan. Karena hal sepele bisa jadi gede juga kalau dalam berumah tangga ðŸ˜ķ 


Baca juga: Kuliah Salah Jurusan


Salah satu teman saya 2 tahun lalu baru saja menikah. Pestanya luar biasa diadakan di salah satu hotel bintang 5. Semua teman diundang. Bahkan ibunya sampai menghadiahi anaknya dengan mengundang penyanyi favoritnya. 


Sewaktu saya terima undangannya yang berbentuk kotak sangat mewah, saya cuma melongo. Mereka pacaran sudah cukup lama, tahunan semenjak sekolah. Sayangnya, pernikahan mereka hanya bertahan 1 tahun saja. Setelahnya mereka berpisah dan teman saya memutuskan ke luar negeri untuk melanjutkan studi. 


Ada juga beberapa teman yang saya dengar kabarnya nggak begitu baik dengan pernikahan. Menjalin hubungan yang cukup lama toh nggak menentukan kita bakal bisa awet dalam berumah tangga. Terus mau di-surprise-in dengan hal-hal semacam ini? Naudzubillah ðŸĪēðŸ― 


Usia 26 tahun dianggap sudah tua untuk menikah. Dan usia 26 tahun juga menjadi usia yang terlalu muda untuk mengalami perceraian ðŸ˜ķ 


Meski rasanya eneg dengan kata-kata pernikahan, tapi kayaknya nggak ada salahnya kita berusaha mengenal lebih dekat. Sama halnya dengan matematika. Toh, banyak orang benci matematika. Tapi, matematika kan deket banget sama kehidupan kita. Ngitung uang misalnya haha yang ini demen kan? 😜 Karena semakin kita menolak sesuatu, maka kita bakalan semakin jauh dan terjebak di dalamnya. 


Yaaaaa begitulah curhatan kali ini kisanak. Jadi, teruntuk teman-teman yang sudah bosan bin sakit hati ditanya ‘kapan’ oleh lingkungan, semoga nggak serta merta menghindari informasi berbau pernikahan 👀 Biar nggak buta informasi banget gitu.  


Hehe. maaf kali ini rada begimane gitu tulisannya 😆


You May Also Like

2 comments

  1. wah unik juga ya kak, ibuknya minta dibacakan buku karena ingin memberikan kakaknya kak dea yang baru saja merried agar kelak rumah tangganya dihiasi dengan keberkahan dan kebahagiaan

    menikah adalah ibadah yang panjang. Banyak indahnya juga kok menikah hehe...jangan takut menikah bagi yang masih single namun seleksi juga penting supaya bener bener bertemu jodoh yang terbaik, amin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha iya karena kadang yang namanya anak muda kalo dibilangin rada susah ya *termasuk aku ðŸĪĢ

      iyaa banyak bahagianya juga kok. cuma yang namanya manusia selalu jaga-jaga sama hal-hal yang nggak enak, buat antisipasi hihi aamiin

      Delete