Travel

FOLLOW US @ INSTAGRAM

Blogger Perempuan
Intellifluence Trusted Blogger

Banner Bloggercrony

Budaya DIY di Negara Maju: Ketika Tukang Profesional Jadi Barang Mewah

Post a Comment
Budaya DIY di Negara Maju: Ketika Tukang Profesional Jadi Barang Mewah

Di banyak negara maju seperti Amerika Serikat, Kanada, Jepang, hingga negara-negara Nordik, memanggil tukang profesional untuk pekerjaan rumah tangga bukan lagi solusi praktis bagi semua orang. 

Bukan karena kualitas tukang yang buruk, melainkan karena biaya jasa yang sangat mahal dan ketersediaan tenaga kerja yang terbatas. 

Kondisi ini secara perlahan membentuk budaya baru: Do It Yourself (DIY) sebagai gaya hidup, bukan sekadar hobi akhir pekan.

Tukang Profesional dan Biaya yang Tidak Masuk Akal

Biaya tukang luar negeri
Di Amerika Serikat, biaya tukang listrik, tukang kayu, atau tukang las bisa mencapai ratusan dolar hanya untuk pekerjaan ringan. 

Belum termasuk biaya inspeksi, pajak, dan asuransi. Hal serupa terjadi di Jepang, di mana standar kerja yang tinggi membuat jasa profesional menjadi eksklusif dan mahal. 

Akibatnya, banyak pemilik rumah memilih belajar sendiri, mulai dari memperbaiki rak, membuat pagar, hingga proyek logam ringan.

Dalam konteks ini, tukang profesional bukan hilang, tetapi berubah menjadi “barang mewah”, dipanggil hanya untuk pekerjaan besar atau berisiko tinggi.

DIY Bukan Asal-asalan, tapi Terstandarisasi

Sarung tangan las listrik
Berbeda dengan anggapan bahwa DIY dilakukan tanpa keahlian, budaya DIY di negara maju justru sangat menekankan standar keselamatan dan presisi. 
Pemerintah dan komunitas menyediakan panduan resmi, kursus singkat, serta sertifikasi dasar untuk pekerjaan tertentu.

Misalnya, pekerjaan pengelasan ringan untuk pagar rumah atau rangka besi kecil tidak dilakukan sembarangan. 

Pengguna DIY diwajibkan memahami prosedur keselamatan, termasuk penggunaan alat pelindung diri seperti helm, apron tahan panas, dan sarung tangan las listrik yang berfungsi melindungi tangan dari panas, percikan api, serta sengatan listrik ringan. 

Bagi mereka, membeli perlengkapan safety bukan pengeluaran tambahan, melainkan investasi jangka panjang.

Peran Marketplace Global dalam Mendukung DIY

Tingginya minat DIY mendorong permintaan alat yang terjangkau namun fungsional. Di sinilah peran marketplace global menjadi sangat signifikan. 

Banyak homeowner di negara maju membeli mesin las mini, perkakas multifungsi, hingga alat keselamatan langsung dari produsen Asia.

China menjadi salah satu pemasok utama alat DIY dunia karena harganya kompetitif dan variasinya luas. 

Tidak sedikit individu maupun komunitas DIY yang terbiasa melakukan transaksi lintas negara, termasuk proses kirim uang ke china untuk pembayaran alat, spare part, atau perlengkapan keselamatan yang tidak tersedia di pasar lokal.

Aktivitas ini sudah menjadi bagian dari ekosistem DIY global, bukan lagi praktik bisnis eksklusif perusahaan besar.

DIY sebagai Respons terhadap Krisis Tenaga Kerja

DIY sebagai Respons terhadap Krisis Tenaga Kerja

Selain faktor biaya, krisis tenaga kerja juga mempercepat pergeseran ini. Banyak negara maju mengalami kekurangan pekerja di sektor pertukangan akibat penuaan populasi dan minimnya regenerasi. 

Generasi muda cenderung memilih sektor teknologi atau jasa profesional lain, sehingga profesi tukang semakin langka.

DIY kemudian hadir sebagai solusi rasional. Dengan bantuan tutorial digital, forum komunitas, dan alat yang semakin user-friendly, pekerjaan yang dulu hanya bisa dilakukan tukang kini dapat dikerjakan pemilik rumah dengan hasil yang layak dan aman.

Dampak Sosial dan Ekonomi dari Budaya DIY

Budaya DIY membawa dampak yang cukup luas. Di satu sisi, industri jasa pertukangan harus beradaptasi dengan menawarkan layanan premium atau spesialis. 

Di sisi lain, industri alat dan perlengkapan keselamatan justru berkembang pesat. 

Produk seperti alat las rumahan, sistem modular, hingga sarung tangan las listrik mengalami peningkatan permintaan karena digunakan langsung oleh konsumen akhir, bukan hanya profesional.

Selain itu, keterbukaan akses global membuat rantai pasok alat semakin pendek. 

Konsumen tidak lagi bergantung sepenuhnya pada distributor lokal, melainkan bisa bertransaksi langsung dengan produsen luar negeri melalui sistem pembayaran internasional.

Apakah DIY Akan Menggantikan Tukang Sepenuhnya?

Apakah DIY Akan Menggantikan Tukang Sepenuhnya?
Jawabannya tidak. Tukang profesional tetap dibutuhkan untuk proyek besar, kompleks, dan berisiko tinggi. 

Namun, porsi pekerjaan kecil hingga menengah jelas bergeser ke tangan pemilik rumah. 

Di negara maju, DIY bukan sekadar cara menghemat uang, tetapi simbol kemandirian, efisiensi, dan kontrol terhadap kualitas pekerjaan sendiri.

Fenomena ini juga memberi gambaran ke mana arah industri properti dan home improvement global bergerak: menuju ekosistem yang lebih mandiri, teredukasi, dan terkoneksi lintas negara.
deamerina
Halo, aku Dea! Perempuan yang tinggal di Surabaya yang suka jalan-jalan, fotografi, menulis, dan baca buku. Aku suka menulis di sini sebagai sarana curhat dan berbagi. Yuk, temenan di Instagram @deamerina

Related Posts

Post a Comment