Me Time

by - January 08, 2022

 


Pagi ini udara sejuk membelai wajah Rasya saat ia membuka pintu rumah. Ia hirup dalam-dalam udara yang masih bersih nan suci itu sambil menutup mata. Senyum pun mengembang di bibirnya.

 
“Hari ini gue mau ngapain ya?” Tanyanya pada diri sendiri sambil memikirkan beberapa kegiatan. 


Menjadi pekerja kantoran memang melelahkan. Harus bekerja hari Senin hinga Jumat dari pagi hingga malam hari. Belum lagi kalau-kalau ada hal penting yang membuatnya harus masuk di akhir pekan. Wah, sukses lah dia bakalan ngantor dengan raut wajah ditekuk rapat. Me time nya tersita. 


Rasya selalu mendambakan kehidupan yang balance. Bahkan, kalau bisa lebih banyak santainya daripada kerjanya haha. Yakali, kalau mau gitu mah jadi bos aja. Iya, itulah cita-cita terpendam Rasya. Menjadi pemimpin dari perusahaannya sendiri. Tapi, entah kapan akan ia akan merealisasikannya. 


Sabtu ini, ia pun memutuskan untuk memanjakan diri. Punggungnya yang pegal karena terlalu banyak duduk menuntutnya untuk melakukan reservasi di tempat pijat langganan. Jari pun bekerja untuk memesan tempat. 


Ia langsung mengambil kunci dan menuju lokasi yang dihafalnya luar kepala. Rasya menghabiskan waktu 2 jam di tempat yang sukses membuatnya segar kembali itu. Setelahnya, ia memutuskan untuk pergi ke mall untuk makan siang dan sedikit berbelanja. 


“Laper. Hm, makan apa ya?” Rasya melihat sekeliling sambil menimbang-nimbang makanan apa yang diinginkan perutnya. “Sushi aja deh. Udah lama nggak makan sushi”.


Hari ini, ia memutuskan untuk makan sushi. Makanan yang jarang-jarang bisa memasuki lambungnya. Ia pun tak segan memilih menu tanpa memedulikan angka yang tertera. Pokoknya, hari ini gue bakalan lakuin apa pun yang gue pengen. 


Tiga puluh menit berikutnya, Rasya melangkahkan kaki tanpa arah. Ia selalu senang melihat-lihat, window shopping. Ia mampir ke dalam toko yang menjual berbagai kebutuhan sehari-hari dan skincare


“Eh, ada yang baru nih moisturizer nya. Cobain ah” tangannya pun meletakkan produk kecantikan itu ke dalam keranjang. 


Selesai membayar, Rasya kembali berjalan. Kali ini ia memasuki toko yang menjual pakaian olahraga. Mau membeli baju olahraga biar lebih nyaman olahraga katanya. Ia pun memilih setelah training beserta atasannya yang berwarna hitam, warna favoritnya. 


Setelah puas dan bertekad akan rajin berolahraha setiap weekend, ia pun kembali melangkahkan kaki. Kali ini ia berhenti tepat di depan toko perabotan rumah tangga. Cuma mau lihat-lihat, katanya dalam hati. 


Baru saja melangkahkan kaki, Rasya melihat meja kerja yang tampak begitu memikat hatinya. Warna putih, lapang, memiliki laci, dan beberapa rak sekaligus. Secara otomatis ia membayangkan komputernya, buku jurnalnya, dan semua peralatan kerja miliknya tertata rapi di meja itu. 


“Hm, beli nggak ya? Ah, beli aja deh toh meja gue udah butut banget. Lagian, duit juga bisa dicari lagi” katanya memutuskan untuk menggesek kartu ATM miliknya. 


Kali ini ia berjalan dengan hati riang. Membayangkan memulai hari dengan meja barunya membuatnya senang bukan main. Setelah keluar dari toko perabit, kali ini ia berhenti di depan toko tas. 


“Yaampun, tasnya kayaknya enak banget. Mana gede pula. Waranya juga netral. Kayaknya gue butuh deh,” lagi-lagi ia memasuki toko. 


Sebelum mengambil tas di hadapannya, ia teringat akan sesuatu. Rasya pun mengambil ponselnya dan membuka aplikasi. Ia terkejud melihat sisa saldo pada tabungannya. 


“Aduuh, cukup ya, Sya! Cukup! Lo itu bukan orang kaya. Lo tahu sendiri gimana susahnya nyari duit, kan?” Rasya pun memarahi dirinya sendiri dan meninggalkan tas hitam itu. 

Baca juga: Fiksi-Pulang

You May Also Like

6 comments

  1. awalnya aku kira cerita daily nya mba dea, ternyata bukan
    kalau baca ini aku inget sama diri sendiri ahahaha, relate lah dikit dikit
    terus jadi inget sama novel sophia kinsela kalau ga salah, yang shopaholic pokoknya judulnya

    memang ya pekerja kantoran ini godaannya banyak kalau lagi jalan, kudu pinter ngerem sendiri

    ReplyDelete
  2. I can relate sama Rasya, kalau ke mall pasti begini nih saya, mampir sana sini, menclok sana sini, dari yang tadinya nggak butuh jadi merasa butuh padahal cuma lapar mata 😂 Makanya harus pintar kontrol hasrat belanja, kalau nggak bisa begitu bisa bahaya 🤧 Wk.

    Dan selain window shopping di mall, window shopping di Tokped juga sama bahayanya, apalagi jam-jam malam, kelar kerja terus rebahan. Wadaaaw, kalau nggak tarik napas, bisa-bisa semua masuk keranjang check out tuh yang ada 🤣

    Untungnya sekarang saya sudah bisa menahan-nahan, jadi biasa saya hunting terus masukkan ke keranjang tapi nggak saya bayar, saya biarkan dulu lama di sana, paling seminggu kemudian nggak tertarik lagi sama barangnya 🤭 *jadi curhat* *puk-puk Rasya*

    ReplyDelete
  3. Rasya adalah kita!
    Pekerja kantoran Senin sampe Jumat, yang kadang-kadang di tengah malem pun masih ditelpon bos wokwowkk.

    Ini ternyata cuma cerita fiksi ya mbak, atau relate dengan sebagian besar yang terjadi dengan orang-orang kantoran yang kalo ke mall pengen ini pengen itu, tapi sadar duitnya ga banyak :((

    ReplyDelete
  4. kehidupan yang memang terjadi di dunia nyata, haha,, lapar mata, liat-liat barang lucu dan unik, seketika bawaannya bikin mau belanja aja. Tapi, ya harus pinter2 untuk nahan diri, jangan sampai seperti si Raya, ga sadar kalo uang tabungannya abis

    ReplyDelete
  5. Ahahaha kalo lagi jalan-jalan ke mall emang gitu ya... Liat-liat bilangnya cuma liat-liat doang. Eh jadi beli 🤣🤣🤣

    ReplyDelete
  6. Ini aku pas belum nikah 🤣🤣🤣. Belanja ga liat duit. Langsung beli asal suka. Sampe punya prinsip, mending nyesel beli, daripada nyesel ga beli 🤣.

    Tapi skr udah ga laaag. Udah berhasil kontrol napsu belanja. Malah skr kalo suami nawarin, 'udah beli ajaaa, aku yg bayarin', tetep ga mau kalo memang ga butuh 😄. Mikirnya itu kemari jgn sampe kepenuhan. Berantakan jadi ga enak diliat 😅

    ReplyDelete