Sayonara!

by - August 01, 2021


Akhirnya, hari yang saya tunggu-tunggu pun tiba. Pagi ini saya bangun lebih pagi dan segera bersiap. Saya bahkan membereskan rumah dengan penuh suka cita sambil mendendangkan beberapa lagu kesukaan. Saya masih belum percaya hari seperti ini akhirnya tiba juga. 


Saat menyapu ruang keluarga, saya nggak sengaja melihat ibu duduk di sisi ranjang. Termenung memandang nenek yang tertidur pulas. Saya tahu ini adalah keputusan yang sulit bagi ibu. Saya pun berusaha menyembunyikan kebahagiaan saya agar nggak menyakiti hati ibu. Saya masuk ke kamar nenek dan merangkul ibu. Berusaha menguatkannya seolah ini adalah hal yang wajar terjadi dan bukanlah sebuah dosa besar. 


Selesainya saya mebereskan rumah dan memasak, ibu sedang membantu nenek memakai baju. Ibu telah menyiapkan semua keperluan nenek untuk tinggal di panti werdha. 


“Sya, tolong ambilkan popok nenek di lemari belakang,” kata ibu kepada saya saat masuk ke kamar nenek. 


“Ini mau dibawain semuanya sekalian?” 


“Iya. Ambil semua aja,” saya pun mengambil semua persediaan popok dewasa milik nenek dan memasukkannya ke dalam koper. Saya memperhatikan semua barang bawaan nenek yang sangat banyak. Udah kayak pindahan beneran, kata saya dalam hati.


“Bu, ini semua baju nenek sudah dimasukkan koper?” tanya saya sambil melihat isi lemari yang telah bersih. Saya pun segera menyesalinya setelah bertanya seperti itu. Seharusnya saya lebih bisa menyembunyikan kebahagiaan saya. Ibu pasti nggak mau nenek merasa kekurangan sedikit pun di sana. 


Setelah nenek memakai baju lengkap, saya dan ibu membantu nenek berjalan menuju meja makan. 

“Bu, makan sup dulu ya. Ini Rasya yang masak,” kata ibu mengambilkan makanan untuk nenek dan mulai menyuapinya. 


“Makan yang banyak ya, Nek,” kata saya tersenyum ke arah nenek. “Bu, perlu dibawain makan juga nggak?” 


“Nggak usah, nggak apa-apa. Perjalanannya kan cuma sebentar.”


Sambil menunggu kedatangan kakak, om, dan tante, saya memperhatikan ibu dengan perasaan sedikit bersalah. Ibu menyuapi nenek dengan begitu sabar. Salahkah saya merasa bahagia saat ibu justru merasa sebaliknya? Semenjak tadi, ibu menggenggam tangan nenek yang entah meracau tentang apa. Ibu hanya menanggapi seperlunya sambil berusaha tersenyum. 


Baca juga: Pistol dan Gunting


Bunyi klakson terdengar tepat setelah nenek megunyah makanan terakhir di piringnya. Saya pun bergegas mengambil koper nenek dan memeriksanya ulang. Pakaian, obat-obatan, dan sedikit camilan kesukaan nenek. 


“Assalamualaikum,” terdengar suara kakak memasuki rumah. Saya pun segera mengeluarkan semua barang bawaan nenek dari kamar ke ruang keluarga. 


“Waalaikumsalam. Mas, tolong bantuin dong. Masih banyak di kamar nenek,” Mas Agra pun segera menuju kamar nenek yang dibantu oleh Om Deni.


Nenek sudah duduk di ruang keluarga bersama ibu dan tante Arsi. Mereka menatap nenek dalam dengan penuh kasih sayang. Seolah meminta pengampunan, ibu dan tante seperti merasa bersalah kepada nenek yang masih saja meracau. 


“Arsi, apa baiknya kita batalkan saja penitipan ibu ke panti werdha ini?” tanya ibu kepada tante Arsi dengan mata berkaca-kaca. 


“Mbak, sampeyan kan yang mengusulkan ini karena memang sudah merasa nggak kuat. Sampeyan juga sakit-sakitan belakangan ini. Wis to. Nggak apa-apa. Bismillah aja. Toh, di sana ibu pasti lebih sehat dan bahagia. Banyak temannya pula. Meski aku pun sebenernya nggak rela juga harus nitipin ibu. Tapi kan ini demi kebaikan bersama,” jelas tante Arsi panjang lebar. Ibu pun hanya mengangguk. 


Kami pun memeluk nenek satu per satu. Meminta maaf meski nenek yang menderita alzheimer nggak paham apa yang sedang kami lakukan. Mengingat nama kami pun nenek nggak mampu. Semoga saja nenek nggak merasa dilupakan oleh keluarganya. 


Kami berangkat menuju panti werdha yang akan menjadi tempat tinggal nenek. Tempatnya nggak begitu jauh. Hanya membutuhkan 2 jam perjalanan dari rumah kami. Saya menemukan tempat ini di internet saat ibu meminta saya mencari panti werdha. Panti werdha ini berada jauh dari bising kota ditambah dengan pemandangan alam yang sangat asri. Jangankan nenek. Saya barangkali akan betah juga berada di sana. Bandung sudah terlampau sesak buat saya. 


Tepat pukul 10 kami tiba di tujuan. Saya menghirup napas dalam menikmati udara segar yang sangat jarang bisa saya dapatkan. Ibu dan tante Arsi membantu nenek turun dari mobil dan menuntunnya ke lobby. Saya, kakak, dan Om Deni menurunkan barang bawaan nenek. 


Di lobby kami disambut oleh petugas yang sudah saya kenal, Ibu Dessy. Ia tampak begitu ramah dengan kami, terutama nenek. Melihatnya, saya jadi merasa tenang nenek berada di sini. 


“Halo, Bu Riska,” sapa Bu Dessy pada nenek yang seperti kebingungan melihat tempat yang asing baginya. “Saya Dessy. Kata Mbak Rasya, ibu suka bunga ya? Saya punya kebun bunga luas di belakang. Nanti kita keliling ya.”


“Nitip ibu saya ya, Bu,” kata ibu kepada Bu Dessy. 


Kami pun kembali berpelukan dengan nenek satu per satu. Saya nggak tega melihat ibu mulai berkaca-kaca. Begitu pula dengan Tante Arsi dan Om Deni. Apakah saya perlu turut meneteskan air mata juga? 


Setelah berpisah dengan nenek, kami kembali ke mobil. Kami melihat nenek berjalan bergandengan dengan Bu Dessy semakin menjauh. Mata saya tiba-tiba terasa panas. Tanpa sadar saya sudah meneteskan air mata. Ternyata, meski pun saya nggak menyukai keberadaan nenek di rumah saya cukup sedih juga. Saya nggak bisa membayangkan gimana sedihnya perasaan ibu. Saya pun menoleh memastikan ibu baik-baik saja. Saya terkejut sekilas melihat sudut bibir ibu menyunggingkan senyum.


You May Also Like

0 comments