Penerbangan Terakhir

by - November 09, 2020

 


Senang sekali rasanya memegang buku karya milik sendiri. Meski gabungan dengan penulis lain, tetep aja happy hehe. Ini salah satu karya cerpen saya yang di bukukan dengan penulis kece lainnya. Selamat menikmati 😊

Read: Pengalaman Freelance di Projects.co.id

**

Langit di luar sudah gelap. Rasya memandang ke luar jendela pesawat di sebelahnya. Ia selalu menyukai duduk di pinggir jendela untuk menikmati pemandangan yang menakjubkan. Tuhan begitu kreatif menciptakan bumi ini, begitu pikirnya di beberapa waktu. 


Hari ini, hari yang tak pernah disangka olehnya. Ia kembali ke kota kelahirannya setelah sekian lama. Pertama kali ia meninggalkan kota ini 3 tahun lalu, ia bertekad apa pun yang terjadi, ia tak akan menginjakkan kakinya lagi di kota ini. Tapi, nyatanya keadaan tak mengijinkannya berikrar demikian. Rasya melirik pergelangan tangannya, sudah memasuki waktu salat isya. 


Setelah pesawat berhenti dengan sempurna, Rasya dan para penumpang turun bergantian. Rasya menghirup udara kota yang perlahan mulai dingin dan pengap khas perkotaan. Ia berjalan perlahan memasuki gedung terminal untuk mengambil bagasi. Kepalanya dipenuhi berjuta skenario hal yang akan dilakukanya selama beberapa hari di sini. Ia tak ingin berlama-lama. Ia harus segera menyelesaikan segala urusannya dan pergi lagi. Hatinya terasa ngilu saat membayangkan wajah seseorang.  


Rasya terdiam di pintu keluar bandara. Memandang beberapa orang yang mungkin sedang menunggu sanak saudaranya tiba. Ia memperhatikan wajah mereka satu per satu. Ia tahu, di antara mereka tak akan ada keluarganya atau pun temannya. Karena memang ia tak memberi tahu siapa pun atas kepulangannya. Ia hanya penasaran, jika ia memberi tahu keluarganya, apakah mereka akan ada di antara kerumunan di hadapannya? 


“Taksi, Mbak?” tawar seorang supir taksi yang membuyarkan lamunannya. 

“Oh, iya, Pak,” supir taksi tersebut pun dengan sigap mengambil koper Rasya dan menunjukkan jalan menuju taksinya. 

“Mau ke mana, Mbak?” 

“Ke peruma… eh, Hotel Bumi aja, Pak,” dalam sekejap ia memutuskan untuk menginap di hotel. Ia tak ingin tinggal di rumah itu lebih lama. 


Keesokan paginya, setelah sarapan Rasya memantapkan hati untuk mendatangi rumah itu. Bagaimana pun ia harus segera menyelesaikan semua urusannya di Kota Pahlawan ini. 


“Rasya?” sapa seseorang saat Rasya sedang menunggu taksi di lobby hotel.

“Panca?” Rasya begitu terkejut bertemu lelaki di hadapannya. Panca tidak banyak berubah. Hanya saja ia terlihat lebih dewasa dan hal itu membuat hatinya seolah merasakan hal yang sama lagi. 


Sayangnya, obrolan mereka terputus oleh kehadiran taksi yang dipesan Rasya telah tiba. Baiklah, setidaknya Panca meminta nomornya. Selama ini ternyata lelaki itu berusaha menghubunginya lewat media sosial dan tak kunjung mendapat jawaban. Tentu, Rasya sudah berhenti menggunakan media sosial apa pun. Ia lebih menyukai pertemuan nyata daripada berhadapan dengan layar ponsel. 


Setidaknya kehadiran Panca di kota ini sedikit menghiibur hati Rasya hingga ia melihat pagar rumah berwarna hitam di sampingnya. Baiklah Rasya segera selesaikan ini semua dan pergi, katanya pada diri sendiri. 


Rasya berdiri tepat di depan pagar hitam itu. Terlintas beberapa kisah lalu di benaknya beberapa saat hingga ia memutuskan untuk membunyikan bel. Seorang wanita paruh baya keluar dan membukakan pintu pagar untuknya. 


“Ma,” sapa Rasya terlebih dahulu. 

“Ya ampun, Rasya! Kamu kok nggak bilang kalau pulang. Ayo masuk,” ajak wanita itu menggandeng tangan anak perempuannya satu-satunya. “Kamu nggak bawa tas?” tanyanya setelah memperhatikan anaknya.

“Aku nginep di hotel, Ma. Fasilitas kantor. Oh iya, ini Rasya bawa oleh-oleh khas Jakarta,” Rasya menyerahkan bungkusan yang dibawanya. 

“Lho, kenapa nggak nginep di rumah aja? Wong kamu punya rumah di sini”


Rasya berbincang dengan keluarganya. Semuanya ada di rumah itu. Ibu, kakak, adik, dan neneknya. Semuanya masih terlihat sama. Hanya hatinya yang berubah menjadi semakin gelap dan keras. Setelah berbasa-basi secukupnya, ia mengutarakan tujuannya datang ke kota ini. 



“Ma, Rasya dapat beasiswa dari kator buat kuliah di London. Jadi, Rasya mau minta izin sama mama. Berangkatnya sih 2 minggu lagi, tapi banyak yang harus Rasya urus di Jakarta jadi nggak bisa lama-lama di sini,” akhirnya meluncur kata-kata tersebut yang membuat raut wajah ibunya berubah sedih. 

Dari kecil, Rasya selalu ingin membahagiakan orang tuanya, terutama ibunya setelah banyak hal dilaluinya. Tetapi, semua itu berubah sebelum ia berangkat ke Jakarta untuk merantau. Kejadian demi kejadian yang membuat batinnya lelah dan tersiksa hingga rumah tak lagi terasa seperti seharusnya. Ia tak pernah berkeinginan menjadi anak yang durhaka. Tetapi, keadaan memaksanya demikian. Ah, sudahlah. Toh, sekeras apa pun ia berjuang rasanya percuma kalau ia berjuang sendirian. Keluarganya tak pernah menghargai perjuangannya sedikit pun. Hingga pada akhirnya ia pun memutuskan untuk tidak peduli. 


Dalam perjalanan kembali ke hotel, ia merasa lega telah meminta ijin. Meskipun ia bahkan tak mendapatkan ijin dari ibunya, ia tetap akan pergi. Ia tak peduli. Ini hanyalah sebuah formalitas. 


“Sya, ini Panca. Kalau ada waktu, ketemu yuk,” Rasya tersenyum membaca pesan singkat Panca. Mereka bertemu sore harinya di salah satu mall. Meski sudah berumur 28 tahun, sikap mereka berdua masihlah seperti remaja. 


Tak terasa, mereka menghabiskan waktu sampai mall tutup. Rasya selalu menyukai waktu yang ia habiskan dengan Panca. Ia sangat perhatian dan pendengar yang baik. Ia juga lelaki yang sangat sopan dan menghargai wanita. Bagaimana mungkin Rasya tidak jatuh hati pada lelaki seperti itu? Bahkan untuk menemukannya di belahan dunia yang lain pun rasanya cukup mustahil. Ia sudah terlanjur jatuh sedalam-dalamnya, 


“Kamu hati-hati ya di sana. Jangan lupa kabari aku,” kata-kata terakhir Panca saat mengantar Rasya ke bandara untuk kembali ke Jakarta. Ia bahkan rela menukar tiket kepulangannya demi menghabiskan waktu bersama Panca sehari lagi. Sayangnya tidak bisa lebih dari itu. Meski Rasya begitu ingin. 


Rasya langsung berjalan menuju kedai kopi begitu memasuki area tunggu. Segelas kopi dingin akan menambah bahagianya hari ini. Setelahnya ia mampir untuk melihat-lihat buku terbaru Johnny Green. Ia membelinya tanpa berpikir dua kali. Ia pun duduk di area tunggu dan membaca bukunya dengan khidmat. 


Hingga tibalah saat pesawat dengan tujuan Jakarta disebut, Rasya beranjak dan bersiap. Ponselnya tiba-tiba berdering. Panca. Tak sempat ia mengangkat teleponnya, ponselnya berhenti berdering. Selanjutnya, pesan singkat dari Panca.


“Sya, kamu yang kuat ya. Mama kamu masuk rumah sakit barusan,” Rasya membacanya dengan ekspresi datar dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas tanpa membalasnya. “Sya, mama udah nggak ada,” lanjut Panca. Rasya membacanya sekilas dan tersenyum berjalan memasuki antrian ke dalam pesawat. 


***

P.S: Saya baru bikin wattpad nih hihi. Barangkali mau berkunjung klik di sini ya 

You May Also Like

4 comments

  1. Yaaaay! 😍

    Selamat mba Dea untuk kelahiran buku antologinya. Semoga semakin banyak karya-karya yang mba Dea hasilkan ke depannya 🥳

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe najasih mbak Eno :) aamiin deehh. yuk bikin bareng keknya seruuu sama temen-temen yang lain hihih

      Delete
  2. Waaaah keren banget Mba udah berhasil nerbitin buku meskipun rame tetep aja keren!
    Btw, ini cerpennya udah tamat atau emang dibuat gantung? Aku penasaran Mbaaaa setelah baca hahaha 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe makasih udah baca mbak Tika ❣️
      kalo verso cerpennya udah kelar mbak.
      tapi kalo versi full masih ngedon di draft nih hehehe
      doakan yaaaww

      Delete