Review Buku : Sheila. Luka Hati Seorang Gadis Kecil

by - June 07, 2018





Judul : Sheila. Luka Hati Seorang Gadis Kecil 
Halaman : 475 halaman 
Penulis : Torey Hayden 

Buku ini menceritakan mengenai seorang anak perempuan berusia 6,5 tahun yang cantik dan sangat pintar. Tapi, sayangnya dia mengalami gangguan emosional. Sering banget bikin ulah sampai-sampai jadi perhatian dinas sosial. Nggak Cuma sekali dua kali aja dia berulah. Sebentar aja dia nggak diawasi, pasti ada aja keributan yang ditimbulkan gadis kecil ini.

Kejadian luar biasa yang terakhir dia lakukan adalah menculik seorang anak laki-laki berusia 4 tahun, mengikatnya di pohon, dan membakarnya. Untungnya, nggak sampai meninggal. Kejadian itu bikin Sheila tenar seketika. Dan dianggap terror bagi para orang tua. Alhasil, dia pun di keluarkan dari sekolahnya dan dinas sosial berencana memasukkannya ke rumah sakit negara (sejenis rumah sakit jiwa). Tapi berhubung rumah sakit negara penuh, dia di tempatkan untuk sementara di sekolah luar biasa tempat Torey Hayden mengabdi hingga ada tempat yang tersedia di rumah sakit negara. Iya, ini based on true story emang. Di sekolah ini, bisa dibilang Sheila lah satu-satunya murid yang ‘normal’.
Bagi Torey, Sheila adalah anak yang mudah untuk disayangi. Gimana nggak, dia cantik dan pintar. Berulang kali Torey dan Allan (psikiater teman Torey) mengetes IQ Sheila. Dan hasilnya sangat amat mengejutkan. Ia memiliki IQ genius.

Berada di sekolah luar biasa nggak membuat Sheila jera. Ia juga sempat memporak porandakan ruang kelas guru lain. Hingga membuat kepala sekolah jengah dan ingin sesegera mungkin memindahkannya ke rumah sakit negara. Mr Collins tak dapat menahan diri untuk tidak mencambuknya. Hingga membuat Torey mau tak mau berlutut menyaksikan Sheila dicambuk didepan matanya.

Sheila bertingkah laku begitu bukan tanpa alasan. Ibunya mendorongnya dari mobil dan meninggalkannya dijalan raya saat berusia 4 tahun. Setelah kejadian itu Sheila tinggal bersama ayahnya yang pemabuk. Ayahnya seringkali memukuli Sheila saat dia berbuat salah. Tapi toh ayahnya sayang juga sama dia. Menyanyangi dengan cara yang salah bagiku. Bisa dibilang ayahnya juga stres karna ditinggal istrinya dan anak keduanya. kehidupan keluarga Sheila sangat amat pas-pasan. Hmm bahkan memprihatinkan. Mereka tinggal di gubuk kecil di perkampungan migran. 

Yang bikin emosianal pas baca novel ini adalah, Sheila pernah mengalami sexual harassment dengan pamannya sebagai pelaku. Sangat amat nggak habis pikir sebenernya. Gimana bisa ada seorang paman yang tega melakukan hal bejat semacam itu dengan keponakannya? Bahkan menggunakan pisau hingga membuat Sheila berdarah-darah. Untungnya Torey langsung tahu karena melihat Sheila tiba disekolah dengan gelagat yang aneh. Ia tak menggunakan gaun kesayangannya, melainkan kaos terusannya yang usang. Wajahnya pucat dan ia menjadi pendiam seketika. Berkali-kali pergi ke kamar mandi membuat Torey penasaran. Mungkin ia sakit. Tetapi betapa terkejutnya Torey melihat Sheila berdarah. Torey langsung membawanya ke rumah sakit dan melaporkan kejadian itu. Dan saat itu juga Pamannya masuk penjara lagi. 

Overall, buku ini bagus banget nget nget. Sangat emosional waktu baca. Karna emang ceritanya menyayat sekali. Nggak bisa bayangin gimana rasanya jadi Sheila. Tekanan batin yang dia alami nggak main-main. Ditelantarin ibunya, dipukuli ayahnya. Nggak heran kalo dia jadi nggak gampang percaya sama orang. Semua kejadian membawa hikmah tersendiri. Ia tumbuh menjadi gadis yang kuat. Nggak cengeng. Bahkan dia nggak pernah menangis sama sekali, baginya menangis menurunkan harga dirinya.

Tetapi, semenjak ketemu Torey, dia jadi lebih hidup. Karena Torey mengajar dengan hati. Torey membuat Sheila merasakan kasih sayang yang ia dambakan selama ini. Tidak seperti guru-guru Sheila yang lain yang hanya mengajar demi profesi. Tetapi, justru karena dengan hati ini membuat Torey dan Sheila sama-sama sulit saat berpisah. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari buku ini. Bagaimana menganggap mereka (anak-anak dengan gangguan mental) tidak gila, mereka sama seperti anak kebanyakan. Hanya saja mengalami sedikit gangguan. Dan sedihnya gangguan itu disebabkan oleh orang sekitarnya. Karena kebanyakan dari mereka mengalami trauma semasa kecil.  Banyak orang yang nggak bisa punya anak dan berharap punya anak. Tetapi, banyak juga mereka yang punya anak malah menyianyiakan anak mereka. Aku harap nggak ada sheila-sheila yang lainnya. Aamiin.



You May Also Like

0 comments