Magisnya Malam

by - April 25, 2018

Baru saja aku menginjakkan kaki di gedung favoritku. Aku rasa, baru pula bercengkerama dengan seorang teman. Teman lama? Ah tidak. Kami hanya terpisah ruang dan waktu beberapa bulan terakhir. Bertemu dengannya malam ini membuat aku yang sejatinya rindu akan obrolan nostalgia begitu bersemangat. Hingga lupa apa tujuanku kemari beberapa jam lalu. Mengerjakan modul pun kembali tertunda. Tak apa. Toh, jauh lebih berharga pertemuan singkat kami. Yang entah kapan bisa terulang kembali. Karna yang kutahu, moment itu sangat terasa berharga saat hanya terjadi satu kali.

Percapakan dimulai seperti percakapan pada umumnya. Apa kabar? Saling bertanya kabar dan bertukar cerita kegiatan masing-masing. Dia dengan kesibukan barunya dan aku dengan kesibukanku. Masing-masing memiliki kisahnya yang menarik untuk dibagi. Mendeskripsikan bagaimana hidup kami sekarang. Perbincangan lumrah pun mengalir begitu mudahnya. Mulai dari kesibukan sehari-hari hingga menjerumus ke hal yang lebih dalam. Mengenai rasa dan asa. Masing-masing pula mempunyai rencananya sendiri-sendiri. Rencana indah beberapa tahun kedepan terlontarkan begitu optimis. Bersemangat untuk menggapainya. Maklum, baru menjajaki dunia baru. Yang sudah terlambat, bagiku sih tetapi tidak baginya. Saling mendoakan dan mengamini. Berharap suatu saat nanti apa yang terucap akan terjadi. Melihat teman menjalani hidup yang diinginkannya bukannya hal yang membahagiakan? Begitupula dengan kehidupan sendiri. Tak terasa pembahasan pun mulai mengarah pada hal-hal yang bersifat kedewasaan. Kapan menikah? Nah lho? Pertanyaan yang kerap mampir ke telingaku. Yang hanya mampu aku jawab dengan senyuman dan memohon doa. Begitupula dengannya. Diusia kami, memang banyak yang memutuskan untuk menikah muda. Tidakkah mereka berpikir efeknya kepada kami yang baru melihat dunia? Haha tidak, aku tidak marah. Toh setiap manusia mempunyai rencana dan takdir berbeda-beda. Manusia boleh berencana, tetapi hanya Allah yang mampu menggariskan.

Hingga tak terasa malam ternyata sudah semakin larut. Dua jam yang sangat singkat untuk saling bertukar cerita tetapi cukup menyenangkan. Aku mengeluh kepada langit malam. Mengapa waktu begitu cepat berlalu?

You May Also Like

0 comments