Kenapa Kusta Disebut Penyakit Kutukan?

by - December 21, 2021

Memperingati Hari Penyandang Disabilitas pada 3 Desember 2021 lalu, Kantor Berita Radio (KBR) dan NLR Indonesia kembali mensosialisasikan pencegahan penyakit kulit kusta. Kali ini diisi oleh narasumber Dr. dr. Sri Linuwih Susetyo, SpKK(K) dan Dulamin selaku Ketua Kelompok Perawatan Diri (KPD) Kec. Astanajapura Cirebon.

Saya mengetahui informasi talkshow ini tentunya dari komunitas blog favorit saya, 1Minggu1Cerita. Menulislah walau #1Minggu1Cerita *ciaattt 😆



Nah, seperti yang sudah pernah saya tulis di postingan lalu, bahwa kusta adalah salah satu penyakit kulit menular yang cukup terabaikan di negara kita. Maka dari itu sosialisasi ini tidak bisa dilakukan hanya sekali dua kali saja. Mengingat banyaknya jumlah penduduk Indonesia.  


Banyaknya stigma yang beredar di masyarakat seperti kusta adalah penyakit kutukan dan keturunan, pun perlu diluruskan untuk membantu masyarakat agar mau memeriksakan diri supaya dapat mencegah terjadinya disabilitas pada penderita. 


Kali ini saya akan merangkum beberapa pertanyaan yang menurut saya penting untuk diketahui. Setidaknya untuk diri sendiri dulu baru nanti bisa disosialisasikan kepada orang lain.


Apa ciri-ciri kusta?



Secara fisik, penyakit kusta memiliki ciri yang hampir sama dengan penyakit kulit lainnya seperti panu. Timbulnya bercak berwarna putih atau merah. Tetapi, yang membedakannya adalah adanya mati rasa pada bagian tersebut.  Hal inilah yang banyak diabaikan masyarakat karena tidak adanya rasa yang mengganggu. 


Baca juga: 8 Tips Solo Traveling Biar Nggak Zonk


Masyarakat kita cenderung mengabaikan sesuatu yang tidak terasa sakit ataupun gatal. Bahkan setelah munculnya bercak putih atau kemerahan, “Ah, nggak sakit kok cuma bercak aja nggak usah ke dokter deh. Dikasih obat kulit  biasa juga ntar sembuh”. Waduh, padahal gejala inilah yang harus diwaspadai untuk dipastikan apakah bercak tersebut kusta atau bukan. 


Bagaimana bisa kusta menyebabkan disabilitas?


Mereka yang mengabaikan bercak tersebut karena tidak terasa gatal seperti penyakit kulit pada umumnya, pada akhirnya acuh dan membuat bakteri kusta semakin banyak dan memperparah keadaan karena semakin menyebar dan menyerang jaringan yang lain.  


Dari penjelasan dr. Sri, bakteri kusta menyerang saraf motorik yang kemudian akan merusak jaringan yang lain hingga menyebabkan kelumpuhan. Terlebih saat bercak berada di bagian tangan, kaki, dan mata. Bagian-bagian inilah yang sangat beresiko mengalami disabilitas. 


Tangan dan kaki yang sulit untuk digerakkan, mata merah, penglihatan yang kabur, atau terjadinya peradangan. 


Berapa lama jeda waktu antara timbulnya bercak hingga terjadi disabilitas?


Mengingat setiap orang memiliki kekebalan tubuh yang berbeda, jeda waktu antara timbul bercak hingga terjadinya disabilitas pun tidak dapat dipastikan. Maka dari itu, dr. Sri menyarankan agar setiap masyarakat yang mengalami bercak putih atau merah yang tidak gatal untuk segera diperiksa ke dokter. 


Apakah orang sehat bisa terserang kusta?


Pertanyaan ini muncul dan tampak menarik. Umumnya, kusta yang dibawa oleh bakteri Mycobacterium leprae ini banyak tinggal di lingkungan yang lembab


Seseorang yang sehat bahkan bersih nyatanya tetap dapat tertular kusta saat ia melakukan kontak langsung dalam jangka waktu lama dengan penderita kusta yang belum diobati


Mereka yang belum menjalani pengobatan sama sekali, cenderung lebih beresiko menularkan kusta karena bakteri di dalam dirinya belum diisolasi oleh obat-obatan. Sedangkan penderita yang sedang menjalani pengobatan, tidak beresiko menularkan kusta karena saat pengobatan bakteri dalam diri penderita sudah ‘tertidur’ hampir 90% dan daya tular pun telah menurun.  


Pengobatan ini harus terus berlanjut hingga 12 bulan (tergantung dengan jenis kusta yang diderita kering atau basah) dan tidak boleh putus sekali saja. dr. Sri juga menjelaskan jika penderita sempat berhenti sekali, maka penderita harus memulai pengobatan dari awal. 


Hal lain yang dikhawatirkan adalah bakteri dapat kebal dengan obat jika penderita sampai berhenti dalam jangka waktu yang lama. Dalam kondisi ini, bakteri akan lebih sulit untuk dibersihkan. 


Bagaimana menghilangkan stigma pada masyarakat?



Sebagai salah satu penderita kusta yang mengalami stigma negatif dari masyarakat, Dulamin mengatakan perlunya dukungan mental pada penderita agar mau berobat dan pulih. 


“Dulu di tempat saya juga sering dengar kata-kata seperti ini, orang kusta harus dijauhi, jangan dekat-dekat, kalau di kasih makanan jangan diterima. Padahal, penderita kan justru butuh dukungan. Kalau orang sakit dibilang begitu ya susah sembuhnya”


Nggak jarang juga penyakit kusta dikaitkan dengan hal-hal mistis atau kutukan. Padahal, penyakit ini disebabkan oleh bakteri dan dapat disembuhkan dengan berobat ke dokter. Terlebih lagi di puskesmas pengobatan kusta gratis


Kurangnya sosialisasi pada masyarakat membuat sebagian orang belum paham sebab dan akibat dari penyakit kusta ini. Diperlukan kerjasama antara masyarakat luas dengan pemerintah untuk perlahan menghapus stigma negatif mengenai penyakit kusta. 


Nah, setelah mengetahui informasi ini saya pribadi jadi lebih menjaga kebersihan diri, tempat tinggal, dan juga mengingatkan orang rumah perihal penyakit kusta ini. Terutama adik saya yang masih kecil. Takutnya di jalan ketemu orang dia udah panik duluan mikir yang nggak-nggak 😅


Saya harap, perlahan tapi pasti informasi ini nggak stop di teman-teman saja. At least, ceritakan ke orang tersayang. Karena jujur saya miris banget dengan stigma yang beredar di masyarakat. Kalau pun kita nggak bisa bantu secara langsung, kita bisa membantu mereka untuk merasa nyaman dengan nggak menghakimi atau memberikan label yang nggak baik 😊


Yuk, cegah disabilitas karena kusta!



You May Also Like

0 comments