Hening

by - January 27, 2019




Malam ini aku sedang duduk tenang ditempat favoritku. Aku ingin berbagi denganmu sedikit mengenai apa yang aku rasakan. Hari ini aku memutuskan untuk meletakkan hatiku sejenak. Kukeluarkan pula  pikiranku dari bingkainya. Membebaskan ia merenggangkan ototnya yang kaku. Memberikan ia oksigen setelah sepekan penuh, bahkan lebih, berkutat dengan banyak hal tanpa henti. Sempat ia mengeluh tertahan meronta untuk beristirahat sejenak kemarin. Kukatakan, sebentar lagi. Ia pun mengesampingkan lelahnya dan kembali lagi dengan banyak hal.  

Seorang diri dalam sekumpulan benda mati. Seakaan aku memonopoli posisiku di dalam ruangan 4x4 ini. Kupejamkan kedua mataku. Ada yang bilang, adakalanya mata kita berhenti beraktifitas. Tidak dengan telinga kita yang selalu siaga 24 jam. Bukankah kamu pernah terbangun karena mendengar keributan di luar kamarmu? Bukannya saat itu matamu terpejam? Lantas apa yang membuatmu terbangun? Telingamu. Ia tak pernah tidur. Pun kamu menutup telingamu, ia masih akan mampu memberikanmu informasi. Aku berusaha mendengarkan suara-suara disekelilingku. Malam ini begitu senyap sampai-sampai aku mampu mendengarkan suara televisi tetangga. Bukannya ini sinetron yang sedang digandrungi masyarakat kini? Yang pemainnya lelaki muda dengan paras rupawan itukan? Aku berpindah fokus. Terdengar suara air keran kamar mandi yang penuh. Siapa sih yang tadi memakai kamar mandinya? Selalu saja tidak ditutup lagi keran airnya. Pada nggak tau apa air bersih lagi langkah. Gerutuku pada diri sendiri. Kemudian aku berpindah pada suara getaran ponsel penghuni kos di lantai atas. Kayaknya hpnya Mbak Irma deh. Soalnya kedengerannya dikamar atasku persis. Pasti telpon dari Mas Rahman deh.

Asik mendengarkan lingkunganku, aku melupakan satu hal. Mengapa aku tak bisa mendengarkan suara hatiku sendiri?

You May Also Like

0 comments