Hati Baru

by - June 19, 2018



Moment lebaran emang salah satu moment yang paling menyenangkan. Kita bisa kumpul saama semua keluarga besar yang ada. Bertemu dengan mereka yang jarang sekali kita temui. Om, tante keponakan, termasuk saudara kandung semdiri yang studi di luar kota atau bahkan luar negeri misalnya. Setahun sekali melewati kebersamaan.

Kalo kebiasaan di keluargaku, kita kumpul di satu rumah. Rumah sesepuh. Jadi nggak keliling dari rumah satu ke rumah yang lainnya. Dan ini menurutku emang lebih enak daripada harus keliling hehe. Disisi yang lain, setauku semakin jauh jarak yang kita tempuh untuk berkunjung itu merupakan pahala tersendiri di bulan syawal (wallahualam).

Lebaran merupakan salah satu moment sakral tahunan umat muslim selain menikah (lho?). lebaran identik dengan kebahagiaan hati baru dan saling memaafkan. Aku rasa nggak semua orang bisa langsung mendapatkan hati yang baru di hari pertama lebaran. Antri kali ya hehe. Bisa jadi hari kedua atau ketiga atau bahkan seminggu setelahnya. Karena toh kita butuh waktu buat flashback kehidupan kita ke belakang. Dan bener-bener merenunginya lantas berusaha berdamai dengan orang sekitar beserta keadaan yang ada.

Memaafkan memang bukan hal yang mudah. Termasuk memaafkan diri sendiri. Kecerobohan-kecerobohan selama satu tahun kebelakang atau lebih terhadap orang lain kerap menghampiri. Penyesalan memang selalu datang terlambat bukan? Bahkan bisa jadi penyesalan baru bisa dimaafkan beberapa tahun setelahnya. Memang tidak mudah. Itu semua membutuhkan proses.

Makin lama, aku rasa untuk melewati lebaran dengan sepenuh hati merupakan hal yang sulit. Karena, ya makin banyak hal yang kita lalui. Makin banyak dosa yang kita perbuat dengan orang lain. Dan untuk menyadari kesalahan itu butuh hidayah extra hehe.  Belum lagi terkadang ego yang membumbung semakin tinggi beriringan dengan bertambhanya usia. Seperti serasa enggan untuk meminta maaf terlebih dahulu. Lagi-lagi ini memang bukan hal yang mudah. Menjadi orang pertama yang meminta maaf terlebih dahulu meskipun kita tidak bersalah. Walaupun pasti rasanya lega saat berjabat tangan dan mengatakan maaf. Sebesar apa keberanianmu untuk berlaku demikian?

Kata maaf juga bukan angin lalu belaka. Mengucapkannya juga perlu hati yang ikhlas. Jika tidak, itu akan terdengar seperti basa-basi saja. Semakin kesini aku juga semakin sadar. Bahwa mengirimkan pesan maaf tidak perlu kesemua orang yang ada di kontak kita. Cukup mereka yang intens aku hubungi atau yang aku ingat aku ada salah dengan mereka. Bagiku sih hehe. Toh buat apa aku mengirimkan pesan kepada orang yang beberapa tahun tdk pernah aku hubungi. Sepuluh tahun misalnya. Beda lagi kalo niatnya untuk menjalin silahturahmi ya hehe. 

Jadi, sudah plong belum hatinya?

You May Also Like

0 comments