Review Film: Midsommar, Horror yang kejadian di Siang Bolong!

by - June 05, 2020


Biasanya kalo denger kata film horror pasti kita bayangin full scene di malam hari. Trus bakalan nyiapin diri untuk dikagetin dengan penampakan yang muncul tiba-tiba seenak jidat full screen. Dan yang paling mendukung lagi adalah sound yang sangat amat mengagetkan jiwa raga ini. Heuh. Tapiii, itu semua nggak berlaku untuk film yang satu ini.

Film bergenre horror yang akhirnya tayang pada bulan September 2019 ini awalnya sempet gagal tayang di Indonesia karena kesadisannya yang sungguh blak-blakan. Hingga akhirnya berhasil tayang tetapi khusus untuk usia 21 tahun keatas. Saya yang kebetulan nggak begitu tertarik dengan film ini, akhirnya kemarin pun nonton aja untuk membunuh rasa yang telah lama hilang (eh?).  


Break the stereotypes

Awal nonton udah nyiapin batin dengan berbagai macam stereotype modelan film horror pada umunya. Tapi, saya salah total. Karenaa yaaa saya juga nggak liat trailernya dulu sih hehe. Jadi langsung aja gitu nonton. Nggak ada scene malam hari. Nggak ada sosok yang tiba-tiba muncul on point di layar. Nggak ada pula backsound yang bikin merinding. Karena semua adegan di film ini dilakukan di siang hari. Alias saat semua sedang terang benderang!

Tone warnanya juga cerah bangeet gengs. Penuh dengan bunga pula. Terlebih lagi setting tempatnya itu bagus bangeeeeettt. Penuh dengan perbukitan yang memanjakan mata. Serba hijaauu. Yaampun saya sampe nggak habis pikir. Meskipun begitu tetep aja merinding disko. Beberapa adegan sadis terpampang nyata di layar. Mulai dari adegan terjun dari tebing, kepala yang dihancurin pake palu, pembakaran mayat, dsb. Bayangin film ini bikin saya mual jadinya.

Selain visual, audionya juga sangat amat tenang. Bener-bener nggak ada teriakan ataupun efek ‘jeng-jeng’ macam itulah. Midsommar emang cocok banget deh dilebelin film horror yang berkelas. Bisa bikin film yang berbeda dengan tetap menampilakan kengerian. Meski saya bukan penggemar film horror tapi saya salut sama Ari Aster ini asliii keren bangeeet. Buat kalian yang pengen nonoton film horror tanpa ada penampakannya, ini rekomen banget heuheu.

 

Pengorbanan

Kalo dimasukin ke genre horror, mungkin lebih ke thriller kali ya. Karena film ini lebih mengusung tradisi sadis sebuah desa di Swedia. Fyi, padahal ini setting lokasinya di Hungaria. Salah satu tradisi yang menurut saya aneh adalah saat sepasang sesepuh terjun dari tebing dan disaksikan oleh seluruh masyarakat. Jangan ditanya masyarakatnya nyegah atau nggak karena itu adalah bagian dari ritual.

Yap. Waktu salah satu pendatang nanya kenapa ada ritual seperti itu, jawaban salah satu masyrakatnya adalah karena itu adalah siklus dari kehidupan. Mereka yang sudah tua daripada sengsara karena sekarat( (sendirian di usia lanjut), akan lebih baik kalo mereka bunuh diri dengan terjun dari tebing hingga mati seketika. Dan kalopun nggak langsung meninggal, mereka berhak membunuhnya. Dengan cara memukulkan palu. Hmm, gimana menurutmu?

Padahal saya sih bayanginnya bakalan enak aja gitu menghabiskan masa tua di desa dengan pemandnagan yang sangat menyegarkan. Tapii, kenapa malah disuruh bunuh diri? Terus, mereka yang meninggal dengan cara itu katanya bakalan bisa ngerasa lebih tenang. Lha?

 

Mabuk, Dansa, Cinta

Di film ini di tunjukkan kalo setiap kali ada ritual, mereka pasti ‘minum’. Awal Dani dan teman-temannya dateng juga mereka disuguhi teh jamur yang bikin mereka berhalusinasi.

Di desa ini mereka memiliki tradisi Tarian Maypole. Sebelum memulai tarian, lagi-lagi mereka harus minum. Dalam kondisi setengah sadar para perempuan harus menari mengelilingi tiang dengan bergandengan tangan. Mereka diwajibkan menari hingga mereka tak sanggup lagi alias terjatuh. Perepuan yang mampu bertahan hingga akhir akan menjadi ratu selanjutnya.

Selain itu, ada hal lain yang menurut saya pribadi ini cukup mengganggu. Mantra cinta. Menruut kepercayaan mereka, kalo ada perempuan yang suka sama seorang laki-laki dan laki-laki itu makan rambut kemaluan perempuan tersebut, ia bakalan bertekuk lutut. Iyuh. Ini jijik banget sih sebenernya. Makanya film ini Cuma boleh ditonton sama orang dewasa 21 tahun keatas.

Christian, pacar Dani, menemukan helai rambut kemaluan di pie yang di makan waktu jamuan makan bersama. Hal ini ternyata juga merupakan kepercayaan di beberapa daerah. Termasuk Indonesia. Malahan ada yang bilang kalo minum (maaf) darah haid bakalan bertekuk lutut juga.

Over all film ini sih cukup bagus. Meski saya pribadi nggak begitu suka karena terlalu sadis huhu. Mungkin cocok buat kalian yang betah liat darah dan kengerian manusia lainnya. Durasinya cukup lama, 2 jam. Setelah nonton film ini saya dan ibu saya jadi rada pusing gitu. Karena kelamaan kali ya tegangnya.

Sekiyaaannn~


You May Also Like

0 comments