Sebuah Pertemuan

by - July 07, 2019


“Hmmm, apalagi ya? Ini udah, ini udah, ini udah, kayaknya udah semua. Oh ya, baju ganti,” kataku segera membuka lemari pakaian dan mengambil beberapa pakaian bersih. “Oke udah semua,” aku pun keluar kamar dan berpamitan dengan Mama.

 “Kamu naik apa, Mbak?” tanya mama yang sedang membersihkan kamar.

“Gojek aja, Ma,” ujarku sambal memesan ojek online.

“Yaudah, hati-hati ya,” 

“Assalamualaikum,” aku pun mencium tangan mama dan pergi.

“Waalaikumsalam”

**

Setibanya di terminal Bungurasih, aku berjalan santai menuju ke dalam terminal. Aku sudah mulai terbiasa dengan terminal ini. Sekarang terminal ini sudah tampak bagus. Kinerja Ibu Walikota memang tidak diragukan lagi. Dalam beberapa tahun menjabat saja beliau sudah banyak melakukan perbaikan di kota ini. Sebuah kemajuan untuk pelayanan publik. Aku menyusuri lorong melewati barisan penjual makanan dan berbelok ke kiri memasuki ruangan serba putih berjalan menuju eskalator naik. Aku teringat beberapa hari lalu membeli kudapan di penjual dekat eskalator ini. Sungguh mahal bukan main harganya. Aku tak akan mengulanginya lagi.

Saat menginjak lantai 2 aku berjalan ke arah kanan dan berbelok ke arah kiri menyusuri lorong. Hari ini tidak begitu banyak orang berpergian. Maklum, bukan hari libur atau akhir pekan.

“Kediri! Tulungagung!” Para calo yang nampak akan haus mangsa berlomba-lomba menawarkan tujuan bus mereka.

“Malang! Blitar! Langsung, langsung!” teriak salah seorang supir bus. Aku pun berbelok dan menuruni tangga berplakat nomor 7 ini. 

“Malang, Mbak?” aku mengangguk dan mengikutinya ke bus. “Woy, Mbak e Malang!” teriaknya pada temannya dibawah. Aku masuk ke dalam bus dan mencari kursi kosong yang berada di tepi jendela. 

“Oke, bus, mari kita mulai perjalanan lagi. Harus sabar,” aku menghela nafas dalam-dalam menenangkan diri. Sepuluh menit kemudian bus berangkat.

Selama perjalanan aku asyik melihat ke luar jendela. Kapan lagi bisa mengamati perkembangan kota ini dengan tenang. Toh, biasanya aku menjadi pengemudi bukan penumpang. Dinding beton mulai tumbuh subur menjulang di kota ini. Aku bahkan kesulitan menemukan lahan kosong di pinggir jalan. Sampai setinggi apa bangunan ini nanti? Berapa lama bumi bisa bertahan memikul beban ketamakan manusia di sini? Entahlah. Tidak akan ada yang tahu aku rasa.
         
Semenjak ruas jalan tol Pandaan-Malang jadi, bus lebih memikat hatiku. Selain karena fleksibel, pada akhirnya jauh lebih cepat naik bus ke Malang. Terima kasih kepada bapak presiden yang sudah membenahi pembangunan Indonesia. Tanpa adanya tol baru ini, mungkin aku akan masih terjebak dalam macet yang disebabkan oleh Pasar SIngosari. Aku pernah terjebak macet hingga 1 jam disana. Sungguh melelahkan. Tak apa, yang penting sekarang sudah tak begitu lagi.
            
Pemandangan bangunan beton sudah berganti hamparan sawah. Beberapa petani nampak sedang bekerja dengan cangkulnya. Dari kejauhan nampak sesosok anak kecil berlarian dengan temannya. Mungkin sudah sangat menyenangkan bagi mereka hidup seperti itu. Mereka bahkan tak pernah menuntut lebih. Seandainya seluruh penghuni pencakar langit menganut paham yang sama dengan anak-anak itu. Aku pun hanya tertawa kecil membayangkannya.

Setelah satu jam setengah, tibalah aku di tujuanku. Saat tujuanku disebutkan aku bersiap untuk turun. Ikut mengantri dengan yang lain menuju pintu bus. Bus berhenti sempurna di depan mini market. Kami turun satu per satu. Hal pertama kali yang aku lakukan adalah emnghirup udara segar ini dalam-dalam sambil memejamkan mata. Segar sekali.

“Sya” seseorang memanggil namaku dan membutaku terkejut bukan main saat melihat wajahnya.

You May Also Like

0 comments